Politik & Pemerintahan

Buntut Foto Bareng Mantan Walikota, Staf Ahli Pemkot Probolinggo jadi Staf Kecamatan


PROBOLINGGO – Nama Tutang Heru Aribowo sedang jadi perbincangan ramai di Kota Probolinggo. Pasalnya, Tutang mendadak dicopot dari jabatannya sebagai Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum Pemkot Probolinggo. Setelah dicopot dari jabatan tersebut, Tutang langung di-staf-kan, yaitu sebagai Staf Analis Kemasyarakatan Trantib Kecamatan Kedopok. Ada apa? 

Jumat (28/8) sekitar pukul 09.00 kantor Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, tampak sunyi. Seorang lelaki dan perempuan tengah duduk di pendopo kecamatan, dikelilingi beberapa wartawan.

Pria yang berpakaian putih dipadu celana panjang hitam itu adalah Tutang Heru Aribowo. Tutang adalah pejabat Pemkot Probolinggo yang berdasar Surat Keputusan (SK) Walikota Probolinggo nomor X.862/2/56/425.203/2020 tertanggal 24 Agustus 2020, resmi dicopot dari jabatan Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum. Pencopotan jabatan ini terjadi karena Tutang dianggap telah melakukan pelanggaran disiplin berat.

Setelah dicopot dari jabatan staf ahli, Tutang kemudian ditempatkan di jabatan baru sebagai staf kecamatan. Persisnya Tutang ditugaskan sebagai analis kemasyarakatan ketenteraman dan ketertiban (trantib) Kecamatan Kedopok.

Jumat pagi itu di Kecamatan Kedopok, Tutang didampingi istri tercintanya. Camat Kedopok Imam Cahyadi tidak menampakkan diri.

Kendati diturunkan jabatannya, Tutang tetap ceria seperti kesehariannya. Tak ada perubahan sedikitpun, baik dari ekspresi dan gaya bertuturnya. Bicaranya tetap ceplas-ceplos sebagaimana ciri khasnya. “Kita terima dan jalani. Enggak ada gunanya bersedih. Ini kan sudah garisan tangan dari Tuhan,” ujarnya.

Pria yang juga pernah menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) itu mengibaratkan situasinya sekarang seperti sedang terjun bebas. Tanpa parasit, tiba-tiba dia dilempar dari dalam pesawat yang terbang di angkasa. Tubuhnya akan berkeping-keping terhempas ke bumi dan tamatlah riwayatnya. “Pasti ada hikmah yang akan datang dari balik romantika,” katanya.

Menurutnya, silih bergantinya susah dan senang merupakan milik setiap manusia. Karenanya, SK Walikota nomor 821.2/382/425.203/2020 yang dia terima pada Kamis (27/8) dan menugaskannya menjadi staf di Kecamatan Kedopok, dianggapnya sebagai romantika kehidupan. Sebagai bawahan, Tutang akan tetap mengikuti aturan.    

Di tempat yang baru itu, Tutang tidak langsung bekerja. Tetapi dia masih harus beradaptasi dulu dengan suasana kantor dan rekan-rekannya yang lebih awal bertugas di kecamatan.

Bagi Tutang, Jumat itu menjadi hari pertamanya masuk kerja sebagai staf kecamatan. Pria lulusan IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) Jakarta tersebut dicopot dari staf ahli karena pelanggaran disiplin berat. Dia dinilai melanggar PP nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin PNS pasal 3, angka 4, angka 5, angka 6, angka 7, angka 8, angka 9, dan angka 17.

Tutang membenarkan jika sebelum dicopot, dirinya pernah dimintai keterangan atau diperiksa dua kali. Pejabat yang memeriksa ialah Sekda Kota, Inspektur dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah Sumber Daya Manusia (BKD-SDM).

Menurut Tutang, pihaknya kebingungan saat ditanya tiga pejabat yang memeriksa dirinya. Sebab, surat panggilan yang diterima dia rasa tidak jelas. “Suratnya hanya menyebut meminta keterangan. Lho keterangan apa? Ya saya tidak bawa data yang akan dimintai keterangan,” ujarnya.

Dalam pemeriksaan pertama pada 6 Juni, tim pemeriksa sempat menanyakan soal foto Tutang bersama mantan Walikota Probolinggo dua periode HM Buchori. Foto itu beredar di medsos. Mereka juga menanyakan soal meme dengan kalimat “Enak jamanku Toh”.

“Lho kenapa enggak manggil yang mengupload dan yang membuat meme. Kalau Pak Buchori kan mantan atasan saya. Apalagi beliau yang ke rumah saya, bukan saya yang ke rumahnya. Terus, kami berfoto, kangen-kangenan karena lama enggak jumpa,” jelasnya.

Selain itu, Tutang juga ditanya soal bertemunya Tutang dengan beberapa tokoh partai saat sholat Jumat di Masjid Hotel Bromo.  Ia juga ditanya soal sikapnya terhadap meme yang beredar di medsos.

“Saya ditanya, apakah pernah bertemu dengan walikota yang sekarang, baik kedinasan atau tidak. Ya, saya jawab, tidak pernah. Memang saya tidak pernah diajak bicara,” tambahnya.

Kemudian, Tutang mengaku ditanya oleh Sekda Kota soal ketidak-hadirannya di acara vidcon peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit baru. Tutang mengaku juga tidak diundang di acara evaluasi penyerapan anggaran pemkot di Banyuglugur, Situbondo. “Saya satu-satunya pejabat eselon dua yang tidak diundang di acara itu. Karena tidak diundang, ya saya tidak hadir,” ujar Tutang lantang.

Tak hanya itu, ia juga tidak diundang diacara renja yang diselenggarakan di Malang. Padahal, seluruh OPD terkait diundang. Hanya, bukan Tutang saja tidak diundang, tetapi 2 rekannya yang sama-sama menjabat staf ahli, tidak diundang. Yang lebih mengherankan, lanjut Tutang ialah pada pemeriksaan kedua. Undangan diberikan kepada dirinya tiga menit sebelum acara pemeriksaan dimulai.  

Mengenai materi pertanyaan pada pemeriksaan kedua, hanya seputar kesiapannya diperiksa, identitas dan kondisi kesehatan. Kemudian pertanyaan soal loyalitas dan tanggapan terhadap wali kota. “Hanya seputar itu yang ditanya. Tiba-tiba saya dinyatakan melanggar PP 53 tahun 2010 pasal 3 angka 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan angka 17. Saya diduga melakukan pelanggaran berat disiplin PNS. Tapi tidak dijelaskan pelanggarannya berbentuk kegiatan apa,” tegasnya.

Hadirnya Tutang di Kecamatan Kedopok justru disyukuri oleh Camat Kedopok Imam Cahyadi. Dirinya akan selalu berkoordinasi dan mengajak Tutang dalam mengantisipasi dan mencegah penyebaran virus corona. Agar status zona hijau yang diraihnya bertahan. Hanya wilayah kami yang statusnya hijau. “Kami akan mengajak Mas Tutang untuk mempertahankan zona hijau ini,” ujarnya.  

Apalagi, Tutang dianggapnya sebagai senior yang sudah banyak pengalaman dengan jabatan yang pernah diduduki. Terkait dengan tenaga kecamatan, Imam mengaku kekurangan seorang tenaga di staf Trantib. Dari tiga orang, kini tinggal satu orang, itupun hampir pensiun. “Kami sudah lama mengajukan tembahan tenaga. Alhamdulillah, sudah ada gantinya,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel