Sosbudpar

Kakak Adik Yatim Piatu, Bertekad Tetap Sekolah


 PROBOLINGGO – Dalam sekejap, empat anak menjadi yatim piatu. Inilah yang terjadi pada Alfin Dafa Firmansyah dan tiga adiknya. Setelah bapaknya meninggal dunia lima bulan lalu, ibunya menyusul tutup usia. Kondisi Alfin Dafa Firmansyah mendapat perhatian Walikota Probolinggo Hadi Zainal Abidin.

Alfin Dafa Firmansyah baru berusia 17 tahun. Ia tak menyangka akan menjadi orang tua bagi tiga adiknya. Sebab, pelajar kelas XI di SMKN 2 Kota Probolinggo tersebut bersama tiga adiknya kini menjadi yatim piatu. Dalam waktu lima bulan, mereka ditinggal kedua orang tuanya meninggal dunia.

Kini Alfin bersama adik-adiknya yang masing-masing bernama Afnitia (13), Hari Admira (5), dan Aimar (3), tinggal di rumah neneknya, Masria (69) di Jl Sunan Bonang, Kanigaran. Mereka meninggalkan rumah orang tuanya di Jalan Mastrip Gang I, setelah 7 hari sepeninggal ibunya, Nur Agustin (39).

Rumah keluarga Alfin di Jl Mastrip rencananya akan dikontrakkan. Uang hasil kontrakan itu bisa digunakan untuk tambah-tambah biaya hidup. Sebab, nenek Masria penghasilannya pas-pasan.

Masria yang ditinggal meninggal suaminya, Sahar, pada tahun 2002 itu sehari-harinya berjualan pakaian bekas di Pasar Mangunharjo. “Daripada rumah cucu saya tidak ditempati, mending dikontrakkan. Buat tambah-tambah. Kan penghasilan saya kecil dan tidak tetap,” kata Masria, Kamis (12/8) siang.

Masria mengaku sudah lebih dari 30 tahun berjualan pakaian bekas. Jika berhenti dari pekerjaan itu, Masria tidak memiliki penghasilan lain. Apalagi ia hidup sendirian sejak ditinggal mati suaminya. Tiga anaknya kini tinggal satu, dan menetap di Bogor. “Dua anak saya meninggal,” tandasnya.

Anak pertama Masria meninggal hanya beberapa bulan setelah dilahirkan. Sedangkan  anak keduanya yaitu Muhammad Holili, meninggal dunia 5 bulan lalu. Muhammad Holili adalah bapak dari Alfin Dafa Firmansyah. Tak disangka, sepekan lalu istri Muhammad Holili yaitu Nur Agustin menyusul meninggal dunia. “Anak saya yang ketiga tinggal di Bogor. Jadi saya sendirian di sini,” ujar Masria,

Empat cucu Masria dari Muhammad Holili dan Nur Agustin, salah satunya tidak tinggal dengan dirinya. Afnitia, cucu nomor dua, tiga hari lalu berangkat mondok ke Bogor. “Jadi cucu satunya tinggal dengan anak bungsu saya yang di Bogor. Yang tinggal bersama saya tiga cucu,” jelas Masria.

Sementara itu, Alfin mengatakan bahwa bapaknya meninggal dunia 5 bulan lalu karena menderita autoimun. Sedangkan ibunya menyusul meninggal dunia setelah sempat keguguran. “Karena kedua orang tua sudah tidak ada, kami bertiga tinggal di rumah nenek. Adik saya yang nomor dua ikut Budhe  mondok di Bogor,” katanya.

Meski sudah tidak memiliki orang tua, Alfin tetap akan melanjutkan sekolah hingga lulus dari SMKN 2. “Soal biaya sekolah dan biaya hidup, ia berencana mengontrakkan rumah yang sebelumnya ditempati bersama orang tuanya. “Tetap sekolah sampai lulus. Rumah mau saya kontrakkan. Ketimbang tidak ditempati, rusak,” ujarnya.

Kondisi Alfin dan adik-adiknya itu mendapat perhatian Walikota Hadi Zainal Abidin. Kemarin Walikota datang berkunjung. Kepada keluarga yang masih berduka tersebut, Walikota Hadi sempat memberikan bantuan beras dan sembako. “Kami perhatikan kebutuhannya. Terutama pendidikan dan kesehatannya,” ujar Walikota.  

Menurutnya, orang tua Alfin meninggal karena terpapar Covid-19 dan meninggalkan anak yang masih usia sekolah, bahkan ada yang belum masuk PAUD dan TK. Karenanya, pemkot tetap memperhatikan dan memfasilitasi kebutuhan Alfin bersama 2 adiknya. “Kami tugaskan camat dan lurah, ketua RT dan RW untuk memantau kebutuhannya. Warga yang bernasib seperti ini perlu perhatian pemerintah,” kata Walikota.  (gus/iwy)


Bagikan Artikel