Peristiwa

SMK Yani Dilempari Batu Puluhan Pelajar Konvoi


PROBOLINGGO – SMK Ahmad Yani di Jl Mastrip Kota  Probolinggo Senin (7/6)  mendadak diserang puluhan pelajar dengan cara dilempari batu. Meski tidak ada korban luka, namun pelemparan batu yang terjadi sekitar pukul 12.00 tersebut membuat guru dan murid kaget. Beberapa titik kaca ruang guru pecah.

Pihak SMK A. Yani usai kejadian langsung melapor ke Polsek Wonoasih. “Enggak tahu pelajar mana. Tapi kami sudah melapor ke Polsek Wonoasih,” tandas Septa selaku wakil kepala sekolah bagian kesiswaan SMK A Yani saat ditemui siang kemarin. 

Septa mengaku tidak tahu penyebab atau motif penyerangan tersebut. Yang jelas menurutnya, kantor diserang saat pegawai admin ada di dalam ruangan. “Di dekat jendela yang dilempar, ada pegawai. Tapi enggak kena lemparan batu. Semuanya selamat,” katanya.

Saat ditanya apakah siswa yang menyerang memiliki permasalahan dengan siswa atau orang kantor dan pihak SMK A Yani, Septa juga mengaku tidak tahu. Terlebih, saat kejadian dirinya tengah berada di SMKN 4. “Saya tidak tahu, karena waktu pelemparan, kami ada di SMKN 4,” ungkapnya.

Sedangkan Yani, satpam SMK A Yani, menyaksikan pelemparan itu dilakukan puluhan siswa yang sedang konvoi motor. Yani sempat menghalau para pelajar itu. “Saya suruh pergi. Lalu mereka pergi,” ujarnya.

Menurut Yani, puluhan pelajar dengan seragam penuh coretan tersebut datang dari arah selatan. Mereka tiba-tiba berhenti di depan SMK A Yani dan langsung melempar batu. “Konvoi dari arah selatan. Ada yang berseragam penuh coretan dan ada yang tidak mengenakan seragam,” tambah Yani.

Sementara, Purnomo (51), seorang pedagang kaki lima yang berjualan mie dan kopi di depan SMK Ahmad Yani, membenarkan ada siswa yang melempari SMK A Yani dengan batu dari pinggir jalan. Tetapi Purnomo mengaku tidak mengetahui persoalan atau penyebabnya. “Bicaranya saya tidak mengerti. Bicara pakai bahasa Madura,” ujar pria asal Medan itu.

Dikatakan, konvoi pelajar itu mendadak berhenti di depan warungnya dari utara hingga ke selatan. Ratusan pelajar yang berkonvoi tersebut ada dua kelompok. Kelompok pertama yang melempar kantor SMK A Yani. Sedangkan kelompok kedua tidak melakukan apa-apa. “Kelompok pertama yang melempar. Lalu pergi. Terus datang kelompok dua. Mereka tdak melakukan apa-apa,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun Koran Pantura, para pelajar yang melempari SMK A Yani itu berasal dari SMKN 4 Kota Probolinggo.

Sedangkan Kapolsek Wonoasih Kompol Khuzaimi saat dikonfirmasi mengatakan, pihak SMK A Yani tidak melaporkan kejadian tersebut. Meski demikian, anggota Polsek Wonoasih dan Polres Probolinggo Kota sempat mendatangi tempat kejadian. Bahkan, sempat mempertemukan pihak SMK A Yani dengan SMKN 4. “Tadi anggota ngasih tahu kalau kedua sekolah bertemu. Sudah ada kesepakatan, penyelesaian,” ujarnya.

Hasil pertemuan, kedua pihak akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara damai. Keduanya akan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU).  Pertemuan untuk meneken nota kesepakatan itu bakal dilakukan hari ini. “Informasinya besok MoU-nya. Lokasinya, kami tidak tahu,” kata Kapolsek. 

Dari SMKN 4, Waka Kesiswaan Syawal membenarkan kalau yang melakukan pelemparan di gedung atau kampus 2 SMK Ahmad Yani adalah siswanya. Aksi tersebut dilakukan sebagai balas dendam atas pelemparan batu oleh pelajar SMK A Yani ke arah  SMKN 4 sebelumnya.

Hanya, aksi main lempar batu tersebut tidak sampai mengenai siswa. Namun Syawal tidak tahu siapa siswa yang memulai dan mengajak konvoi. “Belum tahu siapa saja siswa kami yang melempari SMK Yani. Masih kita cari,” tegas Syawal saat dikonfirmasi kemarin.

Usai kejadian, pihaknya bersama kepala SMKN 4 telah berkunjung ke SMK Yani. Bahkan, pihaknya didampingi Babinsa dan Babinkamtibmas, kelurahan dan kecamatan telah melakukan pertemuan. Hasilnya, SMKN 4 dan SMK Yani akan menandatangani MoU yang disaksikan tiga pilar. “Pertemuan kedua kalinya Rabu, lusa di SMKN Yani,” katanya.

Upaya pencegahan lainnya, kedua sekolah kejuruan tersebut akan melakukan sweeping atau razia terhadap para siswanya. “Sweeping itu kami juga mengajak tiga pilar,” ungkap Syawal.    

Selanjutnya SMKN 4 akan mengundang seluruh siswa kelas 12 bersama orang tuanya. Tujuannya untuk  menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulang perbuatannya. “Kami akan kumpulkan mereka semua di lapangan. Ya, upacara penandatanganan surat pernyataan. Disaksikan orang tua murid,” terang Syawal. (gus/iwy)


Bagikan Artikel