Politik & Pemerintahan

Nama Salah Ketik, Ketua DPRD Berang

PROBOLINGGO – Suasana hati Ketua DPRD Kota Probolinggo Agus Rudiyanto Ghaffur saat ini sedang tak nyaman. Pasalnya, di baliho PDIP yang pembuatannya difasilitasi oleh KPU Kota, nama belakang yang bersangkutan salah cetak. Mestinya Ghaffur, namun tertulis Gahffur.

Politisi PDIP ini telah meminta KPU segera memperbaiki sekaligus mengganti seluruh baliho caleg PDIP di dapil III. Khususnya yang sudah dipasang di Kecamatan Mayangan di mana kesalahan cetak namanya terdapat di seluruh baliho tersebut.

Agus Rudiyanto Ghaffur mengetahui ada kesalahan nama itu lada Selasa (01/010) sekitar pukul 09.00. Ia mendapati namanya keliru di baliho yang dipasang di pertigaan Jalan Lintas Utara (JLU). Ghaffur yakin baliho atau spanduk yang terpasang dan terpampang di dapil III yakni di Kecamatan Mayangan, seluruhnya keliru. “Ya harus diperbaiki. Masak dibiarkan begitu,” tandas Ghaffur.

Ghafur mengaku tidak tahu, apakah desain dari partainya yang diserahkan ke KPU memang seperti itu. Yang jelas menurutnya, jika ada kekeliruan, mestinya diperbaiki oleh KPU sebelum dicetak. “KPU jangan seperti makelar. Terima disain, langsung dicetak. Periksa dulu dong. Apa sudah benar atau tidak,” ujarnya.

Ia berharap, KPU mengganti dan menurunkan baliho atau spanduk yang keliru. Terserah KPU, apakah diturunkan atau hanya nama yang keliru yang ditutupi, lalu dipasang nama yang benar. “Kalau memang tidak mau mengganti total. Ditindes atau ditempel saja nama saya yang sudah benar. Kami tidak mempermasalahkan. Kalau dibiarkan, saya yang rugi,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua KPU Kota Ahmad Hudri berterus terang mengaku belum memperbaiki kekeliruan nama tersebut. Sebab pihaknya belum menerima surat pemberitahuan dari PDIP. Meski pemilik nama yang keliru sempat komplain dan meminta untuk diperbaiki, namun permintaan tersebut tidak bisa dilayani.

“Itu komplain dan permintaan pribadi. Ya, harus melalui melalui surat. Bukan dari calegnya, tapi surat dari parpol,” ujarnya.

Kepada Hudri, wartawan menyinggung kesalahan nama di baliho Partai Golkar yang terjadi sebelumnya, dan langsung ditanggapi KPU. Hudri beralasan, yang keliru dalam kasus itu adalah KPU. Sedang pada kasus PDIP kali ini, yang keliru adalah parpolnya.

“Kasus kesalahannya beda. Kalau Golkar, kami yang salah. Sedang kasus kesalahan nama caleg PDIP, desain parpolnya yang keliru. Makanya, enggak langsung kami perbaiki,” ungkap Hudri. (gus/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan