Peristiwa

Jalan Panjang Pengungsi Probolinggo Pulang dari Wamena

PROBOLINGGO – Senin (23/9) lalu pecah kerusuhan di Wamena, Papua. Siapa sangka, tidak hanya dua orang asal Kabupaten Probolinggo yang jadi korban tewas dalam kerusuhan tersebut, ada ratusan warga lain asal Kabupaten Probolinggo yang terpaksa mengungsi pasca kerusuhan Wamena itu. Sudah ada 31 pengungsi yang berhasil dipulangkan ke Kabupaten Probolinggo. Namun, prosesnya tidak mudah.

Pecahnya kerusuhan di Wamena, Senin (23/9) lalu tidak pernah disangka-sangka. Seperti dikisahkan Amin, warga Desa Sumbersuko, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo yang berhasil pulang dari Wamena, bersama 30 orang lainnya.

Pria 37 tahun itu mengais nafkah di Wamena dengan bekerja di sebuah pabrik pembuatan tahu di daerah Honelama. Pabrik tahu itu dimiliki oleh seorang warga asal Desa Jorongan, Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo. Di pabrik tahu itu Amin bekerja selama 4 bulan terakhir. Selain Amin, ada sekitar 45 orang lain bekerja di pabrik tersebut. Mereka berasal dari Jawa dan Madura.

Ditemui sesaat begitu tiba di pendapa Kecamatan Dringu, Rabu (2/10) malam, Amin sempat menuturkan pengalaman pahit menjadi bagian dari peristiwa rusuh di Wamenan. Menurutnya, Senin di hari pecahnya kerusuhan, sekitar pukul 09.00 Amin mendadak mendengar suara rentetan tembakan.

Suara tembakan itu berasal dari daerah pasar yang tidak jauh dengan pabrik tahu tersebut. Tak berapa lama muncul kepulan asap dari sekitar lokasi pabrik. Warga pun berlarian mencari tempat aman. 

Sayup-sayup terdengar teriakan dari sejumlah warga. Baik itu warga lokal maupun pendatang. Mereka semua pergi menjauhi pasar. Sambil berlari, mereka bilang ada kerusuhan dan sebaiknya warga pendatang lari, bersembunyi, dan menyelamatkan diri.

Tampak dari kejauhan kerumunan massa yang mengamuk dan membakar segala sesuatu. Baik itu bangunan maupun kendaraan milik warga pendatang. Karena situasinya langsung mencekam, Amin berlari. Tetapi ia sempat mendatangi kepala pabriknya. Oleh kepala pabrik, Amin dan sekitar 45 pekerja lain diminta untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan terburuk.

Namun, seorang OAP (Orang Asli Papua) yang bekerja sebagai petugas keamanan di pabrik tersebut menyuruh pemilik pabrik dan puluhan perkeja bersembunyi di belakang areal pabrik. Kebetulan memang terdapat semacam pondok.

Pemilik pabrik dan pekerja akhirnya bersembunyi di tempat itu. Lalu dari dalam pondok tersebut sesekali mereka mengintip keluar. Mereka mendapati puluhan warga yang tampak beringas merangsek ke dalam areal pabrik. Mereka bersejata tajam dan senjata api, mencari warga pendatang. 

Lalu karena khawatir akan keselamatan pemilik pabrik dan pekerja, OAP petugas keamanan pabrik memberikan kode. Mereka diminta segera pindah ke dalam rumah petugas keamanan itu. Jaraknya hanya belasan meter dari pabrik.

Pemilik pabrik dan para pekerja kemudian berjalan mengendap-endap menuju rumah petugas keamanan. Saat itu sekitar pukul 10.00. Di dalam rumah tersebut mereka dilarang menimbulkan suara, termasuk membunyikan suara HP.

Ternyata keberadaan mereka tetap terendus massa yang sedang beringas. Petugas keamanan pabrik berusaha mengalihkan perhatian massa, dengan mengatakan bahwa dia melihat ada sejumlah pendatang yang baru saja lari menaiki mobil. “Dari situ kami sangat yakin, bahwa tidak semua warga Papua itu jahat,” ujar Amin. Rokok dia hisap dalam-dalam. Ia seperti baru dapat merasakan kembali ketenangan batinnya.

Kelanjutan cerita Amin, selama 6 jam mereka bersembunyi di dalam rumah petugas keamanan pabrik tahu. Selama itu mereka tutup mulut. Hingga datang saat yang rada melegakan. Petugas keamanan itu masuk dan mengabarkan bahwa pasukan Brimob datang. “Sontak kami langsung berhamburan keluar dan langsung menuju kearah petugas polisi yang berjumlah puluhan itu,” kisah Amin.

Dari situ selanjutnya Amin dan rekan-rekannya digiring ke titik aman di markas Polres Jayawijaya. Di sana mereka bermalam  2 hari, hingga akhirnya diterbangkan ke Jayapura menggunakan pesawat Hercules.

Di Jayapura mereka bermalam selama 4 hari. Untuk selanjutnya mereka diterbangkan menuju Biak. Di Biak mereka bermalam selama 2 hari. Baru dari Biak itu mereka diterbangkan ke Malang. Dan dari Malang, mereka dipulangkan ke Kabupaten Probolinggo.

“Selama di pengungsian kami tidak ada yang mengurus. Kalau pun ada bantuan dari pemerintah setempat, jumlahnya tak banyak dan hanya berupa makanan dan minuman. Terkadang kami juga tidak kebagian. Mau beli, kami tidak punya uang. Bekal kami juga sudah habis,” kata Amin.

Supainah, warga Desa Jorongan, Leces, memiliki cerita lain. Agar selamat dari kerusuhan di Wamena, dia harus bersembunyi di bawah meja seorang mama asal Papua. Karena saat kerusuhan pecah, dia tengah berbelanja di pasar Wamena.

“Kalau tidak ditolong sama mama Papua, nyawa saya pasti sudah melayang. Karena massa benar-benar mengamuk dan menggulingkan berbagai barang dan kendaraan yang ditemui di sekitar pasar itu,” katanya.

Dia pun bersyukur dapat pulang ke Probolinggo, karena ditunggu oleh 2 orang anaknya yang sengaja ditinggalkan untuk mencari nafkah di tanah Papua. “Suami meninggal tahun 2007 lalu. Saya tulang punggung keluarga saat ini. Namun saya tak peduli lagi, yang penting saya sudah bisa pulang,” katanya.

Disebutnya pula bahwa untuk dapat pulang dalam rombongan pertama, dia harus berebut dengan ratusan bahkan ribuan warga Jawa Timur lainnya untuk bisa naik pesawat Hercules TNI. “Di sana masih banyak warga Probolinggo. Semoga yang lain segera menyusul pulang,” sebutnya.

Pulang ke Probolinggo ini menurut Supainah harus mengorbankan banyak hal. “Untuk sampai di Probolinggo ini, sudah banyak yang saya korbankan, termasuk harta benda saya di sana. Tetapi, itu tidak penting lagi. Karena saya selamat saja, itu sudah sebuah mukjizat,” kata Supainah. (tm/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan