Peristiwa

Warga Lemahkembar Jemput Paksa Jenazah Covid


DRINGU – Aksi jemput paksa jenazah pasien Covid-19 kembali terjadi di Kabupaten Probolinggo. Jum’at (5/3) siang, puluhan warga Desa Lemahkembar, Kecamatan Sumberasih menerobos masuk RSU Wonolangan di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu. Mereka merebut paksa jenazah perempuan berinisial L (61), warga desa setempat dari penanganan pihak rumah sakit. Warga tak terima karena L dinyatakan meninggal dunia karena Covid-19.

Dari informasi Koran Pantura, aksi anarkis itu terjadi sekitar pukul 11.30. L dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 10.20 siang itu. Karena dinyatakan meninggal akibat Covid-19, jenazah L harus dimakamkan sesuai protokol kesehatan.

Hal itu membuat pihak keluarga tak terima. Selanjutnya, keluarga beserta puluhan warga Desa Lemahkembar langsung merangsek ke RS Wonolangan menggunakan 1 unit truk. Mereka masuk secara paksa ke instalasi kamar mayat di RS Wonolangan.

Awalnya, mereka sempat dihadang oleh petugas keamanan dan tenaga kesehatan rumah sakit. Namun karena kalah jumlah akhirnya warga pun berhasil membawa jenazah L untuk diangkut ke atas truk.

Sebelum dibawa pergi, sempat terjadi insiden pengeroyokan dan pemukulan kepada salah satu petugas PHL SIM Satlantas Polres Probolinggo bernama Nanda yang kebetulan tengah ada di lokasi. Akibat pengeroyokan tersebut, Nanda mengalami luka robek pada tangan bagian kanan hingga berdarah dan harus diperban.

Menanggapi hal tersebut, Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir setiap aksi penjemputan paksa yang disertai tindakan anarkis. Terlebih jika aksi anarkis tersebut disertai dengan intimidasi, penganiayaan, hingga perusakan fasilitas rumah sakit seperti yang terjadi di RSU Wonolangan.

“Kami tegaskan akan memproses secara hukum para pelaku perusakan dan pelaku penganiayaan terhadap anggota kami, serta tadi ada yang HP-nya diambil dalam aksi tadi,” katanya.

Oleh karena itu, Kapolres Ferdy meminta kepada siapa saja warga yang tadi merasa telah ikut serta dalam aksi anarkis tersebut agar segera melapor. Baik kepada kepala desa maupun kepada Polres Probolinggo, sebelum mereka yang dijemput paksa.

“Upaya penegakan hukum akan tetap kami tegakkan. Oleh karenanya kami mengimbau kepada warga yang terlibat tadi agar segera bertanggung jawab dan menyerahkan diri,” tegas mantan Kapolres Tangerang Selatan ini.

Namun sebelumnya, pihaknya akan menyilakan Satgas Covid-19 melakukan tracing kepada pihak keluarga atau pun warga yang sempat kontak erat dengan jenazah yang dijemput paksa. “Proses tracing dan testing akan segera dilakukan paska pemakaman jenazah,” terang Kapolres.

Sementara itu, Direktur RSU Wonolangan Mariani Indahri mengatakan, pasien L pertama kali dirawat di RSU Wonolangan pada Kamis (4/3) petang sekitar pukul 18.00. Ketika pertama kali datang, L langsung dirawat di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan medis.

Kondisinya terus memburuk dan hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 10.20 Wib. “Terdapat gejala pneumonia di dalam paru-parunya yang merupakan gejala yang mengarah pada Covid-19. Pasien juga mengidap Komorbid lain seperti hipertensi,” katanya.

Terkait dengan aksi jemput paksa tadi, Mariani menerangkan jajarannya tidak mengalami sampai mengalami kekerasan fisik. Namun banyak nakes yang syok akibat mendapatkan kekerasan verbal dari warga yang merangsek masuk.

“Hanya mendapat kekerasan verbal saja, adapun yang rusak yaitu lampu tindakan saja dan dinding yang pesok akibat warga yang memaksa masuk ruang kamar mayat,” sebutnya.

Sementara itu, Koordinator Penegakkan Hukum Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan, sebenarnya aksi anarkis itu tidak perlu terjadi. Asalkan pihak keluarga bisa menerima keputusan terkait pemulasaran jenasah yang disesuaikan protokol kesehatan.

“Pihak keluarga ini sudah sempat mediasi dan mendapat sosialisasi dari pihak rumah sakit terkait dengan pemulasaran jenasah Cobid-19. Tapi entah kenapa tiba-tiba datang masa dan langsung merebut paksa jenazah. Ini pasti ada provokatornya dan akan kami cari siapa dalangnya,” kata Ugas. (tm/eem)


Bagikan Artikel