Peristiwa

Mantan Ketua RT Terjaring Razia Anak Jalanan


PROBOLINGGO – B (32), seorang pria asal Kelurahan Kebonsari Wetan, Kanigaran Kota Probolinggo, Senin (15/6) siang mengamuk saat di Shelter Dinas Sosial Kota Probolinggo di Jl Mastrip. B tidak terima ikut dijaring bersama anak jalanan (anjal). Pasalnya, B yang seorang mantan ketua RT (Rukun Tetangga) tidak merasa sebagai seorang anjal. 

Kemarin, B tengah ngopi di Pasar Gotong Royong bersama rekan perempuannya. Meski beralasan seperti itu, B tetap dijaring oleh petugas Satpol PP Kota Probolinggo yang melakukan razia. Selain B, ikut dijaring pula 10 remaja laki-laki dan perempuan.

Saat berada di Shelter Dinas Sosial, B mencak-mencak. Kepada petugas shelter, B mengaku, dan minta segera dipulangkan. “Lho saya ini mantan ketua RT, masak jadi anjal,” ujar B dengan nada keras.

Ia sudah menjelaskan hal itu kepada petugas Satpol PP, namun tidak digubris dan tetap diangkut. Menurutnya, saat ada razia, dirinya tengah asyik ngopi di warung dalam Pasar Gotong Royong. “Saat saya ngopi, ada razia. Saya dibawa juga, dikira anjal. Sudah saya jelaskan, tapi tidak digubris. Saya tidak terima,” katanya.

Sementara, Supagi, seorang kasi di Dinas Sosial mengatakan, ada 11 anjal yang terjaring operasi Satpol PP. Selain warga kota, ada pula warga Kabupaten Probolinggo. “Anjal yang tinggal di kota kami panggil orang tuanya. Yang warga Kabupaten Probolinggo, kami serahkan ke Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Sebelum diserahkan, para anjal diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya. Mereka juga mendapat pembinaan dari Dinsos.

Sedangkan Kasat Operasi dan Ketertiban pada Dinas Satpol PP Kota Probolinggo Hendra Kusuma mengatakan, 11 anjal dijaring dalam razia bersama Satgas UPT Pasar Gotong Royong. Merka dirazia karena menghuni salah satu bedak pasar dan sering membuat keributan. Ada laporan dari dari pemilik lapak yang dihuni oleh mereka. “Laporan itu langsung kami tindaklanjuti,” katanya.

Para pemilik lapak resah dengan ulah mereka yang sering pesta miras dan berbuat mesum, sehingga meresahkan. Menurut Hendra, UPT Pasar Gotong Royong telah melakukan tindakan persuasif sebelumnya. Mereka ditegur agar tidak menempati lapak pedagang. Namun, teguran UPT tidak diindahkan.

“Lalu kami bergerak bersama Satgas UPT. Setelah sempat diamankan di kantor Satpol PP, kami kirim mereka ke Shelter Dinas Sosial untuk mendapat pembinaan lebih lanjut dan diserahkan kepada keluarganya,” jelas Hendra. (gus/iwy)  


Bagikan Artikel