Peristiwa

Kalibuntu Diterjang Banjir Rob


KRAKSAAN – Pemukiman warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, kembali diterjang banjir rob, Rabu (26/5). Luapan air laut itu masuk ke pekarangan rumah warga setempat. Namun warga telah mengantisipasi hal tersebut sebelumnya.

Saiful, salah seorang warga Kalibuntu, menyatakan bahwa banjir rob tersebut rutin melanda desanya setiap tahun. Itu terjadi sejak berpuluh tahun lalu dan berlanjut sampai sekarang.

Bahkan, menurut Saiful, banjir rob itu bisa berulang hingga dua sampai tiga kali dalam setahun. Namun, keadaan itu telah diketahui lebih dulu oleh warga setempat. Sehingga warga telah mengantisipasinya dengan mengevakuasi barang-barang berharga mereka. “Kalau airnya masuk rumah, barang-barang berharga seperti tv, sound system dan sebagainya dipindah ke tempat yang lebih tinggi agar tidak terkena banjir rob,” paparnya.

Sedangkan banjir rob yang terjadi kali ini, kata dia, tidak terlalu tinggi. Hanya sekitar 30 centimeter. Namun di beberapa tempat lain ada yang cukup dalam. Banjir rob itu biasanya terjadi menjelang tengah malam selama kurang lebih 2 jam. Kemudian air mulai surut kembali.

“Kadang airnya besar, kadang juga kecil. Banjir rob itu sudah menjadi makanan setiap tahun warga yang harus dihadapi dengan lapang dada. Mau tidak mau harus dihadapi,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ali, warga Kalibuntu lainnya. Katanya, banjir rob itu sudah tak asing di telinga warga setempat. Bahkan, setiap banjir datang, banyak anak-anak yang justru asyik bermain luapan air laut itu. Bahkan mereka sudah tak grusa-grusu dan panik atas adanya banjir itu. “Seperti sudah biasa begitu. Karena sudah puluhan tahun banjir rob itu melanda desa kami. Mungkin desa-desa lain di pesisir pantai juga mengalami hal serupa,” tuturnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mengimbau agar warga yang tinggal di sepanjang daerah pesisir pantai untuk mewaspadai potensi terjadinya banjir rob. “Banjir rob ini dimungkinkan terjadi, lantaran dampak adanya pasang naik air laut sebagai akibat terjadinya gerhana bulan total atau super blood moon yang terjadi pada 26 Mei 2021 malam ini,” ujar Personel Pusat Pengendalian Operasi-Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Probolinggo Silvia Verdiana, Rabu (26/5) kemarin.

Dijelaskannya pada saat gerhana bulan total terjadi, biasanya mempengaruhi ketinggian pasang surut air laut, dimana posisi bulan, bumi dan matahari dalam kondisi sejajar. Akibatnya terjadi gaya tarik gravitasi terhadap air laut yang membuat ketinggiannya naik dibanding biasanya.

“Adanya kenaikan air laut ini patut diwaspadai. Karena yang sudah-sudah banjir rob bisa terjadi di wilayah pemukiman warga yang tinggal di daerah pesisir, seperti di kecamatan Paiton dan Kraksaan,” jelasnya.

Disebutkannya pula bahwa berdasarkan data dari BMKG bahwa ketinggian banjir rob bisa mencapai antara 10 – 20 centimeter dan diprediksi akan terjadi mulai tanggal 25 – 29 Mei mendatang. “Dimulai jam 10 pagi sampai jam 12 siang,” sebutnya.

Oleh karena itu, Silvi menyampaikan kepada masyarakat utamanya warga yang tinggal di pesisir pantai untuk meningkatkan kewaspadaannya. Terlebih air rob bersifat licin dan korosif terhadap barang-barang jenis logam termasuk di dalamnya yakni kendaraan bermotor.

“Kami mengimbau kepada masyarakat pesisir agar waspada dengan datangnya banjir rob. Dan kepada nelayan agar terlebih dahulu menunda kegiatan melautnya, karena kondisi gelombang dan kecepatan angin yang tak menentu di periode tersebut,” pungkasnya (yek/tm/iwy)


Bagikan Artikel