Politik & Pemerintahan

Bedak Pasar Dijual lewat Facebook


PROBOLINGGO – Bedak di Pasar Mangunharjo Kota Probolinggo ada yang ditawarkan dijual melalui sosial media facebook. Ini jelas tidak diperbolehkan. Sebab, bedak dalam pasar tersebut merupakan aset Pemkot Probolinggo. Karenanya, Dinas Koperasi Usaha Mikro, Pedagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo akan mengecek bedak yang ditawarkan di sosmed itu.

Kepala DKUPP Fitriawati Jufri mengatakan, pihaknya akan memanggil pengelola bedak tersebut. Sebab, jual beli lapak atau bedak milik pemkot jelas tidak diperkenankan. Jika tidak ditempati karena sepi atau alasan lain, hendaknya dikembalikan kepada pemkot, atau OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait.

“Tidak boleh menjual lapak milik pemkot, dimanapun lokasinya. Terima kasih ya infonya, besuk kami croscek ke sana,” tandas Fitriawati saat dikonfirmasi kemarin (29/8) sore. Menurutnya, 

Fitriawati menyatakan, hari ini pihaknya akan melakukan kroscek kebenaran kabar tersebut. Kalau memang tidak ditempati lagi dengan alasan sepi atau pindah alamat, hendaknya diserahkan ke pemkot. Nantinya bedak itu akan diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. “Ya seharusnya diserahkan ke kami. Nanti kami berikan ke pedagang  atau warga yang butuh,” jelasnya.

Dijelaskan, pemkot tidak pernah menjual bedak. Pedagang hanya menempati. Kewajbannya hanya membayar retribusi jika berjualan. Sedangkan kalau libur atau tutup, tidak perlu membayar retribusi.

Dari pantauan Koran Pantura kemarin, bedak yang ditawarkan dijual lewat facebook itu memang ada. Bedak itu warna cat dindingnya sama persis dengan foto bedak yang ditawarkan di  sosmed. Lapak itu berukuran sekitar 4 x 4 meter dan dalam kondisi tertutup.

Berdasar informasi yang didapat di lapangan, sudah lama tidak ditempati oleh pengelolanya yang bernama Sutiadi. Pria yang tinggal di Perumahan Wiroborang ini membenarkan penjualan bedak itu. tetapi yang menjual bukan dirinya, melainkan salah seorang anaknya yang kini tinggal di Malang.

Bedak itu hendak dipindah-tangan, selain karena sepi juga lantaran tempat tinggal anaknya jauh. “Sepi dan anak saya tinggal di Malang. Sudah lama tidak ditempati,” kata Sutiadai saat dikonfirmasi kemarin.

Pada postingan di facebook, bedak bercat kuning tersebut ditawarkan Rp 18 juta. Penawaran itu diposting 2 hari yang lalu. Namun, hingga kemarin belum ada yang tertarik menawar.

Sutiadi membenarkan kalau bedak itu milik pemkot.  “Kami hanya menempati. Statusnya pinjam pakai, bukan dimiliki,” tandasnya.

Saat ditanya apakah boleh menjual bedag milik pemkot, Sutiadi menjawab tidak tahu. Yang jelas, status bedak tersebut hanya pinjam pakai. Ia berkewajiban membayar retribusi saat buka. Besarannya tergantung kondisi jualan. “Lihat yang dijual dan laris atau sepi. Kalau sepi, ya retribusinya kecil,” ujarnya.

Sutiadi mengaku memiliki tiga bedak. Satu bedak ditempati anaknya. Sedangkan dua bedak lainnya dipakai sendiri untuk berjualan sepeda bekas beserta perlengkapannya. Sutiadi mengaku juga membeli bedak dari orang yang menempati sebelumnya. “Kami mengoper dari orang lain. Ya, beli. Tapi kalau ke pemkot, hanya bayar retribusi,” ujarnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel