Politik & Pemerintahan

Gubernur Khofifah Pantau PTM di SMKN 2 Probolinggo


PROBOLINGGO – Bila didapati ada siswa yang suhu tubuhnya 37,3 derajat celcius atau lebih, harus langsung dipulangkan. Ini menjadi ketentuan wajib dalam penerapan uji coba belajar mengajar tatap muka langsung.  

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat datang ke Kota Probolinggo, Selasa (18/8) pagi. Gubernur datang untuk memantau uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) yang dilaksanakan di Kota Probolinggo. 

Kemarin memang menjadi hari pertama diterapkannya PTM di sejumlah sekolah tingkat menengah atas di Jawa Timur. Di Kota Probolinggo, uji coba PTM dilangsungkan di SMKN 2 dan SMAN 2.

Gubernur Khofifah datang memantau dengan didampingi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi. Kedatangannya disambut Walikota Hadi Zainal Abidin, Wawali Soufis Subri, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Ambariyadi Wijaya, Dandim 0820 Letkol Infanteri Imam Wibowo. Tampak pula  mendampingi, Kepala Kantor Kemenag Mufi Imron Rosyadi dan Kepala SMKN 2 Warnoto.

Di SMKN 2, sebelum masuk ruang kelas, seluruh pejabat dan wartawan  menjalani pemeriksaan di check point siaga Covid-19 di halaman SMKN 2. Pemeriksaan itu meliputi pengukuran suhu tubuh dengan thermo gun dan cuci tangan menggunakan hand sanitizer.

Selanjutnya Gubernur Khofifah menuju ruang kelas, melihat secara langsung proses belajar-mengajar secara tatap muka secara langsung. Kemudian Gubernur menuju kelas praktek instalasi listrik, dilanjutkan pemberian hadiah berupa tas kepada siswa yang kelasnya dikunjungi. “Belajar yang rajin ya nak! Tetap jaga kesehatan. Ini ada tas dari saya,” ujarnya.

Khofifah juga memberikan hadiah yang sama kepada seluruh pengajar sebelum meninggalkan SMKN 2, kemudian berkunjung ke SMAN 2.

Kepada wartawan, Gubernur Khofifah mengatakan bahwa kedatangannya ke SMKN 2 untuk melihat pelaksanaan uji coba PTM.  “Tadi saya lihat satu kelas hanya berisi 9 murid. Biasanya 36 siswa. Karena Kota Probolinggo masih oranye, tatap muka di kelas boleh diikuti  25 persen dari siswa keseluruhan di kelas,” tandasnya.

Kalau kota atau kabupaten status Covid-19 sudah kuning, maka siswa yang boleh mengikuti pembelajaran tatap muka secara langsung 50 persen. Namun, tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat dan tepat.

Jika status sebuah kota atau kabupaten berubah menjadi merah, maka sekolah tersebut tidak boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka. Karenanya, Gubernur akan melakukan koordinasi secara intensif dengan walikota, bupati, serta gugus tugas di masing masing kota atau kabupaten.

Dalam kesempatan itu, Gubenur Khofifah juga meminta Dandim 0820 dan Kapolresta untuk memonitoring uji coba PTM. “Kepala sekolah harus monitoring ketat. Kami juga minta OSIS dan UKS membantu monitoring agar uji coba ini berjalan dengan baik,” pintanya.

Ditambahkan, pelaksanaan uji coba PTM digelar atas persetujuan pemerintah daerah. Uji coba PTM bisa dihentikan jika status daerah berubah menjadi zona merah. “Diteruskan atau dihentikannya pembelajaran tatap muka langsung ini tergantung pemerintah setempat. Karena walikota atau bupati yang paling tahu,” tandasnya.

Pihaknya menyetujui pembelajaran tatap muka langsung karena berbagai pertimbangan. Selain status Covid-19 di masing-masing daerah, juga karena pertimbangan mata pelajaran yang diikuti murid. Bidang studi yang diikuti peklajar SMK atau SMA lebih banyak praktek ketimbang teori. “Anak-anak belajar di rumah secara online sudah lima bulan. Pelajaran praktek kan tidak bisa dilakukan secara daring. Harus tatap muka,” katanya.

Sementara, Kepala SMKN 2 Warnoto mengatakan, pelaksanaan PTM  memang menjadi tuntutan. Sekolah kejuruan seperti SMKN 2 lebih banyak praktek ketimbang teori. “Kalau pelajaran keterampilan, sulit penerapannya kalau melalui daring (online). Harus tatap muka,” ujarnya.

Ditanya soal kekhawatiran penyebaran corona dalam uji coba PTM, Warnoto menyatakan tetap sangat khawatir. Menurutnya, keselamatan anak lebih penting saat ini.   Namun, metode PTM harus dilaksanakan karena mengakomodir kepentingan anak dan tuntutan masyarakat atau orang tua yang meminta kembali belajar di sekolah.

Disebutkan, pembelajaran tatap muka di setiap kelas hanya diikuti 9 siswa secara bergantian setiap hari. Lama pelajaran di kelas hanya 6 jam. Dengan demikian, setiap siswa mengikuti pelajaran di kelas dua kali dalam satu minggu. “Pelajaran yang diikuti banyak prakteknya. Karena di sekolah kejuruan seperti SMKN ini 70 persen praktek dan 25 persen teori. Jumlah siswa kami 2.033, terdiri dari 60 rombel atau kelas,” terangnya.

Sedangkan Walikota Hadi  Zainal Abidin meminta pihak sekolah tetap mengedepankan protokol kesehatan. Pihaknya memberi izin PTM selain karena wilayahnya sudah berstatus oranye, juga mempertimbangkan bidang studi  di SKMN 2. “Lebih banyak prakteknya ketimbang teori. Jadi lebih efektif pembelajaran tatap muka, sesuai pernyataan Bu Gubernur tadi,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel