Politik & Pemerintahan

Dua Tempat Karaoke Tamat


PROBOLINGGO – Para penghobi karaoke mulai Minggu (7/7) sudah tidak bisa lagi bernyanyi di tempat karaoke Pop City dan 888 (triple eight) di Kota Probolinggo. Sebab, dua tempat karaoke itu sudah tidak bisa beroperasi lagi dengan alasan tidak mengantongi izin.

Pop City yang  berlokasi di Jl Dr Soetomo telah memperpanjang izinnya 2 minggu lalu, tetapi belum keluar. Sedangkan 888 yang berlokasi di Jl Suroyo masa berlaku izinnya sudah habis atau mati per November 2018.

Lalu apakah Pemkot Probolinggo akan memberi perpanjangan izin untuk dua tempat karaoke tersebut? Pertanyaan ini telah mendapat jawaban pasti dari Walikota Hadi Zainal Abidin.

Walikota Hadi menegaskan, kedua tempat hiburan malam berupa karaoke keluarga tersebut tidak akan diperpanjang izinnya. Dengan kata lain, Pop City dan 888 sama-sama tamat. “Ditutup mulai hari ini. Ya, Minggu,” tegas Walikota Hadi usai halal bihalal bersama aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan IKA (Ikatan Alumni) PMII, kemarin di rumah dinas walikota.

Kepada alumni dan aktivis PMII Probolinggo, Walikota Probolinggo Hadi Zainal Abidin menyatakan tidak akan memperpanjang izin 2 tempat hiburan di wilayahnya. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Menurut Walikota, sudah saatnya hiburan malam di wilayahnya ditutup. Sebab, keberadaannya lebih banyak mudharat (keburukan)-nya daripada manfaatya. “Pertimbangannya itu. Kan lebih baik ditutup,” tandasnya.

Walikota menegaskan, tempat hiburan malam melanggar aturan dan norma agama serta merusak generasi muda, karenanya harus ditutup. Selama ini menurutnya pemkot telah memberi kesempatan kepada pengusaha tempat hiburan beroperasi. “Pemkot dulu yang memberi izin. Dan sudah saatnya izin itu ditarik lagi oleh pemkot,” ujarnya.

Jika nanti pengelola atau pengusaha tempat karaoke itu ada yang menggugat pemkot di PTUN, Walikota Hadi menyatkaan siap dan tidak gentar. “Monggo, silahkan saja. Kami tidak gentar. Saya melakukan hal ini sesuai mandat dan dan amanah masyarakat,” tegasnya. Baginya, langkah yang diambil ini tidak melanggar kaidah hukum yang ada.

Terkait dampaknya, Walikota Hadi menegaskan bahwa tanpa tempat karaoke, pertumbuhan ekonomi di wilayahnya tetap tumbuh dan berkembang. Anggapan bahwa para wisatawan dan pemilik modal (investor) tidak akan berkunjung dan tidak akan berinvestasi, dibantah oleh Walikota Hadi.

Sebab menurutnya, tidak ada korelasi secara ekonomi makro antara penutupan tempat karaoke dengan pariwisata dan investasi. “Enggak ada pengaruhnya. Kami yakin wisatawan dan pemilik modal tetap akan datang ke kota kami,” katanya.

Sementara, Kepala Dinas Satpol PP Agus Effendi mengatakan, Pop City dan 888  tidak ditutup, tetapi berhenti operasinya karena tidak memiliki izin operasi. Triple eight  izin operasinya mati sejak November 2018. Sedangkan Pop City yang izin operasinya habis 6 Juli 2019, belum mengantongi izin perpanjangan.

Lalu pada Sabtu (6/7) dini hari, Dinas Satpol PP mendatangi Pop City dan 888 kemudian meminta mereka menghentikan operasinya. Agus mengaku tidak tahu apakah pemkot akan memberikan perpanjangan izin untuk keduanya atau tidak.  “Wah itu kami tidak tahu. Itu kewenangan Pak Wali. Saya hanya melarang beroperasi, karena mereka tidak memiliki izin,” kata Agus.

Sedangkan Wisnu selaku manajer Pop City mengaku telah mendengar kabar kalau tempat karaoke yang dikelolanya akan ditutup. Tetapi menurutnya, pihaknya belum menerima pemberitahuan penutupan secara resmi.

Wisnu membenarkan izin operasi Pop City habis per 6 Juli lalu. “Dua minggu lalu sudah kami perpanjang. Tetapi hingga hari ini, kami belum menerima surat perpanjangan izinnya,” tandasnya.

Saat ditanya langkah yang akan ditempuh kalau Pop City benar-benar ditutup, Wisnu mengatakan tidak tahu. “Jika surat penutupan operasi sudah kami terima, kami bawa ke perusahaan. Soal langkah yang akan ditempuh, kami serahkan ke perusahaan,” ujarnya.

Di lapangan, kemarin masih cukup banyak orang yang datang ke Pop City. Tetapi mereka kecele dan balik kucing tanpa berkomentar. Pintu masuk terkunci dan tak ada satupun kendaraan yang parkir. Di tempat itu tidak terlihat sama sekali pemberitahuan penutupan atau libur.

Situasi serupa terlihat di tempat karaoke 888. Selain tempat karaoke di lantai dua yang tutup, café di lantai bawah juga tutup dan tanpak lengang. Di 888 juga tidak ada papan pemberitahuan penutupan. (gus/iwy)


Bagikan Artikel