Peristiwa

Rumah Tersambar Petir, Kaca-Kaca Hancur, Foto Ulama Tetap Utuh


KREJENGAN – Selasa (23/3) malam lalu rumah Saturi (60) di Dusun Krajan, Desa Sumberkatimoho, Kecamatan Krejengan, kena sambar petir. Perangkat elektroniknya banyak yang rusak. Beberapa bagian rumah yang berwujud kaca, hancur berantakan. Tetapi ada foto ulama yang terpajang di dinding, tetap utuh.    

Sambaran petir yang menimpa rumah Saturi di Desa Sumberkatimoho, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo pada Selasa (23/3) malam, masih jadi pembicaraan di kalangan warga. Terutama karena tidak ada yang menyangka jika sambaran petir di tengah hujan deras malam itu ada yang masuk ke rumah Saturi melalui antena televisi.

            Tetapi yang jadi pembicaraan warga bukan cuma soal kedahsyatan petir. Ada kejanggalan dalam insiden sambaran petir di rumah yang terletak di RT 3 – RW 1, Dusun Krajan, Desa Sumberkatimoho itu. Kejanggalan itu adalah adanya tiga foto yang sama sekali tidak tersentuh apa pun saat petir menyambar.

Warga yang menyadari kejanggalan itu kemarin  sampai terkagum-kagum. Sebab,  sambaran petir telah merusak hampir seluruh alat-alat elektronik  yang ada di dalam rumah tersebut, meliputi televisi dan radio. Selain itu, hampir semua kaca pintu dan jendela hancur berantakan.

Namun, tiga foto ulama yang terbingkai kayu itu tidak bergeser sama sekali dari tempatnya. Ketiganya ialah foto KH. Raden As’ad Samsul Arifin (salah satu pendiri Nahdlatul Ulama), foto KH. Moh Hasan Genggong (Pengasuh kedua Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong) dan foto Habib Muhammad bin Ali al Habsyi (pendiri Pesantren Riyadlus Sholihin, Kota Probolinggo).

“Sempat tidak sadar juga kalau masih ada foto yang tidak rusak sama sekali, padahal hampir seluruh isi rumah hancur. Saya sendiri baru sadar ketika melihat foto-foto tersebut, dan ini entah kebetulan atau karena hal lainnya,” kata Moh Edy, salah satu warga setempat, Kamis (25/3).

Menurut Edy, jika foto tersebut aman karena faktor kebetulan saja, dirasa masih belum bisa diterima akal sehat. Sebab, posisi foto ditempel di atas tembok ruangan tepat berada di bawah atap yang disambar petir.

“Tidak masuk akal juga kan? Kalau barang-barang di bawah saja hancur, kaca jendela hancur, tetapi foto yang jelas-jelas tepat berada di bawah atap yang tersambar petir itu malah tidak bergeser sedikitpun. Subhanallah,” ujar Edy.

Hal senada disampaikan Nanang Fadil, pekerja sosial asal Kecamatan Krejengan. Menurutnya, saat mendatangi rumah Saturi untuk membagikan sejumlah bantuan, dirinya dikagetkan adanya tiga foto ulama yang sama sekali tidak rusak sedikitpun.

“Ada tiga foto berjejer. Sebelah kiri foto Kiai As’ad, tengah dan agak tinggi sedikit itu foto kiai sepuh Genggong dan satu foto lagi Habib Muhammad bin Ali al Habsyi. Sama sekali tidak rusak. Apalagi foto Kiai Sepuh, yang tetap seperti posisi pertama ditaruh,” tutur Nanang. (ay/iwy)


Bagikan Artikel