Politik & Pemerintahan

Pembelajaran Daring, Khawatirkan Kesehatan Mata Pelajar


PROBOLINGGO – Selama pandemi Covid-19, pembelajaran dijalankan secara online atau daring (dalam jaringan). Untuk mengakses pendidikan secara daring, para pelajar akhirnya menghabiskan banyak waktunya memelototi ponsel. Pembelajaran daring ini dikhawatirkan memberi efek samping negatif pada kesehatan penghilatan para pelajar.

Aktivitas pembelajaran secara daring selama masa pandemi Covid-19 ini dikhawatirkan memiliki efek samping pada kesehatan mata. Untuk mengantisipasi terjadinya hal terburuk dari situasi ini, para guru diminta untuk proaktif.

“Kami pernah melakukan penelitian pada siswa yang ada di pesantren selama pembelajaran darimg. Dari mereka banyak yang mengeluhkan matanya dan minus lebih dari 2. Bahkan ada yang sampai tidak bisa melihat, sehingga mereka harus menggunakan kaca mata,” ungkap seorang pegiat kesehatan mata, Asyiah Sugianti, Minggu (13/6).

Menurutnya, skrining yang dilakukan itu merupkan dampak dari seringnya para siswa menggunakan gadget dalam pembelajaran. Bahkan, banyak di antara mereka yang terus menggunakan gadget selepas pembelajaran. Sehingga dalam 1×24 jam aktifitas siswa banyak terfokus layar handphone.

“Itu tidak baik. Meskipun pembelajaran daring usai. Mereka tetap masih begini (memainkan gadget, red),” kata Asyiah sambil memperagakan pandangannya pada handphone yang digenggamnya.

Jika hal demikian terus dibiarkan, kata wanita paro baya itu, akan berdampak fatal di kemudian hari pada siswa-siswi di Probolinggo. Sedangkan hingga saat ini, kesadaran (awareness) dan kepedulian guru pada siswanya masih sangat miris. Status mereka sejauh ini masih terpusat pada ego sektoral dan kurang menaruh peduli pada siswanya.

“Seorang guru perlu sesekali menanyakan kesehatan mata pada siswanya. Jika ada yang mengeluh segera laporkan dan bawa ke puskesmas terdekat untuk segera ditangani pihak medis,” ungkap wanita asal Batu Malang itu.

Keterlibatan guru, kata dia, sangat penting dalam mengantisipasi terjadinya gangguan penglihatan pada siswa. Menurut Asyiah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Nah itu peru diawali dengan kesedaran para guru agar lebih peduli (care) pada siswa.

“Harus dilakukan segera, agar kesehatan mata siswa yang menurun itu bisa ditangani pihak media dengan cepat. Guru harus lebih proaktif menanyakan kondisi siswanya selepas pembelajaran,” pinta Asyiah.

Di Kabupaten Probolinggo sendiri ada empat rumah sakit yang memfasilitasi pemeriksaan kesehatan mata. Empat rumah sakit itu meliputi RSUD Waluyo Jati Kraksaan, RSU Wonolangan, RSU Graha Sehat dan RSU Rizani.

“Di rumah sakit itu yang bisa melayani pemeriksaan mata. Kami juga berusaha untuk menuntaskan persoalan penyakit mata hingga akhir tahun depan. Target bisa mencapai 10 ribu warga. Dari sekian pasien didominasi oleh kalangan usia 40 tahun ke atas. Anak kecil juga ada,” kata Ketua Komite Mata Daerah Kabupaten Probolinggo dr. Mirah Samiyyah. (yek/iwy)


Bagikan Artikel