Peristiwa

Oksigen Terbatas, IGD RSUD Tutup


PROBOLINGGO –  Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Moh. Saleh pada Minggu (25/7) dinyatakan tutup. IGD pada RSUD yang berlokasi di Jalan DI Panjaitan Kota Probolinggo ini tidak menerima pasien baru, karena pasokan oksigen terbatas.

Alasan tersebut sesuai dengan pemberitahuan yang dipasang manajemen RSUD  di luar pintu masuk IGD. Belum diketahui sampai kapan IGD ditutup dan akan dibuka kembali. Disebutkan, IGD baru akan dibuka lagi apabila stok oksigen aman.

Berdasar informasi yang dihimpun, Minggu sore pihak RSUD mendapat kepastian 180 tabung oksigen akan tiba. Oksigen tersebut akan dikirim oleh dua produsen, yakni  Samator dan CV Candi.

Kepastian tersebut dipertegas Plt Direktur RSUD dr Abraar Hs Kuddah, Minggu sore. Itu setelah dr Abraar berkunjung ke perwakilan Samator di Dringu, Kabupaten Probolinggo, bersama Kajari Kota Probolinggo Hartono. Dari 180 tabung yang akan tiba, 120 akan dikirim PT Samator dan 60 tabung CV Candi. “Sore hari ini datang. Tadi mereka sanggup mengirim 180 tabung,” kata dr Abraar.

IGD RSUD tidak menerima pasien, bukan karena ketersediaan tabung habis, tetapi dr Abraar tidak ingin pasien covid meninggal hanya karena pasokan oksigen terlambat. Disebutkan, ketersediaan tabung saat ini tinggal 20 yang stand by di tempat. “Di seluruh ruangan, tersedia,” tandasnya.

Karena ketersediaan tabung menipis, pihaknya kemudian mengambil keputusan menutup sementara IGD untuk pasien Covid-19. Sedang untuk pasien yang lain atau non-Covid tetap dilayani. Tak hanya itu, RSUD juga mengarahkan pasien Covid-19 yang tinggal di kabupaten untuk ke RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.

“Kami bukan menolak pasien Covid-19, tapi mengarahkan. Kami khawatir di sini kekurangan oksigen. “Kalau RSUD Kraksan, ketersediaannnya masih cukup,” lanjutnya.

Saat ditanya sampai kapan IGD ditutup, dr Abraar menjawab akan mengikuti situasi. Jika Minggu petang 180 tabung tiba, IGD akan langsung dibuka. “Sebenarnya tidak ditutup total sih. Hanya, kami lebih selektif. Pasien yang mau operasi caesar, tetap kami layani,” tegasnya.

Abraar juga menegaskan, pihaknya sudah meminta perusahaan penyuplai oksigen  agar terus mengirim oksigen sesuai kebutuhan. Setiap hari RSUD butuh 300-an tabung oksigen. Kebutuhan tersebut harus dipenuhi dan tidak bisa ditunda. “Kalau telat, terus ada pasien yang meninggal, gimana. Harus disuplai, karena ini menyangkut nyawa pasien,” tandasnya.

Kebutuhan 300 tabung oksigen setiap hari itu terjadi selama pandemi, yakni naik 5 kali lipat dibanding situasi normal dengan hanya 60 tabung. Kebutuhan tabung naik  karena pasien yang membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak. Terutama  pasien yang menggunakan alat bantu kesehatan.

“Pasien yang mengalami desaturasi kebutuhan oksigennya 10 sampai 15 liter setiap menit. Sedangkan pasien yang menggunakan alat, kebutuhannya sampai 50 liter per menit,” tambahnya.

Minimnya pasokan tabung oksigen, terjadi terutama minggu dan hari-hari libur lainnya. Karenanya, Abraar stand by di RSUD memantau perkembangan. Jika ketersediaan oksigen minim seperti saat ini, ia langsung meluncur ke kantor perwakilan supplier tabung.

“Sampai saat ini kami belum bisa mengatasi hal ini. Sedang produksi Samator dan Candi, terbatas. Tapi kami upayakan agar oksigen tidak sampai habis,” imbuhnya.

Disinggung jumlah pasien, pemilik RS Dharma Husada ini menyebut sekitar 80 pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD. Menurutnya, jumlah pasien Covid-19 yang meninggal di RSUD setiap harinya rata-rata 4 sampai 5 pasien.

“Ya, angka kematiannya masih cukup tinggi. Kalau terus seperti ini mungkin Kota Probolinggo masuk level IV di PPKM-nya,” tukas Abraar.

 Penyebabnya, bukan karena ketiadaan oksigen, tetapi lebih karena terlambat masuk rumah sakit. Masyarakat enggan dirawat di RSUD karena takut dicovidkan.  “Padahal itu hanya anggapan masyarakat. Harusnya, saat badan tidak enak, harus ke rumah sakit. Jangan menunggu sampai hilang penciuman. Itu sudah terlambat,” katanya.  (gus/iwy)


Bagikan Artikel