Politik & Pemerintahan

Dispendik Kabupaten Probolinggo Maksimal Berinovasi Saat Pandemi


KRAKSAAN – Upaya Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo dalam menjamin pembelajaran siswa tetap berlangsung maksimal patut diacungi jempol. Dispendik terus berinovasi dan diganjar penghargaan oleh Kementerian PAN RB. Ialah inovasi Pembelajaran Kelas Rangkap, Masyarakat Sejahtera (Bela Sang Raja) yang masuk dalam Top 30 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2020.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi mengakui bahwa selama pandemi tentu ada banyak tantangan. Beberapa daerah hanya menjalankan pembelajaran dalam jaringan (daring), namun Kabupaten Probolinggo juga menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM) berbasis komunitas tempat tinggal peserta didik.

“Kami memadukan online dan offline. Pembelajaran daring untuk daerah yang ada akses internet. Sedangkan yang sulit internet, maka pembelajaran tatap muka berbasis komunitas tempat tinggal peserta didik,” ucapnya.

Misalnya, kata Rozi, dalam lingkungan 1 RW terdapat 5-7 siswa, maka itu digelar pembelajaran oleh seorang guru walaupun jenjang pendidikan siswa berbeda. Menurutnya, ini tantangan bagi guru untuk menganalisis kompetensi dasar dari masing-masing jenjang.

“Jadi selama pandemi tidak hanya melaksanakan protokol kesehatan dan kurikulum darurat saja, tapi juga menerapkan analisis kompetensi dasar dari masing-masing jenjang,” papar Kadis Fathur Rozi.

Untuk program Bela Sang Raja sendiri sudah diterapkan di beberapa kecamatan di Kabupaten Probolinggo, yakni Krucil, Tiris, Gading, Kuripan, Sukapura, Pakuniran dan Kotaanyar. Namun hanya di wilayah pegunungan yang memang akses internet sangat minim. “Khusus di wilayah atas yang nihil jaringan internet. Itu juga untuk mengurangi kejenuhan murid termasuk orang tua. Kita sangat fokus di masa pandemi,” ucapnya.

Menurut Rozi, pembelajaran kelas rangkap sangat cocok diterapkan saat pandemi. Para guru di Kabupaten Probolinggo bahkan akhirnya tidak kaget cara mengajar saat wabah Covid-19. “Dulu blended learning dikira susah, ternyata sekarang saat pandemi ini seolah menemukan momentumnya,” selorohnya.

Selain itu, Dispendik juga uji coba menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah yang berada di zona hijau. Sejauh ini PTM itu tersebar di 6 kecamatan dengan 12 satuan pendidikan. Masing-masing 6 satuan pendidikan untuk SD dan SMP.

“Tentunya mengacu prokes, seperti maksimal 50 persen dari peserta didik, cuci tangan menggunakan sabun sebelum belajar, mengenakan masker, dan mengatur jarak antar siswa,” paparnya.

Keenam kecamatan tersebut adalah Lumbang, Sumber, Kuripan, Wonomerto, Tiris dan Krucil. Selama uji coba itu, pihaknya juga mengevaluasi terkait prokes, proses pembelajaran dan kondisi kesehatan warga sekolah. “Alhamdulillah tidak ada masalah dan potensi bisa diperluas lagi,” tegasnya. (awi/adv)


Bagikan Artikel