Politik & Pemerintahan

Dewan Desak Gudang Serap Tembakau Lokal


PAJARAKAN – DPRD Kabupaten Probolinggo merespons kegelisahan para petani tembakau.  Kemarin (2/9) DPRD menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan mendatangkan sejumlah pihak terkait. Dalam RDP ini dewan minta pihak gudang (pabrikan rokok) segera menyerap tembakau hasil panen petani lokal.

RDP itu mengundang tujuh pihak gudang tembakau yang ada di Kabupaten Probolinggo. Tetapi, hanya 3 pihak gudang yang hadir. Walau begitu, DPRD tetap menyatakan sikapnya dalam problem tembakau yang tidak kunjung terserap oleh gudang ini.

Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Andi Suryanto Wibowo menyampaikan, pihaknya tidak ingin lagi mendengar ada tembakau luar daerah yang masuk. Ia meminta pihak gudang memprioritaskan tembakau petani lokal. Hingga terserap keseluruhan, gudang baru kemudian boleh serap tembakau luar.

Sebab, menurutnya, kondisi petani tembakau saat ini sangat terjepit. Banyak gudang yang tidak menyerap tembakau, dan membeli tembakau petani dengan harga tak wajar. Tentu itu akan berdampak pada perekonomian para petani lokal.

“Jika gudang tetap mengambil tembakau dari luar. Tentu akan menghimpit dan menekan harga tembakau petani lokal. Semakin murah harga beli, itu berdampak pada penghasilan para petani,” ungkap politisi Partai Nasdem itu.

Terlebih areal tanam tembakau di 7 kecamatan saat ini cukup membeludak. Jika gudang tidak menyerap tembakau dari luar, menurutnya, harga tembakau lokal akan stabil dan seluruhnya akan terserap. “Kami minta prioritaskan gudang lokal demi kesejahteraan petani daerah,” pintanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo Mudzakkir menambahkan, memang dari tahun-tahun sebelumnya, gudang juga banyak menyerap tembakau dari luar. Sehingga berdampak fluktuasi harga tembakau lokal.

Menurutnya, untuk tembakau dari wilayah Situbondo masih bisa dimaklumi. Sebab wilayahnya berdekatan. Namun untuk tembakau dari wilayah lain, tidak bisa diterima pihaknya. Hal itu yang membuat para petani menjerit, sehingga sampai terjadi aksi pembakaran tembakau.

“Apalagi tembakau petani sekarang banyak yang masih belum terserap akibat gudang belum buka dengan berbagai alasan. Ya, saya harap seluruh tembakai petani lokasl terserap,” kata warga Desa Jatiurip Kecamatan Krejengan itu.

Sementara, RDP yang dipimpin Ketua DPRD Andi Suryanto Wibowo itu kemarin  berlangsung sekitar 3 jam hingga pukul 15.30. Menurut Andi, dari 3 gudang yang hadir, 2 di antaranya sudah siap untuk mulai membeli tembakau petani lokal pada minggu ini.

“Gudang Garam besok (hari ini, red) masih rapid. Jadi dibukanya itu akan dimulai pada Jumat (4/9). Yang Djarum itu besok sudah buka,” kata Andi kemarin.

Sedangkan 1 perwakilan gudang lainnya yang hadir yakni Sadana, mengaku tidak akan membeli tembakau dari petani pada tahun ini. “Meski Sadana tadi menyataan tidak akan membeli tahun ini sesuai dengan instruksi atasannya, tapi kami tetap merekomendasikan untuk memikirkan ulang dan tetap diupayakan untuk dibuka, karena saat ini petani memang sangat membutuhkan gudang,” jelasnya.

Andi menjelaskan, meski hanya beberapa gudang yan hadir dalam pertemuan tersebut. Pihaknya sudah memutuskan beberapa rekomendasi untuk ditindak-lanjuti oleh pihak gudang.

“Ada lima, pertama pekan ini seluruh gudang sudah harus buka, yang kedua harga diupayakan berada di atas Rp 30 ribu per kilogramnya. Dan yang ketiga, sample yang diambil oleh gudang tidak boleh lebih dari 1 kg,” paparnya.

Selain itu, pihaknya juga merekomendasikan untuk dinas terkait, yakni Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) untuk membuat surat edaran terkiat harga tembakau. Hal ini ditujukan untuk mengantisipasi adanya permainan hargam baik dari pihak gudang maupun dari para tengkulak.

“Kalau ada SE terkait harga, maka patokan harga itu bisa diketahui. Tetapi, SE-nya tidak merugikan pihak gudang, terlebih petani. Dan lagi gudang jangan sampai mengambil tembakau dari luar Probolinggo, sebelum tembakau yang ada di Probolinggo habis,” tegasnya.

Sementara itu, Boy Jonatan selaku supervisor dari Gudang Garam mengatakan, setelah pihaknya melakukan rapid test, gudang akan segera dibuka. Selain itu, pihaknya juga sanggup untuk tidak mengambil tembakau dari luar probolinggo jika stok di petani lokal masih ada.

“Prosedur kami memang seperti ini, harus rapid, baik bagi tengkulaknya. Dan kami juga tidak akan mengambil tembakau dari luar kalau di Probolinggo masih ada,” katanya. (yek/ay/iwy)


Bagikan Artikel