Peristiwa

Leces Diguyur Hujan Es Sebesar Kelereng


LECES – Fenomena alam berupa hujan es terjadi di wilayah kabupaten Probolinggo. Kali ini fenomena langka tersebut  terjadi di Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces pada Minggu (22/11) siang.

Sukarno Tavip, salah seorang warga Desa Sumberkedawung bahkan sempat mengabadikan momen hujan es tersebut menggunakan kamera ponselnya. Melalui akun facebook pribadinya, salah satu ASN di Badan Keuangan Daerah Kabupaten Probolinggo ini membagikannya. Unggahan itu kontan direspon beragam dari para netizen.

Saat dihubungi Koran Pantura, Sukarno menjelaskan bahwa fenomena hujan es tersebut terjadi kemarin pukul 12.35. Saat itu memang cuaca sedang mendung pekat disertai dengan hujan dan angin kencang.

Kejadian aneh pun mulai terjadi ketika anak-anaknya yang tengah mandi hujan tiba-tiba merasa kepalanya dihantam benda keras. Tak disangka bahwa benda keras tersebut setelah dipungut ternyata merupakan butiran es sebesar kelereng.

Karena dinilai membahayakan akhirnya anak-anak dari Sukarno pun langsung lari dan berteduh di dalam rumah. Sejurus kemudian terdengar gemuruh suara keras dari atap rumah yang terbuat dari kanopi. Ternyata butiran hujan es itu mulai berjatuhan deras dari langit. Namun hal itu hanya berlangsung selama 15 menit, karena butiran hujan es itu berubah menjadi hujan biasa dan kemudian reda begitu saja.

“Di rumah ada kanopi. Kok bunyinya kayak bukan tetesan air hujan tapi sepertinya benda keras yang dari atas. Dan itu semakin terbukti ketika anak saya yang mandi hujan di halaman rumah menemukan butiran es sebesar kelereng bertaburan di halaman yang jatuh dari atas bersama air hujan dan angin kencang,” ujar Sukarno kemarin.

Dari pengakuan netizen lainnya pun ada yang menyebut bahwa hujan es tersebut juga terjadi di sekitar Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan yang berbatasan langsung dengan Desa Sumberkedawung. “Di Sumberbulu juga hujan es,” tulis Usman salah satu warga Sumberbulu.

Menanggapi fenomena tersebut, personel Pusat Pengendalian Operasi-Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Probolinggo Silvia Verdiana mengatakan bahwa fenomena hujan es dapat terjadi karena jenis awan bersel tunggal berlapis-lapis (CB) di dekat permukaan bumi. Fenomena ini dapat juga berasal dari awan multisel, dan pertumbuhannya secara vertikal, dengan luasan area horizontalnya sekitar 3 – 5 km.

Kejadiannya singkat, berkisar antara 3 – 5 menit atau bisa juga 10 menit tetapi jarang. Biasanya peristiwa ini bersifat lokal. “Hujan es itu masih berkaitan dengan kondensasi yang tidak sempurna. Untuk kejadian hari ini pun, belum ada rilis  resmi dari BMKG. Kalau kami di BPBD kemampuan terkait menjelaskan tentang fenomena tersebut masih dangkal dan sederhana,” paparnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel