Peristiwa

Dagangan Tidak Laris, Pedagang Ternak Musiman Bertahan


PROBOLINGGO – Meski Selasa (20/7) pagi umat Muslim telah melakukan salat Idul Adha 1442 Hijriyah, namun masih ada pedagang ternak musiman yang masih bertahan. Pasalnya, sampai Selasa pagi itu masih ada beberapa ekor kambingnya yang belum laku.

Salah satu pedagang ternak musiman yang bertahan itu adalah Bahri (55). Saat ditemui kemarin siang, Bahri belum hengkang dari tempat jualannya di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan. Masih ada 3 ekor kambingnya belum laku.

Pria asal Kelurahan/Kecamatan Wonoasih itu menyatakan tetap akan pulang. Sejak pagi ia sudah berkemas dan tinggal membongkar tenda. Selasa siang, ada seseorang yang menawar seekor kambingya. Tetapi sayang, tidak tercapai kesepakatan harga. “Biar saya bawa ke pasar saja atau saya jual di rumah,” tandasnya.

Dibanding hari raya kurban tahun sebelumnya, Bahri menyatakan lebih ramai. Dari 116 ekor kambing yang dijual, seluruhnya laku. Sedangkan di tahun ini Bahri membawa 106 ekor kambing, tetapi masih ada sisa 3 ekor. “Agak sepi tahun ini. Mungkin karena pandemi. Tahun lalu 166 ekor habis dalam 18 hari. Sekarang jualan 21 hari masih sisa 3 ekor,” jelasnya.

Meski sepi, harga kambing lebih mahal sekarang. Rata-rata ada kenaikan sekitar 10 persen. Tahun 2020 ia menjual kambing dengan harga Rp 2 –  3,4 juta per ekor. “Kemarin ada yang laku Rp 5,2 juta. Paling murah Rp 2,5 juta,” katanya.

Pria yang sudah 10 tahun berjualan kambing di lokasi tersebut berharap, PPKM darurat segera berakhir agar kondisi ekonomi bisa kembali normal.

Sementara itu, Slamet (37), pedagang lain  di Jalan Sunan Ampel, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kanigaran, kondisinya lebih terpuruk. Dari 13 ekor kambing yang dijual, hanya laku 10 ekor. Tersisa 3 ekor yang belum laku.

Selain harga mahal, menurutnya, pembeli sepi karena PPKM darurat membuat  masyarakat malas keluar rumah. “Laku atau tidak laku, hari ini kami harus pulang,” tegas  pria asal Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran tersebut.

Ia tidak memungkiri kalau mendapat untung. Tetapi labanya terkurangi oleh biaya jaga dan konsumsi. “Keuntungannya berkurang, bahkan habis. Tetangga dan teman-teman saya kalau malam ke sini. Masak mereka enggak saya kasih makan dan rokok,” jelasnya.

Slamet menyatakan, berdagang hewan kurban di tahun 2020 masih lebih enak. Dari 60 ekor kambing yang dijual, seluruhnya laku. “Tahun lalu jualan hanya 2 minggu, laku semua. Sekarang masih sisa 3 ekor,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel