Peristiwa

1 Balita Kasus PDP di Kota Probolinggo


PROBOLINGGO – Pemkot Probolinggo akhirnya merilis kasus corona (Covid-19) kepada media massa.  Dalam rilis Senin (23/3) sekitar pukul 14.00, pemkot melalui satgas penanganan Covid-19 menyebutkan bahwa ada satu kasus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) corona, yaitu balita 3,5 tahun.

Sebelumnya, pemkot masih hanya merilis perkembangan kasus corona melalui radio milik pemkot yaitu Suara Kota, dan media sosial. Rilis resmi tentang perkembangan kasus corona kepada media massa cetak, elektronik dan online baru dilakukan kemarin siang.

Rilis kemarin dilakukan di ruang tunggu tamu direktur RSUD dr Moh. Saleh.  Up date datang tentang corona disampaikan juru bicara (jubir) Satgas Penanggulangan Bencana Non Alam dan Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Probolinggo dr Abraar HS Kuddah. 

Menurut dr Abraar, hingga 23 Maret pukul 13.00, di Kota Probolinggo ada 97 orang berstatus ODR (Orang Dengan Resiko); 22 orang berstatus ODP (Orang Dalam Pemantauan); dan 1 orang berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Adapun satu kasus PDP itu pasiennya masih berusia 3,5 tahun, asal Kecamatan Kanigaran. 

Mulanya, balita tersebut dirawat di RS Wonolangan, Dringu. Dari RS Wonolangan, balita itu dirujuk ke RSUD dr Moh. Saleh, dan kemudian dirujuk ke RS Syaiful Anwar (RSSA) Malang. “Sampai saat ini anak tersebut belum terdeteksi corona virus. Jadi statusnya masih PDP,” ujar dr Abrar.

Disebutkan, berdasar pemeriksaan di RSUD dr Moh. Saleh, balita tersebut mengalami gejala batuk, pilek, sesak nafas dan ditemukan gambaran pneumonia.

Menurut Abraar, balita tersebut bukan pasien yang berasal dari Kabupaten Probolinggo, yang juga ditangani RSUD. “Ini dari kota, bukan pasien balita yang dari kabupaten. Usia dan namanya sama, tapi tempat tinggalnya berbeda,” tegas Abraar.

Ditambahkan, pasien PDP tersebut diketahui setelah diperiksa tim kesehatan RSUD dr Moh. Saleh. Yang bersangkutan sebelumnya memiliki riwayat perjalanan dari Surabaya. “Kalau orang tua pasien si balita, jelas statusnya ODR (Orang Dengan Resiko),” sambung dr Abraar yang juga menjabat Plt Direktur RSUD dr Moh Saleh.

Di tengah perkembangan wabah corona, dr Abraar berpesan dan berharap ke masyarakat agar berterus terang, tidak segan dan tidak menutupi hal-hal yang sifatnya penting. Misalnya, katakan terus terang ke petugas apabila pernah kontak dengan pasien atau pernah ke daerah pandemi virus corona.

“Saya sudah membuat aturan di rumah sakit. Maaf kalau sedikit dikatakan keras, karena ini untuk kepentingan bersama. Kalau periksa ke poli, jangan membawa banyak pengantar. Kurangi kegiatan di luar rumah daripada harus bersama-sama masuk ICU,” kata Abraar.

Sementara itu, dokter spesialis paru dr Anung Sri Handayani menjabarkan istilah dalam Covid-19 kepada para jurnalis yang hadir. Dikatakan, ODR (Orang Dengan Resiko) adalah seseorang yang sehat dan tidak bergejala, tetapi pernah berkunjung ke daerah terjangkit atau punya kasus atau kontak dengan seseorang yang dicurgai. “Yang pasti dia tidak mempunyai gejala, orangnya sehat,” katanya.

Sedangkan kontak, resikonya ada dua, yakni resiko rendah dan tinggi. Resiko rendah apabila pernah bertemu atau berada di dalam satu ruangan. Resiko tinggi kalau pernah kontak dengan seseorang terkonfirmasi positif dengan orang yang terinveksi virus corona.

Untuk istilah ODP ialah Orang Dalam Pemantauan, yaitu orang yang memiliki gejala seperti demam, sesak nafas, nyeri telan, batuk, pilek. Seseorang berstatus ODP apabila memiliki satu, dua, atau tiga gejala dan resiko pernah berkunjung ke daerah pandemi.

Sedangkan PDP adalah Pasien Dalam Pengawasan, yaitu mempunyai dua atau lebih gejala ditambah satu faktor resiko, ditunjang gejala, hasil lab dan thorax yang menunjukkan ke arah pneumonia. “Pasien dinyatakan positif setelah terkonfirmasi, usai dilakukan swab tenggorokan dan PCR,” jelasnya. (gus/iwy)

 


Bagikan Artikel