Peristiwa

Trauma, Enggan Kembali ke Papua

PROBOLINGGO – Mayoritas pengungsi Wamena asal Kabupaten Probolinggo mengaku trauma. Karena trauma itu, mereka enggan kembali ke tanah Papua.

Ungkapan trauma diungkapkan salah satunya oleh Yahya (27), warga Desa Kramat Agung, Bantaran. Pria beristri warga asli Papua ini saking traumanya mengajak serta istri dan 2 putrinya untuk dibawa pulang ke kampung halamannya di Bantaran.

“Kios, motor dan perabot rumah kami udah hangus dibakar perusuh. Akhirnya kami ekeluarga termasuk orang tua saya yang juga bekerja disana terpaksa aya ajak pulang daripada jadi korban kekerasan selanjutnya,” ungkapnya, Selasa (8/10).

Dijelaskan, dirinya sampai nekat untuk menaiki pesawat Hercules yang tujuannya adalah Jakarta. Karena dirinya sudah tak tahan tinggal di pengungsian, terlebih istri dan 2 anaknya yang maih kecil. “Pokoknya ada pesawat yang datang kami coba untuk naik, tapi selalu penuh sesak. Akhirnya ada pesawat yang tujuaannya Jakarta, kami pun nekat menaikinya. Yang penting sampai Jawa dulu,” jelasnya.

Dipaparkannya selama hidup kurang lebih 15 hari di pengungsian dirinya dan anak istrinya hidup dalam keterbatasan. Mengingat tak banyak harta benda yang bisa diselamatkannya, akhirnya dirinya pun memutuskan untuk selalu berada dalam rombongan terdepan apabila ada pesawat yang datang,

“Keluarga saya ada yang sudah pulang duluan. Hal itu yang menguatkan saya untuk segera membawa keluar anak istri saya dari Papua. Terlebih istri saya yang meski warga asli setempat, tapi dia juga merasakan benar teror dari para perusuh itu,” paparnya.

Terkait apakah dirinya akan kembali ke Papua, Yahya menjawab dengan tegas bahwa dia tidak akan lagi menginjakkan kaki di Papua. Menurutnya sudah cukup teror yang diterimanya, walaupun dirinya sebagai seorang tukang ojek mendapat hasil yang lumayan selama bekerja di sana.

Tetapi, hal itu menurutnya tak setimpal dengan nyawa yang dipertaruhkannya apabila tetap nekat mencari nafkah ditempat yang sama. “Kami akan pikirkan untuk mencari kerja di Jawa saja, meski bayarannya kecil. Setidaknya, resikonya tak sebesar di sana,” tuturnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan