Peristiwa

Harga Mahal, Pencurian Porang di Probolinggo Nyaris Saban Hari


TIRIS – Tanaman porang kini makin tinggi pamornya. Tingginya nilai jual umbi porang membuat tanaman ini makin banyak yang melirik, tidak hanya kalangan petani, tetapi juga pencuri.

Baru-baru ini warganet dihebohkan dengan pencurian bibit porang atau dalam istilah lokal disebut klenteng atau katak. Peristiwa itu diunggah di grup Liputan D6 pada Rabu (24/3) malam dan hingga Kamis (25/3) dibanjiri komentar netizen.

Pengunggah, yakni Ah San, menceritakan di daerahnya yakni di Dusun Segaran, Desa Andungsari terdapat pencurian klenteng. Postingan ini dilengkapi dengan foto pohon porang yang dirusak. Unggahan itu menarik netizen.

Kebanyakan dari mereka geram dengan aksi pencurian itu. Beberapa di antaranya malah menyamakan kejadian serupa di desanya masing-masing. Ada beberapa desa yang disebut dalam komentar juga sedang marak pencurian klenteng, seperti di Desa Sumberduren, Kalianan, Guyangan, Kertosuko, Betek di Kecamatan Krucil dan di Desa Andungbiru, Segaran, Jangkang di Kecamatan Tiris.

Sekretaris Desa Andungsari Ludianto membenarkan peristiwa itu. Menurutnya, pencurian klenteng nyaris terjadi saban hari. “Banyak (pencurian klenteng) memang, mas. Malah 2-3 hari itu pasti ada yang lapor ada pencurian,” tutur Ludianto saat dikonfirmasi Koran Pantura, Kamis (25/3).

Pekebun sampai sudah kehilangan akal untuk mencegah kejadian itu. Sebab, porang ditanam di perkebunan yang lokasinya jauh dari pemukiman. Biasanya porang ditanam sebagai tumpangsari tanaman kopi atau sengon. “Sampai sekarang tidak pernah ada yang tertangkap di sini. Makanya kejadian semakin masif,” ungkapnya.

Modus pencurian klenteng sama dengan pencurian umbi porang. Biasanya para pencuri berlagak sedang meruput di lokasi. Ketika memastikan nihil orang, klenteng maupun umbi porang dimasukkan ke dalam karung dan ditutupi lagi dengan rumput.

“Apalagi harga jualnya sekarang sedang mahal, mas. Bikin pusing yang punya kebun. Harga klenteng itu tembus Rp 180 ribu per kilogram di masa panen awal. Sedangkan umbi porang Rp 8 ribu per kilogram,” bebernya.

Menurutnya, klenteng lebih diincar oleh pencuri. Sebab, harganya lebih mahal dan cara mengambilnya lebih mudah. Klenteng berada di sela cabang porang. Sehingga dengan mudah diambil. “Sekilo itu isi 70-80 biji, tergantung ukuran. Untuk mendapatkan sekilo, setidaknya 40 pohon, karena per pohon bisa ada 3-5 biji,” ucapnya.

Pihaknya berharap segera ada solusi untuk mengantisipasi masalah ini, termasuk jika ada yang tertangkap maka diharapkan pelakunya ditindak tegas oleh kepolisian. Sehingga ada efek jera. “Sejauh ini solusinya ada yang dipanen dini. Tapi negatifnya klenteng yang masih muda akan busuk dan tidak bisa dijadikan bibit,” terangnya.

Antisipasi lain adalah memindah tanaman porang yang sudah tua ke wilayah pekarangan rumah. Seperti yang dilakukan Supardi, warga Desa Kertosuko, Kecamatan Krucil. “Dipindah tanamnya ke pekarangan rumah. Khusus porang yang sudah tua. Biar tidak dicuri maling,” ucapnya.

Sebab, kata Supardi, harga jual umbi porang dan klenteng sekarang sedang melejit. Di awal panen saja, untuk umbi porang tembus harga Rp 7 ribu – Rp 8 ribu. Padahal tahun lalu di periode yang sama harganya Rp 5.500 per kilogram.

“Sedangkan klenteng harga jualnya sudah di atas Rp 100 ribu. Kalau di awal panen tahun lalu mainnya di harga Rp 50 ribu per kilogram. Jadi kami semakin ekstra hati-hati,” ucap Supardi. (awi/iwy)


Bagikan Artikel