Peristiwa

Warga Dringu Minta Plengsengan


DRINGU – Warga bantaran Sungai Legundi di Desa/Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo meminta pembangunan plengsengan permanen. Itu demi mencegah terjadinya banjir yang rutin terjadi, sebagaimana terjadi selama dua hari terakhir.

Berdasar informasi yang dihimpun, banjir yang terjadi di dua desa di Kecamatan Dringu pada Sabtu (27/2) dan berlanjut Minggu (28/2) lantaran jebolnya plengsengan di tiga titik. Dua di antaranya berada di Desa Dringu, sisanya di Kedungdalem.

Karena ambrolnya plengsengan di tiga titik itu, warga meminta kepada pemerintah untuk segera dibangun plengsengan permanen. “Kalau nggak di bangun permanen, hujan  deras lagi ya banjir lagi mas,” kata Yusup, salah satu warga Dringu, kemarin (1/3).

Tiga titik plengsengan yang jebol itu oleh warga sebelumnya sudah dipasangi karung pasir dengan cara bergotong-royong. Hanya, upaya itu tidak membuahkan hasil. Bahkan, puncaknya pada minggu malam, banjir kembali melanda dua desa itu. 

Hal itu diperparah dengan air laut pasang. Desa Dringu bahkan tergenang banjir selama enam jam lebih. Ketinggian air banjir dari 1meter hingga 1,5 meter. “Kan laut pasang, jadi lama sekali surutnya,” ujar Laili, warga Dringu.

Warga pun berharap intensitas hujan menurun, karena plengsengan yang ambrol di tiga titik itu masih melompong. “Kalau hujan deras lagi, ya banjir lagi,” keluh Laili.

Banjir ini tidak hanya merendam ratusan rumah warga. Pasca banjir, sisa material pun menyulitkan warga. Bagi rumah warga yang berada di pinggir jalan utama atau jalan daendles bisa dibantu dengan ekskavator mini dan alat berat lainnya milik Pemkab Probolinggo.

Sedangkan padatnya rumah-rumah di tepian Kali Legundi membuat alat berat tidak bisa masuk. Cara yang bisa dilakukan hanyalah secara manual, yaitu menggunakan cangkul dan alat sederhana lainnya. “Ya dilakukan gotong royong. Tebal pasir lebih satu meter,” timpal Pujo, warga lainnya.

Dalam seharian kemarin warga Dringu masih terus fokus membersihkan rumah. Beberapa di antaranya juga melakukan upaya-upaya mengantisipasi banjir susulan. Ada yang menggunakan tanah liat untuk menutupi sela-sela pintu rumah. Ada yang menutup celah pintu dengan lem kayu. Semuanya dilakukan agar setidaknya bisa meminimalisir masuknya air, ketika tiba-tiba banjir datang.

Sementara, Wabup Timbul Prihanjoko mengatakan,  pihaknya sudah meminta kepada Dinas PUPR untuk memasang bronjong pasir di plengsengan yang jebol. “Saya perintahkan tadi untuk segera diatasi dengan brojong  dulu,” kata Wabup Timbul pada Koran Pantura, kemarin.

Sedangkan Kepala Dinas PUPR Rahmad Waluyo mengatakan, memang untuk sementara akan dilakukan pemasangan brojong atau karung pasir di plengsengan yang jebol. “Penanganan sementara, kita datangkan bronjong,” katanya.

Terkait permintaan pembangunan plengsengan secara permanen, Rahmad mengaku hal itu akan diusulkan kepada Pemprov Jatim. “Untuk upaya plengsengan ya kita usulkan ke pemprov, karena kewenangan sungai punya pemprov,” jelas Rahmad Waluyo. 

Jika usulan itu disetujui tahun ini, tidak menutup kemungkinan plengsengan baru bisa dilaksanakan tahun 2022 mendatang. Artinya, warga dua desa itu masih harus siap menghadapi banjir di musim hujan mendatang. “Begitulah mekanismenya. Kami tidak bisa melangkahi kewenangannya,” terang Rahmad. (rul/iwy)


Bagikan Artikel