Peristiwa

Guru Terpapar Covid, Aktivitas MI di Mayangan Dihentikan


PROBOLINGGO – Aktivitas di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, dihentikan sementara. Sebab, salah seorang pengajar berinisial NR dinyatakan terkonfirmasi Covid-19. Selanjutnya, seluruh pengajar dan pegawainya menjalani karantina.  

Penghentian aktivitas di MI tersebut terhitung mulai 15 Juni, tepatnya  setelah NR diketahui positif terpapar virus corona. SF selaku kepala MI tersebut menyatakan hal itu saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (23/6) siang. SF berterus terang tidak bisa menemui wartawan lantaran dirinya juga tengah menjalani karantina mandiri.

SF tidak diperbolehkan keluar rumah maupun datang ke sekolahannya. Padahal hasil tes antigen dirinya negatif, begitu juga dengan guru yang lain. SF dan sebagian besar rekan seprofesinya melakukan tes mandiri. Sedangkan sebagian yang lain dites swab di tempat karantina pemkot, yaitu Rusunawa Mayangan. “Hasilnya negatif semua. Kok malah kita tidak boleh kemana-mana,” katanya.

SF heran mengapa seluruh rekannya tidak boleh kemana-mana. Padahal, sebelum dinyatakan positif pada 15 Juni lalu, NR tidak pernah mendatangi sekolah. Kesehariannya dihabiskan di pasar untuk berjualan. “Sudah lama NR nggak ke sekolah. Kita tidak pernah belajar-mengajar tatap muka. Ya, via daring,” ungkapnya.

Mengapa seluruh guru dikarantina? SF menjawab, karena saat ditanya petugas kesehatan, NR mengaku berprofesi sebagai pengajar di MI. Karena pengakuan itulah kemudian seluruh guru dan pegawai lainnya tidak boleh ke sekolah. “Kita ke sekolah hanya saat pembagian rapor. Belajarnya ya pakai aplikasi,” ungkapnya.

Dijelaskan, NR positif setelah ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit. Saat diswab, NR dinyatakan positif, tertular ibunya. Namun, hingga kini SF tidak melihat dan tidak pernah tahu bukti swabnya. “Kami tidak tahu hasil tesnya. Saya tanya ke petugasnya, tidak diperlihatkan. Katanya ada di data. Lho kita butuh hasil swab, bukan data,” tandasnya.

SF menyayangkan hasil tes antigen yang dilakukan secara mandiri tidak diakui. SF tetap tidak boleh keluar rumah, karena harus karantina mandiri. Saran itu pun dia lakukan.  “Kok bisa test antigen tidak diakui,” tambahnya.

Apakah sekolahannya dilockdown? SF menjawab tidak. Hanya, tidak ada aktivitas apapun di sekolah yang dipimpinnya. “Hingga saat ini tidak ada pembelajaran tatap muka, karena sekolah masih libur. Masuk sekolah kan masih Juli,” katanya. 

Sementara, Jubir Satgas Percepatan Penanangan Covid-19 Kota Probolinggo dr Abraar HS Kuddah membenarkan ada seorang pengajar MI terpapar Covid-19. Saat itu juga petugas Dinas Kesehatan melakukan tracing kepada orang yang kontak erat dengan pasien, seperti guru atau rekan korban lainnya.

Selanjutnya, orang-orang di lingkungan MI tersebut diarahkan untuk melakukan karantina mandiri. (gus/iwy)


Bagikan Artikel