Peristiwa

Tambak Disewakan Ketua RT, Warga Wadul Dewan


PROBOLINGGO – Gedung DPRD Kota Probolinggo didatangi warga, Rabu (20/1) sekitar pukul 10.00. Mereka mengaku dari Forum Peduli Kampung Nila, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan. Mereka menemui Komisi II untuk wadul dugaan penyerobotan lahan tambak.

Sebelum ditemui wakil rakyat, mereka membentangkan poster bertuliskan “Kami minta keadailan, kembalikan hak pengelolaan tambak warga yang telah dirampas dan Turunkan RT yang semena-mena.”

Karena jajaran Komisi II tidak ada, kedatangan warga ditemui Ketua Komisi III Agus Riyanto dan anggotanya, Heri Poniman. Selanjutnya, Agus menyarankan warga bersurat ke pimpinan DPRD dengan tembusan ke Ketua Komisi II. Isinya, meminta hearing disertai dengan permasalahan yang dihadapi warga.  

Sebelum meninggalkan gedung dewan, Wahyu Setiawan selaku ketua Forum Peduli Kampung Nila menjelaskan, kedatangannya bermaksu wadul permasalahan yang dihadapi. Dia menyebut Suhartono selaku ketua RT 7 – RW 7 telah merampas tambak yang dikelola forum. Bahkan, tambak seluas 1 hektar tersebut disewakan kepada orang lain selama 5 tahun dengan nilai Rp 10 juta.

Padahal, tambak yang dimaksud hak pengelolaannya diserahkan H Tawi kepada warga, yaitu Forum Peduli Kampung Nila. Dalam perjalanannya, tambak di dekat pabrik bata ringan tersebut tiba-tiba dikuasai Ketua RT Suhartono. “Sudah diserahkan ke kami. Lha kok diambil lagi. Berita serah terima dari ketua RT ke forum, ada,” ujarnya.

Tambak tersebut oleh Suhartono dipindah-tangankan atau disewakan ke orang lain selama 5 tahun seharga Rp 10 juta. Menurut Setiyawan, forum tidak dilibatkan soal pengelolaan tambak, bahkan uang hasil sewa tidak diketahui. ”Enggak tahu kemana uangnya. Tidak tranparan,” katanya.

Setiyawan berterus terang, setelah diserahkan, tambak tidak segera digarap atau dikelola. Alasannya, forum masih mencari dana dengan cara meminta bantuan. Karena forum yang diketuainya tidak memiliki dana sepeserpun. “Mungkin karena tidak kami urus. Padahal kami masih mencari dana,” tambahnya.

Setiyawan dan anggota forum lainnya meminta tambak dikembalikan ke warga. Selain itu, mereka meminta Suhartono dicopot atau diberhentikan dari jabatan ketua RT karena dinilai telah semena-mena. “Tuntutan kami, kembalikan tambak kami dan copot ketua RT,” katanya.

Sedangkan Ketua RT 7 RW 7 Suhartono saat dikonfirmasi mengatakan, apa yang ditudingkan ke dirinya tidak benar. Disebutkan, tambak yang saat ini diperebutkan diserahkan ke dirinya untuk dikelola. Karena sebagai ketua RT, tambak yang dimaksud dikelola bersama warga. “Forum itu dibantu, setelah kami rembukan dengan warga. Katanya mau dikelola, forum,” ujarnya.

Lantaran tambak lama dibiarkan terbengkalai, Suhartono kemudian bersama pengurus RT berembuk dengan warga. Hasilnya, tambak dikelola warga dan biayanya ditanggung bersama. “Karena RT tidak punya kas, kami lalu utang Rp 2,5 juta ke warga sini. Untuk biaya nggarap tambak,” imbuhnya.

Saat tambak digarap, tak ada satupun warga yang ikut bekerja, apalagi forum. Suhartono bekerja sendirian dibantu orang lain yang dibayar. Tambak kemudian ditebari ikan lele dan setelah besar dipancing untuk umum. Setelah dikurangi biaya, tambak yang disoal tersebut dapat hasil bersih Rp 5 juta. “Uangnya ada di bendahara RT. Utang sudah dibayar. Saya hanya dapat Rp 150 ribu,” tambahnya.

Suhartono mengakui, kalau tambak tersebut disewakan 5 tahun senilai Rp 10 juta. Sebagian uangnya dibelikan peralatan kematian, membangun gapura, membeli lampu penerangan gang dan pot bunga untuk memperindah kampungnya. “Semuanya tercatat. Bukan kami yang nyatat, tapi bendahara RT,” katanya.

Soal tuntutan pemberhentian ketua RT, ditanggapi oleh Suhartono dengan riang. Ia bersyukur berhenti jadi ketua RT dan fokus pada pekerjaan dan rumah tangganya. Sebab, menjadi ketua RT menurutnya serba tidak enak, bahkan sering tombok. “Uang pribadi saya Rp 1,5 juta dipakai untuk sewa terop kematian. Biaya perbaikan Tossa Rp 650 ribu, juga uang saya. Pokoknya nomboki terus dah,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel