Politik & Pemerintahan

Berusia 28 Tahun, Mobil Dinas Disnaker Tidak Layak Pakai


PROBOLINGGO – Aktivitas penjemputan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Probolinggo yang bermasalah di luar negeri ternyata cukup tinggi. Hal itu membuat Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) setempat kerap kelabakan untuk menjemput para PMI tersebut. Terlebih dengan kondisi kendaraan operasional atau mobil dinasnya yang kini telah berusia 28 tahun.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Penta) pada Disnaker Kabupaten Probolinggo Akhmad mengungkapkan, intensitas penjemputan PMI sebenarnya tidak menentu. Dalam artian sewaktu-waktu petugas Disnaker, harus selalu siap untuk melakukan penjemputan terhadap PMI. Baik yang bermasalah ataupun yang meninggal dunia. Sehingga dibutuhkan kendaraan yang layak dan selalu siap operasional.

“Kendaraan operasional dinas yang saat ini berjumlah 4 unit dan sudah berusia 28 tahun. Tentunya hal itu sangat menghambat bagi kami yang di lapangan. Apalagi hubungannya terkait dengan tugas kami dalam memberikan pelayanan dan pengurusan serta penjemputan PMI hingga sampai di rumahnya,” ujarnya, Selasa (29/11).

Dengan kondisi kendaraan yang demikian, tentu bukan hal yang aneh apabila kendaraan jenis Carry itu mogok atau mengalami kendala lainnya. Mulai dari mesin yang tiba-tiba mati hingga ban pecah di tengah jalan.

“Perawatan kendaraan yang dilakukan selama ini tidak bisa mengkhianati usia pakai kendaraan yang telah mencapai puluhan tahun. Terlebih dengan intensitas penjemputan PMI dan lokasi tempat tinggal PMI di daerah pelosok. Tentunya hal itu juga sangat berpengaruh terhadap kondisi kendaraan selama ini,” ungkapnya.

Kini, 5 kendaraan dinas tersebut kondisinya mangkrak di kantor Disnaker. Hal tersebut lantaran kondisi kendaraan yang tidak layak untuk digunakan. Apabila dipaksakan untuk digunakan, dikhawatirkan hal tersebut justru akan membahayakan keselamatan petugas dan PMI yang jadi penumpangnya.

“Kendaraan operasional kami, bisa dilihat mangkrak seperti itu. Bukan karena tidak dirawat, tapi lebih karena biaya perawatannya yang sudah tidak relevan lagi. Akhirnya terpaksa kami menggunakan kendaraan pribadi ataupun harus menyewa kendaraan lainnya,” sebutnya.

Oleh karena itu, Akhmad berharap agar ke depannya Disnaker bisa mendapatkan kendaraan operasional pengganti. Utamanya untuk yang bisa dipakai guna menunjang aktivitas penjemputan para PMI yang sewaktu-waktu harus dilakukan.

“Harapannya usulan kami untuk mendapatkan kendaraan operasional pengganti bisa diperhatikan. Terlebih dengan kondisi kendaraan operasional kami yang ada saat ini, kondisinya memang sudah tidak layak,” harapnya.

Sementara itu Kepala Badan Keuangan Daerah (Bankeuda) Kabupaten Probolinggo Dewi Korina menyampaikan, Pemkab telah melakukan pengadaan 40 mobil dinas baru untuk para Camat dan pejabat eselon II. Selanjutnya pihaknya telah melakukan pendataan usulan dari sejumlah Dinas yang kendaraannya butuh untuk dilakukan peremajaan.

“Usulannya sudah kami terima, untuk selanjutnya mobil dinas eks Camat dan pejabat eselon II yang telah diganti. Akan diserahterimakan kepada para pejabat eselon III di dinas-dinas yang membutuhkannya,” katanya.

Selanjutnya, kendaraan eks Camat dan pejabat eselon II itu diprioritaskan untuk diberikan kepada para pejabat eselon III atau setara Kepala Bidang (Kabid) kendaraan operasionalnya lebih dari 20 tahun.

“Mobil yang akan diremajakan, utamanya mobil yang tahun pembuatan 1992 atau sedikit di atas itu. Utamanya yang mobil carry yang nantinya akan ditarik dan dilelang,” terang Dewi. (tm/eem)


Bagikan Artikel