Politik & Pemerintahan

Tiga Bacakades Randuputih Urung Mundur


PROBOLINGGO – Polemik pemilihan kepala desa (Pilkades) Randuputih, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo mulai mencair. Hal itu setelah 3 dari 5 bakal calon kepala desa (bacakades) yang awalnya mengundurkan diri, kembali mendaftarkan diri kepada panitia pemilihan (panlih) yang baru dibentuk.

Berdasarkan pantauan Koran Pantura, proses pendaftaran kembali ketiga bacakades Randuputih tersebut berlangsung pada Kamis (30/12). Tiga pendaftar tersebut adalah Khairul Waton, Aris Sabar Iman, dan Frendi Suhermanto. Namun timbul masalah pada proses pendaftaran tersebut. Mereka datang bersama para pendukungnya.

Hal itu karena panlih yang sebelumnya dibentuk oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Randuputih sudah menyatakan mengundurkan diri sejak akhir pekan lalu. Akibatnya, tiga bacakades tersebut kebingungan untuk menyerahkan berkas pendaftarannya kepada siapa.

Setelah berkonsultasi dengan pihak pemerintah desa setempat, akhirnya diputuskan penyerahan berkas pendaftaran diserahkan setelah terbentuknya Panlih yang baru. Panlih baru akan dibentuk pada Kamis malam di Balai Desa setempat. Pembentukan panlih baru itu sudah mendapatkan persetujuan dari enam pengurus BPD setempat.

“Nanti (Kamis, red) malam pembentukan panlih yang baru. Pembentukan itu untuk menggantikan panlih lama yang sudah mengundurkan diri,” ujar Ketua BPD Randuputih Sugiono, Kamis (30/2).

Ia menerangkan, sesuai mekanisme yang ada, pembentukan panlih baru ini harus melalui mekanisme musyawarah yang mendapatkan persetujuan dari seluruh anggota BPD. Pembentukan panlih baru baru bisa dilaksanakan pada Kamis malam, lantaran adanya kesibukan masing-masing pengurus BPD.

“Untuk formasi anggota Panlihnya sudah ada. Tinggal nanti menunggu persetujuan dari seluruh anggota BPD yang ada,” kata Sugiono.

Tiga bacakades dimaksud sudah mengetahui jika panlih baru akan dibentuk pada Kamis malam. Tiga bacakades yang sebelumnya sempat mengundurkan diri itu mengungkapkan harapan agar pembentukan Panlih baru benar-benar netral dan tidak disusupi kepentingan dari salah satu pihak.

Mereka mengungkapkan salah satu alasan mereka mundur dari bursa pencalonan kepala desa. Yakni karena ketidakpuasan terhadap inkonsistensi dari panlih yang diduga tidak netral.

“Alasan kami kompak mundur sebelumnya, karena panlih tidak konsisten dan cenderung tidak netral. Hasil rapat pleno sebelumnya menyatakan lima bacakades telah lolos skoring. Namun kemudian direvisi dengan menggugurkan salah satunya, lalu hendak memasukkan bacakades lain yang sebelumnya dinyatakan tidak lolos,” ungkap Frendi Suhermanto, salah satu bacakades yang hendak maju kembali.

Ia menyatakan, ketidak konsistenan panlih tersebut pada akhirnya membuat lima bacakades yang telah dinyatakan lolos tahapan skoring itu enggan, bahkan kecewa untuk melanjutkan keikutsertaannya pada pada tahapan Pilkades selanjutnya. “Akhirnya kami tarik lagi seluruh berkas pendaftaran kami. Hal itu sebagai bentuk rasa kekecewaan kami kepada inkonsistensi panitia,” sergah Frendi.

Pendukung dan warga Desa Randuputih mengetahui jika lima bacakades setempat mundur. Hal itu membuat pendukung membujuk bacakades untuk mengurungkan niatnya mundur dari tahapan Pilkades. Sebab jika mereka tetap mundur, hal itu akan mengancam kelangsungan Pilkades Randuputih.

“Atas desakan warga dan pendukung kami, kami putuskan untuk mengurungkan niat kami untuk mundur dalam tahapan Pilkades Randuputih ini. Hal ini murni atas desakan dan keinginan warga. Sebagai representasi dari mereka, kami beranikan diri untuk kembali maju di Pilkades serentak ini,” tegas Frendi.

Hal senada juga dikemukakan Aris Sabar Iman, bacakades lainnya. Ia mengatakan, pada dasarnya warga Desa Randuputih tidak menghendaki Pilkades diundur karena 5 bacakades mundur dari pencalonan. Jika itu terjadi, hal itu akan dianggap sebagai kegagalan warga Desa Randuputih dalam menjalankan Demokrasi dan menentukan pemimpinnya.

“Kalau hanya mementingkan ego dan kepentingan masing-masing, khawatirnya pembangunan di Desa Randuputih terhenti. Karena itu Pilkades harus tetap digelar demi menentukan pemimpin desa yang amanah pada rakyatnya,” kata Aris.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa (Pj Kades) Randuputih Hudan saat ditemui oleh ketiga bacakades bersama puluhan warga desanya mengatakan, ada mekanisme yang harus dilalui oleh para bacakades untuk kembali maju di tahapan Pilkades. Namun hal itu bergantung dari kebijakan Panlih yang baru dibentuk nantinya. “Apakah mereka mau menerima atau tidak. Itu masalahnya,” kata Hudan.

Namun, Hudan optimis panlih baru akan mengakomodasi keinginan tiga bacakades tersebut untuk ikut serta kembali di tahapan Pilkades.

“Mereka ini sudah ditetapkan lolos dalam tahapan penetapan sebagai cakades. Namun kemudian mereka mengundurkan diri karena tidak puas. Lantas mereka mengurungkan pengunduran diri mereka, karena desakan masyarakat. Kita harus menghormati itu dan berupaya memfasilitasinya,” kata Hudan.

Lebih lanjut Hudan menyampaikan, demi menjaga kondusivitas desa, maka seharusnya proses penerimaan kembali Bacakades yang sempat mundur sebagai Cakades ini bisa dilakukan. Terlebih batas waktu akhir penetapan yakni pada tanggal 5 Januari pekan depan.

“Paling penting bagi kami yakni kondusivitas desa. Urusan Pilkades biar panlih yang baru nanti yang menentukan. Tentunya mereka harus berkonsultasi dulu dengan panlih di atasnya,” ujarnya. (tm/eem)


Bagikan Artikel