Politik & Pemerintahan

Sidang Paripurna Harjakabpro, Sepi

PAJARAKAN – DPRD Kabupaten Probolinggo pada Kamis (18/4) pagi menggelar sidang paripurna istimewa dengan agenda peringatan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakabpro) ke-273. Sayangnya, paripurna istimewa itu tidak istimewa. Sebab, banyak kursi dewan yang justru kosong.
Dari pantauan Koran Pantura, sejumlah undangan pria yang hadir dalam acara sidang paripurna istimewa itu mengenakan pakaian khas, yaitu busana dominan gelap dan dilengkapi udeng okra Sembong Batik Bromo. Sedangkan para undangan perempuan mayoritas mengenakan busana kebaya warna putih.
Sayangnya, dalam acara itu cukup banyak kursi yang tampak tidak berpenghuni. Dari 4 deretan kursi, hanya dua deret kursi yang terisi. Sedangkan dua baris kursi yang berada di tengah, kosong. Dari 45 anggota dewan, hanya beberapa yang tampak hadir. Walau begitu, sidang paripurna tetap dilanjutkan.
Dalam sidang itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Musayyib menyampaikan, pihaknya meminta maaf atas keadaan tersebut. Banyak anggota dewan yang tidak bisa hadir dalam sidang paripurna istimewa itu. “Mohon maaf, yang undang legislatif, yang tidak hadir legislatif,” ujar Musayyib, di hadapan para undangan.
Menurutnya, para legislator yang tak hadir itu diperkirakan kecapekan menunggu perhitungan suara pemilu kemarin. “Kalau sudah sibuk mikirin suara, pastinya sudah lupa dengan sidang paripurna,” kata Musayyib lagi.
Kemudian, ia melanjutkan, dalam momen peringatan Harjakabpro ini tentu tidak luput dari sejarah Probolinggo di masa lalu. Sejarah itu untuk mengingatkan seluruh warga atas perjuangan para leluhur.
“Semoga dengan adanya Harjakabpro ini bisa mempererat ikatan persaudaraan antar warga kabupaten Probolinggo. Serta, Kabupaten Probolinggo terus selalu maju, lebih baik ke depannya,” tutur Musayyib.
Sementara itu, Wakil Bupati Probolinggo HA Timbul Prihanjoko sempat menjelaskan tentang logo Kabupaten Probolinggo yang dilengkapi tulisan Prasaja Ngesti Wibawa. Menurutnya, logo itu memiliki makna filosofis tentang geografis Kabupaten Probolinggo itu sendiri.
Sedangkan Prasaja Ngesti Wibawa, menurut Wabup Timbul, Prasaja adalah bersahaja, Ngesti adalah harapan, dan Wibawa adalah luhur. “Itu disepakati menjadi motto Kabupaten Probolinggo. Itu merupakan motto yang mencerminkan sebuah doa dan harapan,” katanya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan