Peristiwa

Tarik Sumbangan, SMKN 3 Kota Probolinggo Disoal


PROBOLINGGO – SMKN 3 Kota Probolinggo diminta mengembalikan uang pungutan yang dibebankan kepada setiap siswa. Jika tidak dikembalikan, ada orang tua siswa yang mengancam  melaporkan pungutan itu ke Polres Probolinggo Kota.

Ancaman tersebut disampaikan Syafiudin, salah satu orang tua siswa kelas X di SMKN 3, Selasa (4/5) petang. Menurutnya, komite dan pihak sekolah telah memungut uang sebesar Rp 1 juta kepada setiap siswa baru di tahun pembelajaran. Alasannya, hasil pungutan ini untuk membiayai program pembelajaran yang tidak dicover Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pria yang biasa dipanggil Udin tersebut menyebut dugaan pungutan liar dalam masalah ini. Pungutan ini mencuat setelah putrinya tidak mendapat nomor ujian. Udin kemudian menemui pihak sekolah dan meminta nomor ujian putrinya. Permintaannya tidak dikabulkan, namun putrinya bisa ikut ujian, meski tidak mendapatkan nomor ujian.

“Sekolah tidak boleh menghalangi anak didiknya untuk melaksanakan kegiatan atau pembelajaran, meski belum atau tidak melaksanakan kewajibannya. Tidak boleh, hanya karena tidak membayar sumbangan, terus tidak boleh ikut ujian,” tegasnya.

Meski putrinya diizinkan mengikuti ujian akhir semester, namun Udin tetap tidak akan membayar pungutan, dengan apapun resiko yang akan diterima putrinya. Awalnya, kata Udin, iuran yang ditarik dari siswa baru bernama sumbangan. Namun, praktiknya berubah menjadi pungutan. “Awalnya memang sumbangan. Tapi sekarang sudah menjadi pungutan,” katanya.

Alasannya, wali murid atau orang tua siswa disodori surat pernyataan kesanggupan membayar yang sudah ditempeli materai Rp 3 ribu. Kalau sumbangan, harusnya tidak diikat dengan surat semacam itu. “Dari awal saya sudah menolak. Tapi komite dan pihak sekolah tetap menyebarkan ke wali murid,” ujarnya.

Setelah sempat ramai, kata Udin, surat pernyataan tersebut oleh pihak sekolah diambil lagi. Meski begtu, orang tua atau wali murd tetap diwajibkan membayar sumbangan yang telah disepakati. “Wakil kepala sekolah saat itu mewanti-wani agar tidak lapor ke LSM atau DPRD. Ini ada apa sebenaranya,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Udin tidak membayar sumbangan putrinya, bukan karena alasan tidak memiliki uang. Tatapi lebih karena pungutan tersebut melanggar Permendikbud nomor 75 tahun 2016 tentang Komite Sekolah. Disebutkan, Komite Sekolah boleh menggalang dana, tapi bentuknya sumbangan, bukan pungutan.

Di dalam ketentuan umum permendikbud tersebut sudah jelas perbedaan sumbangan dengan pungutan. Dikatakan, pungutan merupakan penarikan dana yang sifatnya wajib, mengikat dan tertera nominal serta berjangka waktu. Sedang sumbangan kebalikan dari itu, yakni pemberian wali murid yang sifatnya sukarela, tidak wajib, tidak mengikat, tidak ada nominal dan tidak berjangka waktu.

Udin mengaku sudah menghadap ke pihak sekolah. Ia meminta agar orang tua wali murid yang telah membayar pungutan, hendaknya dikembalikan. Perkara nanti oleh wali murid dikembalikan lagi untuk menyumbang ke sekolah, itu tidak menjadi masalah.

“Kalau uang yang dikembalikan itu dikembalikan lagi oleh orang tua murid, untuk nyumbang sekolah, ya enggak masalah. Bentuknya kan sudah sumbangan, bukan pungutan,” pungkasnya.

Sementara, Kepala SMKN 3 Kota Probolinggo Siti Rohmah saat dikonfirmasi kemarin tidak memberi jawaban. Sedangkan Imam Suliono selaku komite sekolah membenarkan ada penggalangan dana sumbangan. Tetapi, sifatnya sukarela dan bentuknya sumbangan, bukan pungutan. “Sumbangan, bukan pungutan,” katanya.

Namanya sumbangan, lanjut Imam Suliono, sifatnya tidak mengikat dan memaksa. Menyumbang berapapun diterima, Bahkan, tidak menyumbang sekalipun tidak masalah. Disebutkan, dari sekian siswa, ada yang menyumbang separo, bahkan seperempat dari Rp 1 juta. “Enggak nyumbang pun tidak masalah,” ujarnya.

Saat ditanya untuk apa uang yang didapat dari sumbangan siswa, Imam Suliono menjawab tidak hafal. Sebab, itemnya banyak. Yang jelas, sarana dan prasarana, bahkan bangunan fisik yang akan dibangun dari dana itu untuk siswa.

“Yang kami beli akan dipakai siswa. Kembali ke siswa. Fisik yang kami bangun dengan uang sumbangan, toilet. Kan toiletnya dipakai siswa,” kata Suliono.  (gus/iwy)


Bagikan Artikel