Politik & Pemerintahan

Kantor Desa Hasil Relokasi, Dibangun Jauh dari Sungai


KRAKSAAN – Bencana tanah longsor dan banjir bandang menerjang Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo pada Desember 2018 lalu. Dalam peristiwa itu ada 2 nyawa melayang. Bahkan, kantor desa ikut porak poranda diterjang banjir. Kini, kantor desa telah dibangun kembali. Seperti apa perubahannya?

Sejumlah orang duduk di 3 ruangan berbeda. Di setiap ruangan terdapat meja dan kursi. Setiap orang duduk di satu kursi menghadap mejanya masing-masing. Saat itu listrik padam.

Tiga sampai empat warga datang bergiliran menuju ruangan-ruangan itu. Namun harus kembali tanpa menerima satu berkas pun. Maklum, listrik menjadi penting untuk memproses administrasi kependudukan warga.

“Terlebih di sini pakai WiFi untuk mengakses internet. Jadi kalau listrik padam, hape pun offline. Kerjaan di komputer maupun di hape tertunda,” ungkap Agus, seorang perangkat desa Andungbiru.

Kondisi itu membuat sebagian perangkat desa memilih berkumpul di ruang “bawah tanah”. Satu tingkat di bawah lantai utama, tempat pelayanan diberikan kepada warga.

“Misal padam ya di sini ngobrolnya, mas. Sambil ngopi dan rokokan,” ucap seorang dari 5 perangkat di atas dipan di lantai bawah.

 Di lantai bawah itu memang lebih sunyi. Selain dipan, ada juga ruangan dapur. Di sana mereka membuat kopi dengan leluasa lalu cangkruk santai. Situasi itu jauh berbeda dengan 3 tahun silam.

 Seperti bertolak belakang dengan peristiwa mencekam di awal Desember 2018 lalu. Kantor Desa Andungbiru rusak parah diterjang banjir bandang. Dalam peristiwa bahkan 2 warga meregang nyawa tertimbun longsor.

“Peristiwa yang menyimpan duka mendalam. Itu akibat pembalakan liar di kabupaten sebelah. Sebab, Andungbiru berbatasan dengan Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember,” papar Kepala Desa Andungbiru Essam.

Essam masih ingat dini hari itu dihubungi telah terjadi tanah longsor di dusun Lawang Kedaton. Sejumlah rumah warga tertimpun material tanah. “Saat itu juga saya langsung meluncur lokasi bersama sejumlah elemen masyarakat lain, seperti pihak kepolisian, TNI dan lainnya,” kenang Essam.

Saat akses jalan tertutup, Essam nekat menyeberangi jalur seorang diri. Dia hanya membawa tas berisi uang tunai Rp 30 juta. Uang itu sebenarnya akan dipergunakan untuk pembangunan fisik rabat beton yang pengerjaannya sedang berlangsung.

“Sampai di lokasi pagi. Dan saya juga ikut mengevakuasi 2 korban tertimpun tanah. Darahnya masih segar. Kami sedikit terlambat,” sesalnya.

Dana yang ada di tas itu secara spontan diberikan kepada warga terdampak bencana. Setiap rumah mendapatkan dana berbeda tergantung kerusakan.

“Hari itu juga habis. Saya gak berpikir pembangunan lagi waktu itu tapi kemanusiaan,” kisah Kades Andungbiru periode 2015-2021 tersebut.

Nyaris 3 tahun pasca peristiwa itu, Essam masih berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi. Pihaknya beberapa kali berdialog dengan pemdes di kabupaten tetangga yang disinyalir terjadi pembalakan liar, sehingga Andungbiru terkena dampaknya.

“Sebab saat banjir itu yang hanyut bukan kayu utuh, tapi sudah terpotong-potong dengan gergaji mesin. Itu jelas terjadi pembalakan liar di wilayah atas sana. Tapi kita yang kena dampaknya,” kata Essam geram.

Musyawarah itu sudah membuahkan kesepakatan. Bahwa kedua wilayah itu tidak boleh lagi ada pembalakan liar. Terlebih diharuskan saling menjaga kelestarian hutan beserta alam sekitar. “Pertemuan itu beberapa kali. Melibatkan perhutani dan Pemda, baik dari Probolinggo maupun dari Jember,” tuturnya.

Nah, dua bulan lalu, kantor desa Andungbiru yang baru sudah resmi berdiri dan ditempati. Berlantai dua. Letaknya jauh dari sungai. Kini warga yang akan mengurus administrasi kependudukan dibawa lebih aman dari potensi banjir bandang.

“Pembangunan ini bersumber dari dana desa. Memang normalnya tidak boleh pakai Dana Desa, tapi karena kondisi darurat bencana, oleh pemda diperbolehkan,” bebernya. (awi/iwy)


Bagikan Artikel