Peristiwa

Unggah Foto Penyu Sisik, Nelayan Kalibuntu Diamankan

KRAKSAAN – Bermula dari berswafoto dengan satwa dilindungi, pria inisial A, asal Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, harus berurusan dengan aparat TNI, pada Rabu (24/6) malam. Warga pesisir itu mengunggah foto bersama satwa penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang dipaksa mengenakan kaosnya.

Foto dengan penyu itu kemudian diunggah di akun facebook pada 15 Juni 2020 lalu. Dalam postingan tersebut, A menggendong seekor penyu sisik yang dibalut kaos oblong. 

Dilihat dari jumlah tanggapan, postingan ini cukup sukses memancing perhatian netizen. Tak terkecuali para pemerhati lingkungan dan satwa liar. Hingga akhirnya pelaku dilaporkan kepada aparat terkait, karena perbuatannya dinilai membahayakan satwa penjelajah samudera itu.

Komandan Koramil (Danramil) 0820/12 Kraksaan Kapten Infanteri Matali menyatakan, berdasarkan laporan masyarakat dan bukti screenshot postingan itu, pihaknya melakukan koordinasi bersama Pemerintah Desa Kalibuntu. Nelayan perahu tersebut akhirnya dipanggil untuk diberikan pembinaan dan peringatan keras. A juga   diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi lagi dan menghapus postingan itu.

Pelaku mengaku melakukan itu hanya untuk mencari sensasi. Ia tidak berniat sedikitpun menyakiti penyu sisik tersebut. Menurut A, setelah diajak berfoto ria, penyu tersebut dilepaskan kembali. A juga mengaku tidak mengetahui kalau penyu yang tersangkut jaringnya itu termasuk satwa liar yang dilindungi negara.

“Sebagai aparat, kami juga dituntut aktif dalam memberikan edukasi, himbauan dan pencegahan terhadap tindakan – tindakan yang mengancam keberadaan satwa liar terutama yang dilindungi. Fungsi perlindungan ini tentunya harus bersinergi bersama masyarakat,” katanya.

Kapten Matali menegaskan, keberadaan satwa liar dilindungi dan lingkungan lestari adalah salah satu kekayaan negara. Itu merupakan salah satu tugas TNI untuk melindunginya. Keberadaannya di habitatnya, kata Kapten Matali, sangat penting sebagai penyeimbang ekosistem alam.

“Sementara ini, pelaku kami beri peringatan, pemahaman, dan pembinaan. Selama bisa dikendalikan dan bisa diarahkan dengan baik, maka tidak perlu sampai ke ranah hukum. Yang bersangkutan sudah kami bina dengan surat pernyataan sebagai efek jera agar tidak mengulanginya,” tandasnya.

Sementara, Ketua komunitas Pelindung Rimba dan Satwa Liar Indonesia (PERISAI) Zainal Abidin Fadila mengatakan, penyu merupakan satwa dilindungi dan diatur dalam perundangan dan peraturan pemerintah yaitu UU nomor 5 tahun 1990 dan PP nomor 7 tahun 1999.

Sedangkan badan konservasi dunia (IUCN) juga memasukkan penyu sisik, dan penyu belimbing, sebagai satwa yang sangat terancam punah (critically endangered).

“Kami sangat menyayangkan hal ini, terlihat jelas bahwa penyu tersebut sangat ketakutan karena diperlakukan tidak semena – mena. Bisa jadi hal ini karena ketidaktahuan dan minimnya sosialisasi dan edukasi dari instansi terkait kepada para nelayan dan masyarakat tentang hewan laut yang dilindungi undang-undang,” jelasnya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan