Peristiwa

Debu PT AFU Disoal Lagi


PROBOLINGGO – Dampak produksi pabrik bata ringan PT Amak Firdaus Utama di Mayangan, Kota Probolinggo, masih dipersoalkan warga sekitar. Sabtu (29/2) sore lalu sejumlah warga mendatangi pabrik tersebut, menyoal debu dan asap. Walau hari itu mereka sudah mendapat penjelasan dari direksi PT AFU, tetapi warga berencana kembali mendatangi pabrik, hari ini.

Pada Sabtu sore itu puluhan warga RT 08 – RW 07 Kampung Sumber Baru, Kelurahan Sukabumi, mendatangi pabrik PT AFU. Mereka melurug pabrik karena merasa sesak oleh debu dan asap pabrik yang memenuhi pemukiman.

Warga membubarkan diri setelah pihak perusahaan menemui mereka. Perwakilan perusahaan kemudian bertemu dengan tokoh masyarakat dan pemuda di rumah ketua RT setempat.

Kelik Suriyanto selaku Asisten Direktur PT AFU usai bertemu warga mengakui bahwa perusahaannya mengeluarkan debu atau abu. Penyebabnya, karena ada kesalahan prosedur pada waktu pembersihan. “Ada pembersihan. Karena tertiup angin, debunya mengarah ke rumah warga,” ujarnya.

Menurut Kelik, kondisi seperti itu tidak terjadi setiap hari, tetapi hanya pada saat pembersihan. Itupun kalau angin mengarah ke pemukiman warga. Jika tidak, maka warga tidak perlu resah karena debu ke arah lain. “Tidak setiap hari. Unuk pembersihan, kami tidak tahu. Karena saya karyawan baru,” tambahnya.

Sementara, Hanifah, salah seorang warga setempat yang ikut melurug pabrik membenarkan kalau pukul 15.00 abu dan asap keluar dari pabrik. Karena pernafasannya terganggu, ia bersama warga lainnya mendatangi PT AFU yang berlokasi di Jalan Anggrek tersebut. “Ya meminta pertanggunjawaban pabrik. Agar abu dan asapnya tidak keluar, sehingga mengganggu warga,” pintanya.

Hanifah menyatakan, selama pabrik bata ringan berdiri di dekat rumahnya, warga setempat tidak pernah diperiksa kesehatannya. Tidak pernah juga diberi bantuan. Padahal, setiap hari mereka terkena dampak buruk, yaitu harus menghirup debu sisa produksi. “Tadi debu dan asapnya keluar banyak. Enggak tahu kenapa. Kejadian seperti itu tidak setiap hari kok,” imbuhnya.

Sedangkan Fadillah yang menjabat ketua RT 08 RW 07 mengatakan, ada 130 kepala keluarga (KK) atau 418 jiwa di lingkungannya yang terdampak debu pabrik PT AFU. Karenanya, ia meminta PT AFU memperhatikan warganya.

“Kalau memang ada pembersihan, lihat dulu arah angin. Dan lagi, harusnya kami dan warga diberitahu. Jadi kalau ada debu, tidak seperti tadi. Warga marah-marah dan nggeruduk pabrik,” katanya Sabtu sore itu.

Meski sudah mendapat penjelasan pada Sabtu sore itu, warga rupanya masih belum puas. Warga berencana kembali mendatangi PT AFU, hari ini. Sebab bagi sebagian warga, keluarnya debu yang mengarah ke pemukiman itu terjadi hampir setiap hari, meski tidak sedang ada pembersihan.

Supriyanto (45), salah seorang tokoh warga setempat mengatakan, Senin ini usai menemui direktur PT AFU, ia akan menemui Camat Mayangan Muhammad Abbas. Tujuannya, selain melaporkan keluarnya debu, juga untuk menanyakan forum yang dibentuk sebulan lalu.

Sebab menurutnya, sejak forum lintas sector dibentuk, sampai kini belum ada greget. “Forum dibentuk untuk memfasilitasi dan mencari jalan keluar. Tetap nggak jalan sampai sekarang,” ujarnya.

Soal rencananya kembali mendatangi PT AFU, tujuannya untuk meminta penjelasan terkait debu. Menurutnya, keluarnya debu itu tidak hanya terjadi Sabtu sore kemarin, tetapi setiap hari.

Pria yang sering disapa Mangun itu akan meminta agar debu dari PT AFU tidak kemana-mana. “Kalau tidak bisa, ya tutup saja. Kami tidak ingin menjadi korbannya. Kami sudah bosan, setiap hari menghirup debu. Sedangkan perusahaan tidak ada kontribusi sama sekali kepada warga,” tegasnya.

Menurut Mangun, keluarnya debu tersebut bukan karena pembersihan, tetapi pabrik sedang memasukkan bahan baku berupa semen dan pasir silica untuk diproses menjadi silica board. Hal seperti itu terjadi setiap hari dan abu atau debunya banyak beterbangan. “Setiap hari seperti itu. Kebetulan saja saat itu angin mengarah ke utara atau rumah warga,” jelasnya.

Ditambahkan, pabrik yang berlokasi di RT 8 RW 7 Jalan Anggrek, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan itu memproduksi silica board dan bata ringan. Mangun menyebutkan bahwa penjelasan Kelik Suriyanto selaku Asisten Direktur PT AFU kepada wartawan tidak benar. “Pak Kelik itu orang baru. Jadi, dia belum tahu betul soal pabrik,” (gus/iwy)


Bagikan Artikel