Peristiwa

Sungai Kedung Jamban Tercemar Limbah Medis


BANTARAN – Sejumlah Mahasiswa Universitas Zainul Hasan Genggong yang tengah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kedungrejo, Kecamatan Bantaran mendapati sungai Kedung Jamban di desa setempat telah tercemar oleh limbah medis. Temuan tersebut dinilai sangat mengkhawatirkan, lantaran limbah medis tidak seharusnya dibuang sembarangan.

Dewi Puspa, salah seorang mahasiswi Universitas Zainul Hasan Genggong menuturkan penemuan limbah medis berupa botol vaksin tersebut bermula ketika dia dan sejumlah mahasiswa sejawatnya tengah melakukan aksi bersih-bersih sungai. Ini sebagai bentuk kepedulian lingkungan di Desa Kedungrejo.

Namun dalam perjalanannya, para mahasiswa secara tidak sengaja mendapati adanya sampah plastik di aliran sungai Kedung Jamban. Setelah dibuka isinya ternyata merupakan bekas botol vaksin yang telah terpakai.

“Kami bersama rekan-rekan melaksanakan kegiatan bersih-bersih sampah di aliran sungai pada Jumat (21/8) lalu. Awalnya kita tidak tahu kalau sampah yang terbungkus plastik tersebut berisi limbah medis. Kita tahunya saat plastik tersebut dibuka,” ungkapnya, Senin (24/8).

Menurutnya, limbah medis berbahaya tersebut ditemukan bukan hanya dalam satu kantong plastik, melainkan ada sejumlah kantong plastik. Isinya beragam, mulai dari jarum suntik bekas pakai, kapas, dan sampai sejumlah peralatan medis sekali pakai lainnya.

“Penemuan limbah medis tersebut kemudian saya ungggah di akun facebook. Ternyata banyak tanggapan karena limbah tersebut memang  tidak boleh dibuang sembarang, karena ada bahaya yang dapat ditimbulkan bagi kesehatan warga dispeanjang daerah aliran sungai,” jelasnya.

Setelah kabar penemuan limbah medis di sungai Kedung Jamban itu tersiar, petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo langsung mendatangi lokasi. Mereka  membawa limbah medis temuan para mahasiswa itu untuk kemudian diamankan.

“Kami akan koordinasikan terlebih dahulu dengan dinas kesehatan. Karena sampah ini termasuk dalam sampah medis atau B3, maka penanganannya diserahkan pada dinas kesehatan yang membidanginya,” sebut Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi.

Selain itu menurutnya, DLH akan melakukan investigasi untuk mencari siapa pemilik dan pembuang limbah medis tersebut.”Nantinya kami akan dalami siapa pembuang dan pemilik dari limbah medis yang ditemukan di sungai tersebut. Sebab pembuangan sampah medis di sungai sangat membahayakan,” ujarnya.

Kasus pembuangan sampah limbah medis di sungai Kedung Jamban, Desa Kedungrejo Kecamatan Bantaran tidak hanya mendapat perhatian dari DLH Kabupaten Probolinggo. Kejadian ini juga menyita perhatian Polsek Bantaran dan Dinkes Kabupaten Probolinggo.

Bahkan Polsek Bantaran telah menerjunkan tim khusus untuk menyelidiki pelaku pembuangan sampah limbah medis yang berbahaya tersebut. “Kami sudah cek keberadaan limbah yang diduga merupakan limbah medis tersebut,” kata Kapolsek Bantaran Iptu Jamhari, Senin (24/8).

Menurutnya, pihaknya telah menerjunkan Kanit reskrim beserta anggota Polsek Bantaran yang didampingi tenaga medis Puskesmas Bantaran. Ini terutama untuk mengecek sekaligus melakukan investigasi terkait asal usul limbah medis tersebut.

“Setelah mendatangi TKP, kami tidak menemukan barang/limbah medis tersebut. Namun berdasar informasi dari sekretaris desa Kedungrejo, bahwa limbah tersebut jumlahnya ada sebanyak 1 kantong plastik ukuran 2 kilogram dan telah diamankan atau dibawa oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo pada hari Sabtu lalu,” jelasnya.

Sejalan dengan Polsek Bantaran, Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo pun langsung melakukan investigasi tentang asal usul sampah limbah medis tersebut. Bahkan disebutkannya bahwa sampah limbah medis tersebut kecil kemungkinannya berasal dari tempat layanan kesehatan milik Pemkab Probolinggo.

“Kami memiliki SOP tersendiri dalam penanganan limbah atau sampah medis. Baik itu yang dari puskesmas maupun dari puskesmas pembantu (pustu) dan pondok bersalin desa (polindes). Karena semuanya telah bekerjasama dengan pihak pengelola sampah medis,” sebut Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono.

Bahkan dipaparkannya jika sampah medis yang berasal dari pusat layanan medis milik Pemkab seperti Puskesmas misalnya akan langsung dimasukkan dalam safety box atau menggunakan tas plastik berwarna kuning yang merujuk pada tanda bahwa sampah didalam plastik tersebut merupakan sampah medis.

“Semua sampah medis baik dari puskesmas maupun pustu dan polindes akan dikumpulkan dalam wadah tertentu. Selanjutnya wadah itu akan diambil dan dimusnahkan oleh pihak ketiga,” paparnya.

Namun demikian dokter Shodiq mengatakan bahwa pihaknya akan memastikan adanya investigasi khusus untuk mencari asal usul sampah limbah medis tersebut. “Kami akan melakukan investigasi khusus untuk masalah ini. Semoga segera ada titik terangnya,” katanya.  (tm/iwy)


Bagikan Artikel