Peristiwa

Kades Jorongan: 257 Warga Saya di Pengungsian

PROBOLINGGO – Sejumlah warga Kabupaten Probolinggo yang menjadi pengungsi pasca pecah kerusuhan di Wamena pada Senin (23/9) lalu, secara bertahap dipulangkan.  Mereka dipulangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Namun, tidak sedikit pula warga yang rela pulang dengan biaya sendiri lantaran sudah merasa tak kuat tinggal di pengungsian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Pantura, sedikitnya ada 7 orang warga asal Desa Jorongan, Kecamatan Leces yang memutuskan pulang kampung dengan biaya sendiri. Dari tujuh orang tersebut, 2 diantaranya sudah sampai di tempat tinggalnya di Dusun Krajan.

“Dari hasil pendataan kami, ada sekitar 257 warga Desa Jorongan yang berada di pengungsian. Tujuh orang memutuskan pulang dengan biaya sendiri. Sisanya ada yang menunggu giliran dipulangkan menggunakan pesawat militer, dan sebagian lagi ada yang tetap ingin bertahan di Wamena,” ungkap Kepala Desa Jorongan Masuni, kemarin (2/10).

Dijelaskannya warga yang memutuskan untuk tetap bertahan itu jumlahnya belum bisa dipastikan. Karena saking banyaknya warga Jorongan yang menghubunginya, maka dia belum bisa memastikan berapa jumlah warga yang masih tetap akan mencoba peruntungannya di tanah Papua itu.

“Tetapi mereka yang bertahan menyebut jika mereka sepenuhnya sadar mengambil resiko itu. Dan sebagai antisipasi, mereka mengikutsertakan anak istri mereka dalam rombongan pengungsi yang akan dipulangkan,” jelasnya.

Sebanyak 31 warga Kabupaten Probolinggo telah berhasil dipulangkan dari Wamena, Papua. Mereka dibawa dari kantor Bakorwil Malang dan dikumpulkan di pendopo Kecamatan Dringu, Rabu malam. (Tunjung Mulyono/Koran Pantura)

Lebih jauh Kades Masuni menyebut jika warga Probolinggo yang hendak pulang ke kampung halaman menggunakan beragam moda transportasi baik laut dan udara. Sebagian warga pulang naik pesawat militer dan akan mendarat di Juanda Sidoarjo, Malang, dan Madiun. Ada juga yang laporan kalau rombongan mereka pulang menggunakan kapal laut untuk selanjutya berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

“Mereka sudah putus asa dan memang sudah yakin untuk pulang kampung, karena merasa di sana sudah tidak lagi aman, meskipun pihak berwajib berulang kali menyampaikan situasi sudah kondusif. Namun mereka ibaratnya sudah tak ingin lagi tinggal di Papua,” sebutnya.

Guna mengantisipasi adanya warga yang hilang kontak dengan keluarganya, Kades Masuni terus meminta kepada seluruh perangkat desa dan kepala dusun di wilayah desanya untuk selalu berkoordinasi dengan pihak keluarga yang merasa kerabatnya masih ada di Wamena.

“Setiap perkembangan terus kita pantau, termasuk masalah logistik. Alhamdulillah masih ada dermawan di kabupaten Probolinggo yang mau menyisihkan rejekinya melalui saya untuk kemudian ditransfer ke perwakilan warga Probolinggo di pengungsian,” sebutnya.

Dia memprediksi gelombang kepulangan warga kabupaten Probolinggo dari Papua akan berlangsung hingga akhir pekan ini. Mengingat pemerintah Provinsi Jawa Timur sesuai instruksi Gubernur Khofifah telah menurunkan tim untuk mengawal kepulangan seluruh warganya di pengungsian.

“Semoga tidak ada insiden selama proses pemulangan. Karena saya selalu sedih tiap kali ada warga yang bertanya soal kapan anggota keluarga di Wamena bisa pulang,” ujar Kades Masuni. (tm/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan