Peristiwa

Gaji Tak Dibayar sejak 2015, PRT di Probolinggo Kabur dalam Kondisi Lapar


PROBOLINGGO – Pariyem (44) akhirnya kabur dari rumah megah di Jl Juanda, Kelurahan Tisnonegaran Kota Probolinggo tempatnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Bersama putrinya yang masih berusia 11 tahun, Pariyem, Selasa (16/2) pagi kabur dalam kondisi lapar dan belum menerima gaji sejak awal bekerja tahun 2015.

 Rumah megah di Jl Juanda tempat Pariyem bekerja itu sejatinya milik Dewi Ratih, mantan calon walikota Probolinggo. Dewi Ratih yang bermukim di Jakarta, menitipkan rumah itu kepada pasangan suami istri (pasutri) Usman dan Menuk. Kepada pasutri Usman dan Menuk inilah Pariyem bekerja.

 Namun, selama bekerja untuk pasutri Usman dan Menuk, Pariyem mengaku mendapat perlakuan tidak baik. Karena itu kemarin sekitar pukul 02.00, Pariyem dan putrinya nekat melarikan diri dengan cara turun dari kamar tidurnya di lantai tiga. Sebab, seluruh pintu rumah itu terkunci. 

 Pelarian Pariyem diketahui warga. Pariyem diamankan, kemudian dipertemukan dengan keluarga majikannya dengan disaksikan tiga pilar, yaitu perangkat kelurahan, Babinkamtibmas dan Babinsa setempat.

 Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan damai Pariyem dengan majikannya. Gaji Pariyem yang macet sejak 2015, dibayar. Sebulan Pariyem semestinya digaji Rp 300 ribu. Bila dihitung sampai tahun ini, Pariyem sejatinya bisa mengumpulkan duit sampai Rp 21 juta. Tetapi dalam kesepakatan damainya, Pariyem menerima gajinya dibayar senilai Rp 12 juta.

 Setelah pertemuan itu, Pariyem diantarkan ke rumah anak tirinya, Chandra Hidayat, di Jl Panglima Sudirman Gg Priksan, Kelurahan Wiroborang Kota Probolinggo. “Akhirnya kami diantar ke sini. Ini rumah anak tiri. Saya enggak punya rumah,” aku Pariyem saat ditemui di kediaman Chandra, kemarin siang.

Kepada wartawan, Pariyem berterus terang bahwa selama bekerja sebagai PRT pasutri Usman dan Menuk, hanya sekali dia diberi uang Rp 500 ribu. Itu terjadi saat menjelang lebaran. Sedangkan bayaran bulanannya baru dibayar kemarin. “Sudah dibayar. Jumlahnya sekitar Rp 12 juta,” akunya.

 Selain soal uang gaji, Pariyem mengaku sering mendapat umpatan kata-kata kasar dari majikan perempuannya. Pariyem juga jarang makan. Meski lapar, ia tahan. Sebab kalau sampai meminta makan, ia ditampar oleh majikan perempuannya.

Tak hanya Pariyem yang kerap jadi sasaran “main tangan” majikan perempuannya.  Kata Pariyem, putrinya juga pernah ditendang oleh majikan.

 Putri Pariyem hanya sepat mengenyam pendidikan dua tahun. Setelah itu berhenti. “Sekolah sampai kelas 2 di SDN Kanigaran. Awalnya diantar majikan perempuan. Terus tidak diantar lagi,” katanya.

Pariyem sendiri tidak diperbolehkan keluar rumah. Karena itu, anak Pariyem akhirnya tidak bersekolah lagi.

Kata Pariyem, selama ini kebutuhan makannya dicukupi oleh majikan lelaki, yaitu Usman, berikut anak-anaknya. “Saya bisa bertahan hidup karena diberi makan bapak sama anak-anaknya. Mereka baik. Tapi memberi saya dengan cara sembunyi-sembunyi. Kalau pas tidak ada juragan perempuan,” ungkapnya.

 Chandra Hidayat (30), anak tiri Pariyem, kecewa dan prihatin dengan perlakuan majikan ibu tirinya. Tetapi, Chandra tetap menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada ibu tirinya. “Kalau saya sih tergantung ibu. Kalau tidak menuntut, ya tidak masalah. Kan gajinya sudah dibayar jumlahnya Rp 12.600.000. Mau gimana lagi? Pak Usman sudah meminta maaf ke kami,” katanya.

Plt Kapolsek Mayangan AKP Suharsono saat dikonfirmasi kemarin membenarkan terjadinya masalah P atau Pariyem. Tetapi masalah ini sudah diselesaikan secara damai. “Sudah diselesaikan secara damai. Termasuk gaji selama perempuan berinisial P ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sudah dipenuhi atau sudah dibayar. Disaksikan tiga pilar, pihak kelurahan, Babinkamtibmas dan Babinsa,” katanya.

Disebutkan, P bekerja kepada penghuni rumah (Usman-Menuk) tahun 2015 dan tinggal di rumah tersebut bersama putrinya yang berusia 10 tahun. Pada Selasa dini hari, P turun dari lantai dua menuju lantai pertama, kemudian menuju ke jalan untuk mencari makanan.

“P bilang ke warga mau cari makanan karena lapar. Lalu oleh warga diantar ke rumah majikannya untuk meminta pertanggungjawaban. Permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan dan damai. Sudah saling memaafkan,” ungkapnya.

Sedangkan Usman, majikan lelaki Pariyem, kemarin juga memberi klarifikasi kepada wartawan. Menurutnya, tidak ada masalah dengan penyediaan makanan untuk Pariyem.  Pihaknya merasa telah memenuhi kebutuhan makanan ibu  dan anak tersebut tiga kali dalam sehari. “Kalau ada kue, kadang dia kami kasih,” ujarnya.

Tentang gaji, Usman mengatakan sudah klir. Tidak ada masalah lagi. Pihaknya sudah membayar seluruh gaji Pariyem selama bekerja di rumahnya. “Gajinya saya tabung dan tadi pagi sudah kami tarik. Sudah saya berikan. Dia sudah bikin pernyataan tidak akan mempersoalkan permasalahan ini. Sudah kami selesaikan secara kekeluargaan,” ujarnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel