Peristiwa

Pemakaman Pasien Reaktif Covid Ricuh, Ambulans Dilempari Batu


PAKUNIRAN – Pandemi Covid-19 kembali menimbulkan insiden di tengah masyarakat. Kali ini terjadi di Desa Gunggungan Lor, Kecamatan Pakuniran Kabupaten Probolinggo. Minggu (4/10) pagi terjadi kericuhan antara warga setempat dengan tim medis pemulasaraan jenazah, terkait pemakaman M (70), pasien berstatus reaktif Covid-19.

Kericuhan ini terjadi terkait pemulasaraan jenazah menggunakan prosedur protokol kesehatan (prokes). Mulanya ketika mobil ambulans datang ke rumah duka di Dusun Arah,  Desa Gunggungan Lor, situasi masih normal. Namun, ketika jenazah yang berinisial M  tersebut hendak disalati, kericuhan pun terjadi. M sendiri di ketahui mempunyai riwayat penyakit paru-paru.

“Kami dari pihak keluarga menginginkan pembungkus plastik pada jenazah untuk dibuka selama proses salat jenazah, tapi malah dilarang. Itu yang membuat keluarga tidak terima,” kata salah seorang keluarga yang enggan disebutkan namanya, kemarin.

Sementara itu, Kapolsek Pakuniran Iptu Haby Sutoko menjelaskan, sejatinya pihak keluarga jenazah bukan menolak prosedur proses pemulasaraan jenazah sesuai protokol kesehatan. Kericuhan terjadi usai pihak keluarga dilarang membuka plastik pembungkus jenazah.

“Pemicunya karena saat jenazah mau disalatkan, keluarga tidak dibolehkan membuka plastik pembungkus jenazah. Tidak terima, lalu ricuh. Bahkan kami sempat mengamankan orang yang mau melempar mobil ambulans dengan batu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kericuhan tersebut tidak berlangsung lama. Pihak keluarga berhasil diredam amarahnya saat petugas dari rumah sakit diminta untuk pulang. Hal tersebut kemudian berhasil menenangkan pihak keluarga yang sedang berduka.

“Jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 09.30. Sekitar pukul 10.00, jenazah sudah dikebumikan. Jadi, tidak sampai berlarut-larut, meski ada insiden peti jenazah dilempar-lempar oleh pihak keluarga,” ucapnya.

Sedangkan Koordinator Penegakan Hukum dan Keamanan Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Ugas Irwanto mengatakan, dengan adanya kericuhan tersebut, praktis keluarga dari almarhum mengingkari kesepakatan yang telah dilakukan. Pada saat jenazah berada di rumah sakit, pihak keluarga sudah menyepakati penguburan akan dilakukan sesuai dengan penerapan protokol kesehatan.

“Saat rapid hasilnya reaktif dan swabnya masih belum keluar. Di rumah sakit (Rizani, red) ada mediasi, dan pihak keluarga menyepakati. Akhirnya ambulans berangkat ke rumah duka. Ternyata ketika sampai di lokasi, mereka ingkar. Jadi kesepakatan (di mediasi, red) itu hanya akal-akalan saja,” paparnya. (ay/iwy)


Bagikan Artikel