Peristiwa

Petir Sambar Gubuk, 1 Petani Tewas


PROBOLINGGO – Hujan deras yang mengguyur Kota Probolinggo pada Selasa (6/4) sore membawa korban. Miskar (53), seorang warga RT 2 – RW 8 Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo disambar petir di sawah dan meninggal dunia. Sedangkan dua warga lainnya yang sempat bersama korban, selamat.

Peristiwa tersebut berlangsung di tengah pesawahan, belakang pabrik garmen PT Eratex Djaja, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran. Saat itu sekitar pukul 15.00, korban bersama Suraji (50) dan Jamari (60) ketua RW 8,  berteduh di gubuk sawah.

Tak sampai 10 menit, tiba-tiba petir menyambar gubuk dan ketiga petani yang berteduh di gubuk dekat irigasi tersebut terkapar. Miskari jatuh ke selokan tanaman bawang. Sedangkan Suraji dan Jamari tetap berada di gubuk.

Jamari yang sekaligus ketua RW 8 mengaku, beberapa menit setelah petir menyambar gubuk, tidak ingat apa-apa. Bahkan, sampai tiba di rumahnya pendengaranya masih terganggu. “Saat di lokasi kejadan telinga saya tidak dengar. Sekarang sudah kedengaran,” kata Jamari saat dikonfirmasi di rumahnya, kemarin sore.

Dikatakan, petir tiba-tiba menyambar gubuk. Karenanya, ia bersama dua teman yang masih tetangganya itu tidak sempat menyelamatkan diri. “Tahu-tahu kilat menyambar diikuti bunyi blar. Enggak ada tanda-tanda. Biasanya kan ada bunyi gemuruh lalu kilat, sreeet. Itu tidak ada. Langsung blar,” ujarnya.

Jamari berterus terang tidak tahu kalau Miskar yang menjabat ketua RT 2 tersebut meninggal dunia. Ia baru tahu setelah mendapat informasi dari Fauzi, petani yang sore itu berada di lokasi kejadian. “Suara keras Fauzi membangunkan saya. Waktu itu kan saya tidak ingat apa-apa. Terus kita cari, Miskar ketemu di saluran air tanaman bawang. Jatuh dari gubuk akibat disambar petir,” jelasnya.

Diceritakan, Jamari bersama Suraji sore itu membersihkan gulma di lahan kosong yang sebelumnya ditanami bawang. Sedangkan Miskar bersama istrinya memupuk bawang. Fauzi menjaga bawang yang sudah dipanen. “Karena hujan, saya, Suraji dan Fauzi berteduh di gubuk,” cerita Jamari.

Tak lama kemudian, Fauzi meninggalkan gubuk berniat untuk membenahi tutup bawangnya yang tersingkap karena diterpa angin. Kemudian Miskar datang ke gubuk untuk berteduh. Sedangkan istri Miskar pulang. “Tiba-tiba petir menyambar. Enggak lama kok korban duduk di gubuk. Sekitar 2 menit,” tambahnya.

Saat ditanya kondisi korban, Jamari tidak tahu pesis. Namun, topi yang dipakai korban dan celananya robek. Termasuk tiang penyangga gubuk pun terbelah. “Katanya luka bakar. Celana dan topi korban robek. Saya tidak tahu persis,” ungkapnya.

Fauzi yang sore itu masih ada di lokasi kejadian, mengatakan bahwa petir menyambar saat dirinya tengah memperbaiki tutup bawangnya. Lokasinya, tidak sampai 50 meter dari gubuk. “Usai petir menyambar, saya lihat gubuk berasap. Saya dekati dan melihat korban ada di irigasi bawang,” ujarnya.

Tubuh Miskar yang tak bergerak, kemudian diangkat. Sejurus kemudian keluarga korban datang dan langsung membawa korban ke RS Dharma Husada. Korban yang meninggal di lokasi kejadian, dibonceng sepeda motor. “Celananya tidak robek, hanya topinya. Ini topi yang dipakai Miskar,” kata Fauzi sambil menunjukkan topi milik korban. (gus/iwy)


Bagikan Artikel