Peristiwa

SMKN 4 dan SMK A Yani Kota Probolinggo Sepakat Berdamai


PROBOLINGGO – Kesepakatan damai dicapai oleh dua sekolah di Kota Probolinggo yang beberapa hari terakhir pelajarnya terlibat aksi saling show off, yaitu SMKN 4 dan SMK Ahmad Yani. Rabu (9/6) sekitar pukul 09.30, kedua pihak sekolah tersebut sepakat meneken deklarasi atau ikrar damai berisi tujuh poin.

Deklarasi damai itu dilangsungkan di SMK Ahmad Yani lebih dulu dengan dihadiri perwakilan dari SMKN 4. Setelah itu, deklarasi dilakukan di SMKN 4, juga dihadiri perwakilan dari SMK Ahmad Yani.

 Deklarasi yang difasilitasi TNI dan Polri ini dilakukan karena aksi saling balas show off pelajar SMK Ahmad Yani dan SMKN 4 beberapa hari lalu sudah mengarah ke tindakan anarkis. SMK Ahmad Yani dilempari menggunakan batu.

 Kapolsek Wonoasih Kompol Kuzaini mengatakan, penyerangan gedung SMK A Yani Senin (7/6) lalu hanya karena salah paham. “Mereka bersitegang saat berkonvoi meluapkan rasa gembiranya, pasca pengumuman kelulusan,” kata Kompol Kuzaini usai mengikuti deklarasi damai di SMK A Yani.

Menurutnya, tidak ada pelajar yang diamankan polisi dari kejadian tersebut. Pertikaian pelajar dua sekolah kejuruan tersebut sudah diselesaikan dengan cara damai. “Barusan deklarasi damainya,” katanya.

Kompol Kuzaini berharap, ke depan tidak ada lagi pertikaian antar sekolah yang dipicu  kenakalan remaja. Kapolsek menghimbau pelajar untuk tidak terperangkap dalam ajang permusuhan.

“Sudah bukan saatnya saling bermusuhan. Pelajar itu tugasnya belajar, bukan bertengkar. Acara deklarasi ini menjadi ajang silaturrahim kedua sekolah, baik guru dan siswanya,” ujar Kompol Kuzaini.

Sementara, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur di Probolinggo Kiswanto menyadari, pihak SMK A Yani tidak mendatangkan seluruh siswa kelas 12. Begitu pula SMKN 4.  “Ya, karena masih pandemi Covid-19. Siswa yang diundang terbatas, hanya perwakilan,” tandasnya.

Khusus SMKN 4 dan SMK A Yani, Kiswanto menyatakan pihaknya akan menggelar pembinaan lagi. Pesertanya adalah seluruh pelajar kelas 12. Hanya, pembinaan tersebut akan diadakan bertahap. “Ngumpul dalam jumlah banyak tidak boleh. Kan masih pandemi,” katanya.

Selain dua sekolah tersebut, pembinaan serupa juga akan dilakukan pada sekolah lain.  Tujuannya agar insiden semacam ini tidak meluas ke sekolah lain. “Seluruh sekolah nanti kita bina, meski kita sering melakukan hal itu. Ya, karena kejadian ini,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel