Peristiwa

Jalan Tergenang, Warga Mayangan Tidur di Tumpukan Batu 


PROBOLINGGO – Jalan Ikan Belanak di depan Pasar Kronong sisi timur, Kelurahan/Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo, tergenang. Diduga, genangan ini muncul dari tersumbatnya saluran air yang menembus jalan Lingkar Utara (JLU).

Air yang mengalir di saluran sisi timur dan barat jalan meluap hingga menggenangi jalan. Selain berbau, air keruh tersebut menjadi sarang nyamuk. Jika ada kendaraan yang melintas cepat, air yang menggenang itu  muncrat ke rumah warga.

Sejumlah warga RT 4 – RW 6 kelurahan setempat yang tinggal di barat jalan, saat ditemui Minggu (2/2) menyebut, kondisi seperti itu sudah lama terjadi. Namun, belum ada perhatian dari pemkot. Air menggenangi jalan lantaran tersumbat, tak bisa mengalir ke utara. Hanya, warga tidak tahu penyebab penyumbatan itu.

Bu Fatima (52), seorang warga setempat mengatakan, kondisinya makin parah sat turun hujan. Genangannya bisa sampai setinggi lutut orang dewasa. Karenanya, jalan masuk ke teras rumahnya sampai ditinggikan agar air tidak masuk.

“Semuanya ditinggikan. Kalau tidak seperti itu, air masuk rumah,” ujarnya, saat ditemui siang kemarin. Namun, meski teras sudah ditinggikan, air tetap masuk lewat bagian belakang rumah. 

Dijelaskan, ada 9 kepala rumah tangga yang setiap hujan mengalami nasib serupa. Setiap habis turun hujan deras, mereka selalu bersih-bersih. Tetapi, genangan tidak mudah dibersihkan. “Ya, karena air enggak jalan. Saluran pembuangan air yang ke utara  tersumbat,” tambah Bu Fatimah  

Lantaran sering menjadi langgaran banjir dan air masuk rumah, sampai-sampai ada warga bernama Aliyati (55) yang terpaksa tidur di atas batu. Janda beranak empat ini tidak memiliki uang untuk meninggikan rumahnya. Padahal, dirinya harus lolos dari genangan air, terutama saat tidur.

Akhirnya ruangan paling belakang ditumpuki batu kali dan di atasnya diberi pasir Di atasnya lagi dibeber kain untuk melindungi tubuhnya bersentuhan langsung dengan pasir dan batu.

Di atas tumpukan batu dan pasir itulah Aliyati yang setiap hari berjualan gorengan, tidur dan menghabiskan waktu malamnya. “Saya kan enggak punya uang. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Batu dan pasir cari sisa proyek JLU,” katanya.

Murni (33), warga lainnya mengatakan, usai hujan, ia harus mengepel rumahnya. Menurutnya, beberapa kali ketua RT setempat Saturun memberitahukan kondisi ini ke kelurahan, kecamatan bahkan sampai ke Dinas PU Pengairan. Namun hingga saat ini tidak ada tanggapan. “Kalau hujan, pekerjaan kami bersih-bersih dan ngepel. Sampai boyok sakit,” katanya.

Atas kondisi ini, Camat Mayangan Muhammad Abbas mengaku, sudah mengetahui. Ia juga mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas PU setempat dan balai besar Provinsi Jawa Timur. Sebab, air tidak jalan lantaran saluran pembuangan yang menembus JLU dan lewat di Kampong Dok tersumbat. “Kami sudah berkoordinasi dengan balai besar. JLU itu kan jalan nasional,” katanya.

Terkait keluhan warga karena rumahnya sering kebanjiran dan informasi tentang warga yang tidur di atas pasir dan batu, M. Abbas berterus terang belum tahu. Pihaknya bersama kelurahan dan instansi terkait akan segera ke lokasi. “Untuk yang ini kami belum dengar, Secepatnya kami akan cek ke lokasi,” tambahnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel