Peristiwa

Lomba Sound System Dibubarkan, Peserta Sakit Hati


SUMBERASIH – Kegiatan lomba sound sistem yang digelar di Desa Mentor, Kecamatan Sumberasih dibubarkan paksa oleh tim satuan tugas (Satgas) Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan Kabupaten Probolinggo. Kejadian Minggu (13/9) kemarin itu, lantaran panitia tak mengantongi izin.

Camat Sumberasih Rachmad Hidayanto, selaku Ketua Satgas Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan Kecamatan Sumberasih mengungkapkan beberapa hal. Pertama, panitia kegiatan tersebut tak mengantongi izin penyelenggaraan dari pihaknya. Kedua, dilapangan didapati banyak dari peserta dan pengunjung lomba yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

“Dalam kegiatan yang melibatkan kerumunan dalam jumlah besar itu. Potensi penyebaran Covid-19 sangat mungkin terjadi. Terlebih di Kabupaten Probolinggo tren pasien positif Covid-19 terus meningkat. Sehingga pembubaran kegiatan tersebut memang harus dilakukan,” ungkapnya, Minggu (13/9) kemarin.

Dijelaskannya pula ada acuan Perpres Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokoler Kesehatan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 19. Maka seluruh kegiatan warga yang berpotensi menimbulkan kerumunan warga harus ditiadakan sementara waktu.

“Selain itu, yang menjadi dasar pembubaran kegiatan tersebut yakni, Perbup Nomor 41 tahun 2020 tentang penyelenggaraan kegiatan dalam mewujudkan masyarakat produktif dan aman dari penyebaran Covid-19. Diperkuat dengan adanya surat edaran Bupati Probolinggo tentang panduan penyelenggaraan kegiatan keagamaan dan sosial budaya di masa pandemi Covid-19,” jelasnya.

Sehingga atas dasar itulah, kata Rachmad kemudian dirinya menginstruksikan melakukan pembubaran. Mengerahkan seluruh jajaran Tim Satgas Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan Kecamatan Sumberasih dibantu anggota Satpol PP Kabupaten Probolinggo. Diawali memberikan pemahaman bagi pihak panitia penyelenggara, peserta, dan pengunjung kegiatan lomba tersebut.

“Karena tidak mematuhi protokol kesehatan dan melebihi jumlah kerumunan massa di saat pademi Covid-19, sehingga dibubarkan dengan cara persuasif dan dari pihak panitia pada akhirnya menerima keputusan kami itu tanpa perlawanan,” katanya.

Sementara itu Arafek salah seorang peserta lomba sound system asal Kota Probolinggo mengaku kecewa dengan tindakan sepihak yang dilakukan oleh Satgas. Menurutnya pembubaran acara pada hari H pelaksanaannya, merupakan kejadian yang tak seharusnya terjadi.

“Kalau memang tidak dapat ijin, seharusnya pihak desa melarangnya. Nah, ini ketika pas hari H acara, justru dibubarkan paksa. Saya sudah dua hari menginap dilapangan ini untuk persiapan ikut lomba,” akunya.

Lebih lanjut, Arafek menyebut ketidaktegasan dari pihak desalah yang menjadi asal muasal pembubaran paksa kegiatan lomba tersebut. Menurutnya, kalau alasan peserta dan pengunjung tak taat protokol kesehatan, disebutnya itu terlalu mengada-ada, karena faktanya banyak diantara peserta dan pengunjung lomba mengenakan masker sebagai alat pelindung dirinya.

“Semoga kejadi semacam ini hanya sekali terjadi, karena terus terang kami sudah keluar uang banyak untuk hobi kami ini. Namun karena harus dibubarkan seperti itu, tentu kami sakit hati,” pungkasnya. (tm/ra)


Bagikan Artikel