Peristiwa

74 Pegawai RSUD Waluyo Jati Diistirahatkan, UGD Tetap Buka


KRAKSAAN – RSUD Waluyo Jati, Kraksaan Kabupaten Probolinggo terdampak wabah virus corona (Covid-19). Sejumlah 74 pegawai RSUD Waluyo Jati menjalani tiga kali rapid test, dan dinyatakan negatif. Namun seluruh pegawai itu masih tetap disterilisasi di rumah pengawasan. Mereka dilarang menjalani kontak fisik dengan orang lain, hingga hasil swab menyatakan negatif juga.

Hal itu disampaikan Sekretaris RSUD Waluyo Jati Kraksaan dr Asrul saat dikonfirmasi Koran Pantura, kemarin (20/4). Menurutnya, sejumlah 74 pegawai yang kini diistirahatkan itu tengah menjalani pemeriksaan intens. Hasil 3 kali rapid test seluruhnya negatif. Namun, seluruh pegawai itu masih tidak diperkenankan untuk melakukan aktifitas di luar.

Pihaknya kini tengah melakukan tes swab pada para pegawai tersebut. Jika hasil swab tersebut nantinya dipastikan negatif, para pegawai itu baru diperbolehkan untuk kembali menjalani aktivitasnya. “Bukan karantina, kami hanya mengistirahatkan (mereka, red),sembari menunggu hasil swab dari Surabaya,” kata dokter Asrul.

Ia menegaskan, tindakan pengistirahatan itu merupakan antisipasi bagi seluruh tim medis, agar tidak ada yang terjangkit virus corona. “Saat ini kondisinya semuanya sehat. Mereka selalu kami pantau setiap saat,” ungkapnya.

Dijelaskan, keadaan ini mulanya karena ada seorang warga yang baru pulang dari Surabaya yang sudah menjadi wilayah zona merah. Orang itu terinfeksi, namun tidak mau memeriksakan diri. Karena khawatir menjadi musibah, RSUD lantas mengistirahatkan para pegawai. “Mereka direhabilitasi secara mental dan fisiknya. Sementara, pelayanan kesehatan masih tetap dibuka seperti biasa. Aktivitas rumah sakit tetap berjalan seperti biasa,” ungkapnya.

Sementara, juru bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr Anang Budi Yoelijanto menyampaikan, pihaknya melakukan isolasi pada para pegawai itu sebagai tindak lanjut dari adanya warga yang positif sebelumnya. Seluruhnya dilakukan screening rapid test dan swab. Sambil menunggu hasil swab negatif, mereka tak diperkenankan menemui siapapun.

Para pegawai RSUD itu kini diisolasi di rumah pengawasan. Ada beberapa hotel yang sudah disiapkan untuk itu. Namun, sifatnya hanya observasi. “Sambil menunggu hasil swab,” ujar dr Anang.

Tentang Puskesmas Tongas, kata dr Anang, pihaknya tidak menutup layanan kesehatan di sana. Hanya ada beberapa saja yang ditutup, karena ada beberapa tenaga medis disana yang juga menjalani rapid test dan swab seperti pegawai RSUD Waluyo Jati. “Agar bisa dipastikan penyebarannya tidak sampai kemana-mana,” katanya.

Direktur RSUD Waluyo Jati dr Mansur membenarkan bahwa pihaknya sudah melakukan rapid test terhadap sejumlah petugasnya. “Kalau jumlahnya berapa, saya kurang hapal. Yang pasti, kami sudah melakukan test. Bahkan sudah ada yang dilakukan sampai tiga kali, hasilnya negatif,” jelas dr Mansur kepada Koran Pantura kemarin. 

Namun, meski negatif, dokter Mansur menyatakan tidak semuanya bisa dikatakan tak tertular. “Memang hasilnya negatif dengan menggunakan rapid test. Saya tidak bilang tidak ada yang tertular,” jelasnya.

Sementara, soal isu UGD ditutup, dr Mansur membantahnya. Menurutnya, UGD memang sedang pembersihan secara berkala dengan menggunakan disinfektan. “Tidak benar kalau UGD sampai ditutup. Sesuai SOP memang harus dibersihkan. Bahkan (pembersihan) ini sebelum ada Covid-19 sudah kami lakukan,” katanya

Terkait adanya tenaga kesehatan yang terpapar corona, dokter Mansur meminta masyarakat tidak panik. “Sing sabar. Mohon doanya agar kita semua sabar dan sehat,” tuturnya.

Terlepas dari itu semua, dr Mansur meminta agar masyarakat bisa terbuka dengan riwayat apapun ketika berkunjung ke RSUD Waluyo Jati. “Karena kalau bohong, petugas kami bisa terpapar semua. Jadi tolong, jangan bohong. Terbuka saja apa adanya. Dengan begitu, justru membantu kami,” katanya.

Ia memberikan contoh, ada satu pasien dari Kotaanyar yang datang ke UGD dengan keluhan mirip Covid-19. Orang tua yang mengantarnya mengaku anaknya tersebut tidak ke mana-mana.

“Ternyata setelah bapaknya keluar, petugas kami mendesak anak tersebut. Ternyata memang benar. Suaminya orang Besuki, Situbondo yang statusnya zona merah. Untungnya sebelum menangani, naluri mereka kuat dan langsung menggunakan APD lengkap,” kata dokter Mansur.  Ia berharap, hal seperti ini tidak terulang kembali. (yek/rul/iwy)


Bagikan Artikel