Politik & Pemerintahan

Walikota Probolinggo: Jangan Bilang Covid Rekayasa


PROBOLINGGO – Kota Probolinggo berduka. Wakil Walikota HM Soufis Subri meninggal dunia, Rabu (9/12) setelah terpapar virus corona. Wawali Subri meninggal dunia setelah 19 hari dirawat di rumah sakit.

Walikota Probolinggo Hadi Zainal Abidin dalam pernyataan resmi kepada media kemarin menyatakan bahwa virus corona bukan rekayasa. “Jangan bilang Covid-19 itu rekayasa dan tidak ada. Ini buktinya. Wakil kami meninggal karena virus itu,” tegas Walikota kemarin sekitar pukul 12.45 usai menghadiri pemakaman Wawali Subri di Jalan Cangkring, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran.

Walikota berharap, warga tidak lagi sanksi dengan virus corona. Walikota mengajak masyarakat untuk tetap patuh menjalankan protokol kesehatan (prokes). Selalu mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan tidak berkerumun alias selalu menjaga jarak. “Kami tetap mengedukasi warga dan melaksanakan operasi yustisi,” ujarnya.

Menurutnya, pemkot akan bekerjasama dangan Polres Probolinggo Kota dan Kodim 0820 serta menugaskan Satpol PP untuk operasi yustisi tersebut. “Tidak hanya operasi yustisi,  kami juga selalu mengedukasi warga,” katanya.

Walikota mengaku tidak menyangka jika Wawali Subri tutup usia. Sebab, pasca alat ECMO (Extracorporeal Membrane Oxygenation) atau alat bantu pernafasan dan pompa darah dilepas, almarhum kondisi kesehatannya membaik. “Setiap hari kami pantau kesehatan Pak Wakil,” ujarnya.

Disebutkan, RSUD dr Moh. Saleh setiap hari melakukan video conference dengan RSUD dr Soetomo Surabaya untuk mengetahui perkembangan kesehatan Wawali Subri. Namun, meski kesehatannya membaik, namun Wawali Subri akhirnya meninggal dunia. “Yang sehat saja bisa meninggal, apalagi yang sakit,” sebut Walikota Hadi.

Dijelaskan, mulanya, Wawali dua hari dirawat di RSUD dr Moh. Saleh. Wawali Subri merasakan keluhan demam dan nafsu makan berkurang pada Rabu 11 November, sepulang dari perjalanan dinas ke Bandung.

Sabtu 14 November, Wawali Subri mulai batuk-batuk. Keesokan harinya, Minggu 15 November, suhu tubuhnya naik. Pria kelahiran 30 April 1973 ini kemudian periksa ke RSUD dr  Moh. Saleh, Rabu 18 November. Hasilnya normal.

Dua hari kemudian, yakni Jumat 20 November, Wawali mengeluh demam. Karena tak kunjung sembuh,Wwawali melakukan antigen swab dan hasilnya positif Covid-19. Wawali kemudian dirawat di RSUD dr Moh. Saleh.

Dua hari kemudian, 22 November, Wawali Subri mengeluh sesak nafas hingga dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya. “Kami rujuk ke Surabaya karena peralatan dan dokternya lebih lengkap,” kata Walikota.

Namun, setelah 19 hari berjuang melawan deraan virus corona, kemarin Wawali Subri berpulang. (gus/iwy)


Bagikan Artikel