Peristiwa

Kurang Informasi, Tolak Pemakaman secara Prokes


DRINGU – Peristiwa penolakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 secara protokol kesehatan (prokes) kembali terjadi di kabupaten Probolinggo. Kemarin (26/7) di Desa Randuputih, Kecamatan Dringu, pemakaman jenazah  NH (18) secara prokes sempat ditolak oleh keluarga dan warga setempat. Namun, setelah dimediasi, mereka setuju pemakaman dilakukan sesuai prokes.

NH merupakan warga Dusun Parsean, Desa Randuputih, Kecamatan Dringu.  Sebelumnya, NH menjalani perawatan selama 3 hari di RSUD Waluyo Jati Kraksaan. NH kemudian meninggal dunia pada Senin (26/7) sekitar pukul 08.00 pagi. NH dinyatakan terpapar  Covid-19.

Pihak RSUD Waluyo Jati Kraksaan melakukan proses pemulasaran sesuai dengan prokes pandemi Covid-19. Selanjutnya dari RSUD Waluyo Jati, jenazah dibawa menggunakan mobil ambulans menuju pemakaman lereng bukit Bentar yang tak jauh dari rumah duka.

Sekitar pukul 11.00, jenazah NH yang ditempatkan dalam peti jenasah tiba di tempat pemakaman umum (TPU) tersebut. Saat itu di lokasi telah menanti ratusan warga, termasuk dari pihak keluarga.

Situasi panas terjadi. Pihak keluarga mencoba menghalangi petugas untuk memulai proses pemakaman terhadap jenazah NH. Tampak sejumlah anggota keluarga termasuk dari orang tua NH, menghalangi proses pemakaman. Bahkan sempat ada anggota keluarga yang pingsan ketika jenazah dibawa ke liang lahat.

Dalam situasi ini, anggota Polsek Dringu dan Satpol PP kecamatan Dringu yang mengawal proses pemakaman tersebut segera mengendalikan situasi agar tidak sampai terjadi kericuhan. Sempat terdengar teriakan ancaman dari pihak keluarga bahwa peti jenasah akan dibongkar secara paksa jika petugas tidak menuruti keinginan keluarga. Mereka ingin lebih dahulu menyemayamkan NH di rumah duka, atau bahkan nekat membongkar makam setelahnya.

Mendengar ancaman tersebut, pihak Polsek Dringu, Satpol PP Dringu, dan pemerintah Desa Randuputih bergerak cepat menemui pihak keluarga NH. Dari mediasi tersebut pihak keluarga mengurungkan niatnya untuk membongkar paksa peti jenazah. 

“Alhamdulillah anggota kami di lapangan berhasil dengan cepat meredam dan meyakinkan kepada pihak keluarga dari almarhum agar tidak melakukan aksi buka paksa peti atau pembongkaran makam. Setelah mediasi itu berhasil, situasi dan kondisi di sekitar Dusun Parsean pun kembali kondusif,” ujar Kapolsek Dringu Iptu Bagus Purnama.

Mantan Kapolsek Gading ini menjelaskan bahwa pada dasarnya, penolakan dari pihak keluarga terjadi karena kurangnya informasi terkait penyebab meninggalnya NH. “Pihak keluarga keberatan karena menduga NH tidak meninggal akibat Covid-19. Karena sepengetahuan mereka, NH yang selama ini mondok di salah satu Ponpes di kecamatan Gending tidak memiliki riwayat penyakit,” jelasnya.

Dalam mediasi, dijelaskan bahwa NH dinyatakan positif terpapar Covid-19. “Akhirnya pihak keluarga bisa memahami bahwasannya proses pemulasaran NH sudah dilakukan sesuai prokes dan syariah Islam,” sebutnya.

Sementara, Kepala Dusun Parsean Desa Randuputih Herman yang juga paman dari NH, mengatakan bahwa aksi penolakan ini terjadi lantaran simpang siurnya informasi yang diterima oleh pihak keluarga terkait penyebab meninggalnya NH. “Infonya tidak jelas dari pihak rumah sakit terkait penyebab meninggalnya keponakan kami itu. Akhirnya pihak keluarga menaruh curiga, jangan-jangan NH sengaja dicovidkan oleh pihak rumah sakit,” katanya.

Karenanya, dalam mediasi, pihak keluarga meminta kepada pihak kepolisian melakukan kroscek informasi penyebab meninggalnya NH kepada pihak RSUD Waluyo Jati. Akhirnya permintaan itu pun dituruti, dan didapatkanlah data bahwa NH tertular Covid-19. “Kami dari pihak keluarga telah menerima proses pemakaman NH sesuai dengan prokes,” kata Herman. (tm/iwy)


Bagikan Artikel