Peristiwa

Truk Tebu Rusak Jalan Kabupaten


DRINGU – Aktivitas puluhan truk pengangkut tebu yang setiap harinya melintasi jalan di kabupaten Probolinggo membuat jalur tersebut rusak. Seperti di jalan penghubung kecamatan Tegalsiwalan-Dringu. Bahkan, kerusakan jalan cukup parah ada di banyak titiknya.

Selain merusak kondisi jalan, aktivitas puluhan truk pengangkut tebu tersebut juga dinilai menggangu kenyamanan dan membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya. Pasalnya, badan truk yang besar dan sarat muatan itu dapat mengganggu jarak pandang pengguna jalan yang lain, dan dapat memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Syaiful (46), seorang warga Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan mengaku, jika dirinya sangat terganggu dengan adanya aktivitas truk tebu yang melintas di sepanjang jalur Tegalsiwalan – Dringu. Karena selain merusak jalan, dia menyebut beberapa kali harus sampai mengerem mendadak akibat laju truk pengangkut tebu yang ugal-ugalan di jalur sempit.

“Jalan itu serasa sudah milik pengemudi truk pengangkut tebu itu. Sudah berkendaranya ugal-ugalan, pas diklakson agar memberi jalan bagi pemotor untuk mendahului, eh malah tidak dihiraukan. Siapa yang tidak emosi kalau setiap harinya dibegitukan,” cetusnya, Senin (12/7) kemarin.

Kondisi jalan yang rusak itu, katanya, menyulitkannya ketika berkendara di malam hari. Bahkan tidak jarang dirinya berpapasan dengan pengendara yang terjatuh atau motornya mengalami kerusakan akibat menerjang lubang yang ada di tengah jalan.

“Setahu saya katanya jalan ini bukan untuk dilintasi truk pengangkut tebu. Tapi kenapa kok mereka bisa kembali lewat sini. Ini pasti ada yang tidak beres, entah itu di Dishub, Satlantas, atau justru oknum sopirnya sendiri,” sebutnya.

Sementara itu, Yusron (35), seorang sopir asal Lumajang mengaku bahwa sebenarnya dia juga malas untuk melintasi jalur Tegalsiwlaan-Dringu. Selain ruas jalannya sempit, juga banyak kendaraan kecil yang lalu lalang sehingga menyulitkannya ketika berkendara.

“Tapi mau bagaimana lagi, jembatan Kedungasem di Kota Probolinggo itu gak selesai-selesai pembangunannya. Padahal sudah sekian tahun, tapi masih saja gak beres. Akhirnya kami pun realistis mencari jalur tercepat untuk bisa bongkar muatan tebunya di PG Wonolangan Dringu,” akunya.

Terkait dituduh sebagai biang kerusakan jalan kabupaten Probolinggo itu, Yusron tak mengelak. Menurutnya, dengan beban muatan hingga mencapai 8 ton dan kelas jalan yang dilintasi yakni III C atau maksimal 6 ton, maka tak heran kondisi jalan aspalnya menjadi cepat rusak.

“Sebenarnya bukan kelas jalannya, tapi kami sebagai sopir juga kejar setoran. Dimana  semakin banyak kami lakukan bongkar muatnya, semakin banyak upah yang didapat,”  ujarnya singkat. (tm/awi)


Bagikan Artikel