Politik & Pemerintahan

Komisi IV DPR RI Pantau Limbah PLTU


PAITON – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI H. Hasan Aminuddin bersama sejumlah anggota,  Rabu (18/11) mengunjungi lingkungan kerja komplek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton, Kabupaten Probolinggo. Kunjungan ini untuk memantau keadaan limbah dan lingkungan sekitar.

Rombongan Komisi IV melihat langsung kondisi perairan di sekitar komplek PLTU. Mereka juga meninjau lokasi pengelolaan limbah hasil pembakaran batu bara (fly ash/bottom ash) di Unit 9 PT POMI.

Usai peninjauan, Hasan Aminuddin menyampaikan, kunjungannya di komplek PLTU Paiton ini untuk menindaklanjuti adanya keluhan masyarakat dan laporan dari beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Terutama terkait pengelolaan lingkungan dan limbah produksi.

“Isu dan laporan yang kami terima bahwa pengelolaan limbah di PLTU yang memiliki reputasi terbesar se – Asia Tenggara ini dinilai tidak ada solusi sejak awal pendirianya. Sehingga tumpukan yang sudah menahun ini memberikan dampak yang meresahkan bagi warga masyarakat sekitar,” kata Hasan.

Tindak lanjut daripada kunjungan ini, imbuh Hasan, sepekan kedepan pihaknya akan memanggil Kementrian LHK. Tujuannya untuk segera mengambil langkah – langkah konkrit. “Sehingga temuan dan fungsi pengawasan ini bukan hanya menjadi wacana saja. Namun benar-benar menjadi tindak lanjut oleh kementrian terkait,” kata Hasan.

Sementara itu, General Manager PJB Mustofa Abdillah mengatakan, adanya dugaan pencemaran air di lingkungan PLTU Paiton berupa busa sebelumnya, merupakan limpasan dari treatment pemurnian air dengan menggunakan cairan kimia. Fungsinya adalah untuk melemahkan biota laut supaya tidak menempel di mesin pendingin yang ada di internal PLTU.

Kejadian kedua menurut Mustofa adalah kecelakaan sebuah kapal tongkang yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang. Namun kejadian ini terjadi di luar teritori PLTU Paiton.

“Sudah ada proses penyelesaian, baik itu kompensasi kepada masyarakat dan adanya pendanaan untuk perbaikan dampak kerusakan terumbu karang. Sedangkan untuk masalah busa,  kami telah berkoordinasi bersama DLH Kabupaten Probolinggo untuk meneliti. Dan hasilnya adalah masih dalam kondisi aman dan dalam batas kewajaran,” jelas Mustofa.

Sedangkan untuk pengelolaan limbah proses pembakaran batu bara, sampai saat ini PLTU Paiton masih memanfaatkan lokasi penimbunan khusus. Tempat tersebut merupakan basic desain sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk pendirian PLTU.

“Selain dimanfaatkan oleh perusahaan penghasil semen, kami juga selalu berupaya untuk mengelola limbah ini menjadi komoditi bermanfaat, seperti batako dan paving yang selama ini kami manfaatkan untuk bantuan CSR,” tandasnya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel