Politik & Pemerintahan

Demi Sukseskan Pilkades, Panitia Rogoh Dompet Sendiri


PROBOLINGGO – Sejumlah panitia pemilihan (panlih) Pilkades Serentak 2022 di 250 desa di Kabupaten Probolinggo hingga kini belum mendapat gaji dan anggaran operasional lainnya. Mereka sampai rela merogoh uang dari dompetnya sendiri demi terlaksananya tahapan-tahapan pilkades tersebut. Ini dirasakan salah satunya oleh Zainul Hasan dari Desa Sokaan.

Sejak pertengahan Oktober 2021 lalu, Zainul Hasan diminta menjadi ketua panitia pilkades di desa tempat ia tinggal, yaitu Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan. Tepatnya, ia diminta oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat agar menjadi penyelenggara pesta demokrasi di tingkat desa tersebut.

“Alhamdulillah dengan itikad bersama 9 orang yang terjaring dalam kepanitiaan ini, kami berkomitmen untuk mengawal suksesnya pilkades dengan sehat dan aman,” katanya saat ditemui di kediamannya, Rabu (26/1).

Sejak awal, Hasan bersama anggota panitia yang lain bekerja keras penuh semangat untuk suksesnya Pilkades Serentak 2022 ini. Namun, pada akhirnya mereka harus menuai kekecewaan. Sebab, anggaran untuk mendukung kinerjanya tidak kunjung turun.

Zainul Hasan yang juga salah seorang kepala sekolah di lembaga swasta ini sudah kerap kali muncul dalam pemberitaan terkait panlih pilkades. Khususnya yang berkaitan dengan belum cairnya gaji dan anggaran operasional untuk panitia pemilihan (panlih). Ia bercerita, bahwa yang dilakukannya itu agar pemerintah memperhatikan. Bagaimanapun, panlih sangat butuh anggaran tersebut.

Kerja keras yang ia lakukan melalui tahapan-tahapan pilkades dirasa tidak sejalan dengan pemenuhan anggarannya. Bekerja mulai tahap pendaftaran calon, penjaringan dan beberapa tahapan lainnya. Bahkan hingga tahap penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang digelar Rabu (19/1) pekan lalu.

“Dari semua tahapan yang kami lakukan itu, kami hanya mendapat kucuran dana sebesar Rp 8 juta lebih,” ungkap Hasan dengan nada sedikit tinggi.

Anggaran tersebut, lanjut Hasan, sudah habis di pertengahan bulan Desember tahun lalu. Sehingga ia harus mengeluarkan uang dari dompet sendiri. Yang dikeluarkan pun bukan jumlah yang sedikit. Uang pribadi itulah yang mendorong panitia tetap semangat bekerja.

“Kami tetap semangat dalam mengawal tahapan pilkades ini, menggunakan dana talangan pribadi, yang sampai hari ini berkisar lebih dari Rp 3 juta,” kata Hasan dengan wajah pasrah.

Sambil memegang sebatang rokok, Hasan bicara, “Gaji tak kunjung datang, dana pribadi turut tergadaikan.”

Dengan nada penuh harap, Hasan meminta agar persoalan terkait anggaran ini cepat selesai. Terlebih, pelaksanaan pilkades sudah tinggal menghitung hari.

“Harapannya anggaran cepat turun. Karena pemilihan sudah sangat dekat,” harap pria yang menjabat ketua panlih ini. (ar/iwy)


Bagikan Artikel