Peristiwa

H. Edi Saputro, Dermawan dengan Sebutan “Hamba Allah”


KRAKSAAN – Suasana duka menyelimuti Pondok Pesantren HATI di Dusun Toroyan, Desa Rangkang, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (25/7) sekitar pukul 08.00. Para santri mendirikan sholat jenazah. Yang disholatkan adalah H. Edi Saputro. Ia seorang dermawan.

Santri yang jumlahnya ratusan itu berkumpul di halaman masjid Bin Aminuddin di kawasan pondok setempat. Tampak pula Wakil Ketua Komisi IV DPR RI H. Hasan Aminuddin, ada juga Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, dan para pengurus pesantren.

Semuanya berdiri tanpa terkecuali. Mereka berpanas-panasan. Beberapa santri berwajah penasaran, bertanya-tanya ada apakah gerangan. Tapi ada juga yang sudah tahu lebih dulu maksud dan tujuan mereka ada di tempat itu. Ada kabar yang mereka dengar bahwa akan ada jenazah yang akan mereka sholatkan di halaman masjid.

Jawaban dari pertanyaan wajah-wajah penasaran itu akhirnya terjawab. Beberapa saat setelah mereka berkumpul, datanglah sebuah mobil ambulans. Mobil itu masuk halaman masjid. Mobil ini menghadap ke utara. Di dalamnya ada satu jenazah. Sudah rapi. Sudah siap disholatkan.

Jenazah tidak diturunkan dari ambulans. Sejurus kemudian, seseorang maju sendirian untuk menjadi imam sholat jenazah. Ia adalah Ustadz Cholili Ishom, Kepala MI Nahdlatul Ulama Kraksaan. Imam dan jamaah menghadap ke barat. Ambulans ada di depan mereka. Usai 4 kali salam, usai pula doanya, lalu terdengar ucapan salam dari H. Hasan Aminuddin.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Beliau ini namanya H. Edi Saputro, ini sahabat saya. Salah satu orang dermawan yang saya kenal. Suka memberi, tapi tak mau disebut-sebut namanya,” ungkap Hasan.

Suasana langsung hening. Yang terdengar hanya kisah tentang H. Edi yang dituturkan oleh Hasan. Politisi Partai NasDem ini mengaku cukup terpukul karena H. Edi telah dikenalnya cukup lama. Sejak 1989.

“Almarhum ini, setahu saya, sudah tiga kali memberangkatkan 3 orang untuk umrah. Biayanya semuanya ditanggung almarhum. Subhanallah,” ungkap Hasan.

Proses sholat jenazah almarhum oleh santri Pondok HATI

Namun yang luar biasa bagi Hasan, almarhum tidak mau mengakui bahwa dirinyalah yang memberangkatkan 3 orang itu. “Kata almarhum, yang memberangkatkan 3 orang itu untuk umrah adalah saya, Hasan Aminuddin. Padahal yang membiayai umrah itu adalah almarhum H. Edi,” terang Hasan.

Kisah kedermawanan H Edi bagi Hasan, tidak hanya bisa diungkapkan hanya oleh Hasan sendiri. Sebab banyak orang lain yang mendapat manfaat dari sedekah yang dikeluarkan oleh H. Edi.

“Beliau juga banyak memberikan bantuan ketika pendirian Masjid Bin Aminuddin ini dan juga untuk pondok dan santri. Almarhum sudah terlalu sering memberi bantuan. Sejak saya mengenal almarhum, orangnya memang senang memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan,” terang Hasan.

Memang benar. Kisah kedermawanan H. Edi tak hanya dialami oleh Hasan Aminuddin. Banyak orang lain yang merasakan atau melihat kedermawanan H. Edi. Misalnya H. Didik Abdur Rohim, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Probolinggo.

“Beliau ini posisi Bendahara 2 Pengurus Takmir Masjid Agung Ar-Raudloh Kraksaan. Orangnya luar biasa dermawan tapi tidak pernah mau menampakkan ke orang lain,” terang pria yang cukup aktif di dunia takmir masjid di wilayah Kabupaten Probolinggo ini.

Penuturan kurang lebih sama juga diutarakan H. Nurul Yaqin, rekan H. Edi sesama Pengurus Takmir Masjid Agung Ar-Raudloh. Ia mengaku mengenal H. Edi, meski tidak cukup akrab.

“Setahu saya orangnya tidak mau ditulis namanya kalau menyumbangkan sesuatu. Padahal sumbangannya tidak sedikit dan dilakukan berulang kali. Beliau baru bersedia kalau ditulis ‘sumbangan dari hamba Allah’. Kalau begitu baru mau,” tutur H. Yaqin.

Kini, sudah banyak kolega dari H. Edi yang tahu tentang kabar duka cita tersebut. H Yaqin percaya tidak sedikit yang mendirikan tahlil bersama untuk mendoakan H. Edi berkat kedermawanan semasa hidupnya.

“Mungkin tahlilnya di beberapa tempat terpisah. Banyak orang yang merasa kehilangan H. Edi ini. Orangnya meninggalkan kenangan mendalam. Lebih-lebih kalau ingat dermawannya itu,” ungkapnya. (eem)


Bagikan Artikel