Politik & Pemerintahan

Percepatan Swasembada Daging Indonesia, 1.000 Sapi Didrop ke Kecamatan Lumbang


LUMBANG – Program 1000 Desa Sapi yang digulirkan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia resmi dimulai di Kabupaten Probolinggo. Bantuan tersebut disalurkan ke Kecamatan Lumbang. Salah satu tujuan program ini adalah sebagai upaya percepatan  swasembada daging sapi Indonesia.

Program tersebut dimulai sejak Selasa (1/12) di Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang. Penyaluran sapi itu dilakukan secara bertahap. Kemarin, Nasrulah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Kementerian Pertanian hadir di acara.

Penyaluran sapi perdana adalah kepada Kelompok Peternakan Genting Makmur Jaya asal Desa Negororejo Kecamatan Lumbang. Penyaluran tahap pertama, ada 5 kelompok yang mendapat 50 ekor sapi. Nantinya, setiap kelompok tersebut akan menerima total 200 ekor sapi yang diterima secara bertahap.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah lebih dulu meninjau lokasi kandang sapi yang telah didirikan. Ada pula perwakilan Balai Besar Inseminasi Singosari, Dinas Peternakan  Provinsi Jawa Timur, Asisten 2 Pemkab Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari, serta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupate Probolinggo Yahyadi.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah mengatakan, saat ini Indonesia masih kekurangan stok daging sapi untuk kebutuhan dalam negeri. Karena kondisi itu pula, pihaknya mengeluarkan program seribu sapi untuk menggenjot swasembada daging tahun 2021 mendatang.

“Tahun depan kami target bisa swasembada daging untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik,” kata Nasrullah.

Ia mengungkapkan, Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu dari lima daerah di lima provinsi yang ditetapkan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI sebagai pilot project dalam program 1.000 desa sapi.

“Di Kabupaten Probolinggo, program 1.000 sapi ini akan dimplementasikan di lima kelompok yang ada di lima desa di wilayah Kecamatan Lumbang. Yaitu Desa Lumbang, Purut, Wonogoro, Negororejo, dan Sapih,” sebutnya.

Dipilihnya kabupaten Probolinggo ini salah satunya karena daerah ini menjadi daerah penghasil sapi yang terbesar di Jawa Timur. “Kami memilih karena di peternak Probolinggo juga sudah terbiasa mengembangkan sapi. Jadi memang kami pilih karena sudah berpengalaman, bukan mereka yang coba coba, ” Katanya.

Selain untuk mencapai swasembada daging, Nasrullah berharap program ini juga bisa meningkatkan kesejahteraan para peternak. “Harapannya seperti itu. Semoga tahun depan bisa swasembada daging,”jarapnuu.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Probolinggo Yahyadi mengatakan, program 1.000 Sapi di Kabupaten Probolinggo ini merupakan tahap awal. “Jadi, ini merupakan pilot project. Nanti 1.000 sapi ini diserahkan kepada kelompok tani di 5 desa di Kecamatan Lumbang. Masing-masing desa akan mendapatkan 200 sapi. Terdiri dari 100 sapi pembibitan dan 100 sapi penggemukan,” terangnya.

Yahyadi menerangkan, Kecamatan Lumbang dipilih untuk menerima program 1.000 Sapi ini karena dinilai sesuai untuk memelihara sapi. Sebab Hijauan Pakan Ternak (HPT) di Kecamatan Lumbang sangat mendukung.

Teknis pemeliharaannya diatur sesuai prosedur. Kandang sistem komunal ini membuat sapi harus dikandangkan dalam satu tempat. Selanjutnya akan dibagi 2 pola pemeliharaan. Yaitu pembibitan dan penggemukan.

“Sapi dipelihara oleh para anggota yang ada di kelompok di 5 tersebut. Masing-masing sebanyak 200 sapi dengan sistem kandang komunal. Yaitu dipelihara bersama-sama. Oleh karena itu, lima kelompok di lima desa ini saya berharap nantinya menjadi peternak yang modern,” ungkapnya.

Ribuan sapi ini berasal dari luar Indonesia yang memiliki iklim sama dengan Indonesia. Oleh karena itu, ia berharap program 1.000 Sapi ini didukung oleh masyarakat. Khususnya warga Kecamatan Lumbang.

“Mohon doa restu semuanya. Semoga yang kita perbuat ini memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Khususnya di 5 desa yang ada di Kecamatan Lumbang. Nanti, sapi sebanyak 1.000 ekor ini, hasilnya akan digulirkan kepada masyarakat sekitarnya,” terangnya.

Hasil yang dimaksud, berasal dari keuntungan yang telah ditetapkan sejak saat ini. Setiap ekor sapi penggemukan yang baru diterima, ditimbang berat badannya. Selang 6 bulan kemudian, sapi tersebut ditimbang lagi, lalu dijual.

“Tentu berat badan seekor sapi sudah bertambah setelah dipelihara selama 6 bulan. Penjualannya tentu untung. Keuntungan dijadikan sebagai biayanya untuk dibelanjakan sapi lagi untuk pemeliharaan tahap berikutnya,” beber Yahyadi.

Sementara untuk program pembibitan, setiap sapi ditarget beranak dalam jangka waktu setahun ke depan. “Selanjutnya anak sapi itu dipelihara dulu sampai gemuk. Kalau sudah layak untuk dijual, maka anak sapi itu dijual di sekitarnya,” terang Yahyadi. (rul/adv)


Bagikan Artikel