Politik & Pemerintahan

Bupati Tantri Inginkan Relokasi Pedagang Ikan Asap


DRINGU – Polemik relokasi pedagang ikan asap yang menjajakan barang dagangannya di sepanjang jalur pantura Dringu, menjadi perhatian utama Bupati Probolinggo Hj. P Tantriana Sari. Bahkan secara khusus Bupati Tantri berpesan agar masalah relokasi puluhan pedagang ikan asap itu bisa dicarikan solusinya oleh dinas terkait.

“Seingat saya pada tahun 2017 lalu, saya sudah memerintahkan pada dinas perdagangan (Disperindag) dan Camat Dringu untuk mengatasi masalah ini. Tapi entah mengapa para pedagang itu kembali berjualan di tepian jalan kembali. Padahal, sudah ada Pantai Bentar yang disiapkan,” ujarnya, Kamis (12/3).

                Dijelaskan bahwa dalam membentuk sebuah sentra perdagangan ikan asap yang layak,  pihaknya sudah sangat serius memfasilitasi. Terutama dengan menginstruksikan kepada Disperindag, camat, hingga kepala desa agar mampu mengajak dan mengakomodir puluhan penjual ikan asap itu.

Namun, pada prakteknya, instruksinya tersebut tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. “Ini pasti ada masalah di dalamnya. Padahal keinginan saya sangat kuat untuk menjadikan Pantai Bentar selain objek wisata bahari juga sebagai pusat kuliner ikan asap,” jelasnya.

Oleh karena itu, Bupati Tantri yang ingin mempertahankan keberadaan para pedagang ikan asap itu, akan segera memanggil sejumlah pihak terkait, termasuk perwakilan pedagang ikan asap. Itu agar terbentuk sebuah pemahaman bersama tentang realisasi pusat kuliner tersebut.

“Pusat kuliner itu sebagai sebuah solusi tentang apa yang jadi keluhan pengguna jalan jalan dan warga sekitar yang terdampak asap dari pengolahan ikan asap secara tradisional tersebut. Menjadi penting untuk bisa duduk bersama dalam satu meja,” tegasnya.

Dia pun berharap agar pasca pertemuan itu, ada komitmen bersama antara kedua belah pihak, yakni pemerintah daerah dan para pedagang ikan asap, sehingga bisa berjalan seiringan. Utamanya demi mengangkat citra Kabupaten Probolinggo sebagai salah satu daerah sentra pengolahan ikan asap yang steril dan higienis.

“Kalau yang ada saat ini dan saya temui, proses pengolahannya masih sangat tradisional. Padahal kami sudah sempat menawarkan adanya alih teknologi tepat guna untuk pengolahan ikan asap secara layak,” ujarnya.

Menanggapi pernyataan Bupati Tantri,  salah satu tokoh masyarakat Dusun Parsean Desa Tamansari Nur Ali mengatakan, memang ada permasalahan utama yang dihadapi oleh pedagang ikan asap. Menurutnya, permasalah utama itu adalah soal lokasi yang ditawarkan oleh Pemkab Probolinggo dinilai tidak strategis.

“Dahulu, seluruh pedagang ikan asap memang bisa dipindah berjualan di Pantai Bentar. Tetapi karena lokasinya yang berada di dalam pagar Pantai Bentar, omset mereka pun jadi anjlok,” ujarnya.

                Anjloknya pendapatan pedagang ikan asap itu pun terus terjadi di awal-awal bulan para pedagang ikan asap itu berjualan di dalam Pantai Bentar. Akhirnya satu persatu para pedagang ikan asap itu kembali ketempat semula, yakni di tepian jalur pantura di Desa Dringu.

“Kondisi tersebut terus terjadi hingga saat ini, karena para pedagang yang sebelumnya jualan di dalam pun akhirnya juga kembali ke tempat berjualannya yang semula. Karena disitu tidak ada ketegasan dari pihak aparat dan pemerintah daerah terkait dengan masalah lokasi baru yang sama sekali tidak representatif itu,” tegasnya.

Dari pantauan Koran Pantura tempat berdagang baru yang disediakan oleh Pemkab Probolinggo di dalamnya kawasan objek wisata Pantai Bentar memang kurang representatif. Pasalnya lokasi baru tersebut tertutup pagar cukup tinggi.

Kondisi itu membuat para pengendara yang melintas sama sekali tidak mengetahui keberadaan sentra ikan asap tersebut. Hal ini perlu jadi catatan bagi pemkab Probolinggo jika memang serius dengan upaya pendirian sentra ikan asap. (tm/iwy)


Bagikan Artikel