Politik & Pemerintahan

Bocah Penderita Lumpuh Otak Disarankan Jalani Terapi di RSUD Kota


PROBOLINGGO – Derita Muhammad Bakri, bocah asal Kelurahan Triwung Lor, Kademangan yang menderita penyakit cerebral palsy dan epilepsi, didengar Pemkot Probolinggo. Setelah mendengar kisah Bakri dari media, Rabu (27/1) Walikota Hadi Zainal Abidin datang berkunjung.

Kesedihan Khoiriyah (49) atas kondisi putranya, Muhammad Bakri, didengar Pemkot Probolinggo. Walikota Probolinggo Hadi Zainal Abidin kemarin sekitar pukul 08.00 menjenguk Bakri di kediamannya di Gang Sukun atau Jalan Mawar, Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan

Tuan rumah sempat kebingungan begitu rombongan Walikota tiba di rumahnya. Ruang tamu yang sempit berukuran 2,5 x 6 meter tak mampu menampung para pejabat yang datang. Hanya 4 orang tamu yang masuk ke ruang di mana bocah Muhammad Bakri terbaring. Mereka adalah Walikota Hadi Zainal Abidin, Sekda drg Ninik Ira Wibawati, Plt Direktur RSUD dr Moh. Saleh dr Abraar HS Kuddah, dan seorang dokter spesialis, yaitu dr Intan.

Selain itu, wartawan yang meliput dan fotografer daro Diskominfo dibolehkan masuk bergantian untuk mengabadikan momen tersebut. Setelah melihat kondisi Bakri, Walikota Hadi meminta dr Intan memeriksa kondisi bocah yang akan berusia 3 tahun pada Maret nanti.

Kepada Walikota, Khoiriyah mengatakan bahwa anak semata wayangnya pernah menjalani terapi di Puskesmas Ketapang, setahun lalu. Ia pernah disarankan agar putranya dirujuk ke RSUD Kota Malang. Namun, saran itu tidak dilaksanakan dengan alasan keterbatasan kondisi ekonomi.

Kepada wartawan, Walikota menyatakan bahwa Dinkes dan Dinsos tidak tinggal diam. Dua OPD tersebut sudah memberi asupan gizi dengan membantu paket susu dan biscuit setiap bulannya.

“Pemerintah sudah hadir, tidak ada kata tidak ditangani. Biaya pengobatan ditanggung BPJS karena Khoiriyah peserta BPJS gratis. Yang bayar pemkot. Bantuan Dinsos dan Dinkes tersampaikan. Kami tegaskan, pemkot sudah hadir sejak lama,” ujarnya.

Bahkan, keterangan dari orang tuanya, lanjut Walikota Hadi, Bakri sering fisioterapi di puskesmas dan pernah disarankan dirujuk ke Malang. “Itu upaya kami. Tapi belakangan, pihak keluarga memilih pengobatan alternatif. Biayanya tidak tidak bisa dicover BPJS. Jadi harus biaya sendiri,” jelas Walikota.

Agar kondisinya tidak bertambah buruk, Walikota meminta agar Bakri diterapi di RSUD dr Moh. Saleh, seminggu dua kali. Jika orang tuanya tidak memiliki dana dan tidak ada yang mengantar ke RSUD, ambulans siaga puskesmas atau pustu terdekat siap mengantar.

Sementara, dr Abraar HS Kuddah menjelaskan bahwa cerebral palsy merupakan kerusakan permanen pada sel otak. Pada kasus Bakri, terjadi kecacatan sejak lahir. Penyebabnya, bisa saja terjadi infeksi saat kehamilan. Selain itu trauma dan saat hamil ibu yang mengandungnya jatuh, atau saat bayi dirawat, terjatuh.

“Kami tadi tanya, ibunya mengaku pernah jatuh saat mengandung Bakri. Karena cerebral palsy ini permanen. Kemungkinan sembuh kecil. Tetapi tetap kami lakukan fisioterapi, rehab medik, speech therapy seoptimal mungkin. Minimal bisa membantu,” jelasnya.

Sebelum rombongan Walikota meninggalkan rumah tinggalnya, Khoiriyah mengatakan bersedia melakukan fisioterapi untuk putranya. “Demi kesembuhan anak, saya siap melaksanakan anjuran Pak Wali. Terima kasih untuk semuanya yang telah mengunjungi anak saya,” ujar Khoiriyah. (gus/iwy)


Bagikan Artikel