Peristiwa

31 Pengungsi Wamena Tiba di Probolinggo

DRINGU – Sebanyak 31 warga asal Kabupaten Probolinggo yang menjadi pengungsi pasca pecah kerusuhan di Wamena, Papua, akhirnya tiba di Probolinggo. Warga dari 6 kecamatan di Kabupaten Probolinggo itu tadi malam tiba di pendopo Kecamatan Dringu, sekitar pukl 20.30.

Puluhan warga itu diangkut oleh 3 mobil dinas milik Pemkab Probolinggo. Setibanya di pendopo Kecamatan Dringu, warga yang berasal dari Kecamatan Dringu, Leces, Bantaran, Sumberasih, Banyuanyar, dan Tegalsiwalan itu langsung didata kembali oleh Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo. Pendataan itu untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal.

“Malam ini kami memulangkan sebanyak 31 orang warga yang menjadi korban kerusuhan Wamena,” ungkap Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo Achmad Arif, Rabu (2/10) malam.

Menurutnya, proses pemulangan puluhan warga kabupaten Probolinggo ini akan dilanjutkan dengan beberapa gelombang selanjutnya. Ini karena armada pengangkut para pengungsi mulai dari Wamena hingga sampai di Jawa Timur masih terbatas. “Untuk pengungsi yang malam ini tiba merupakan pengungsi yang diangkut oleh pesawat hercules TNI dan mendarat di Malang,” jelasnya.

Untuk selanjutnya, Arif menyebutkan bahwa pihaknya akan menyiapkan sejumlah armada angkut khusus untuk menjemput para pengungsi di bandara. Terkait hal itu pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Jawa Timur untuk memastikan jumlah pengungsi yang tiba dan harus dibawa pulang kembali ke kabupaten Probolinggo.

Ratusan warga Jawa Timur dipulangkan dari Wamena, Papua. Sebelum benar-benar pulang ke tempat asal masing-masing, mereka transit di kantor Bakorwil Malang. (Istimewa)

“Kendala kami adalah manifes jumlah pengungsi yang harus dipulangkan dari kabupaten Probolinggo. Jumlahnya masih simpang siur. Tapi, kendala itu tidak akan menyurutkan upaya kami untuk memfasilitasi kepulangan warga daerah kami itu,” jelas Arif.

Salah seorang warga yang berhasil dipulangkan adalah Amin, warga Desa Sumbersuko Kecamatan Dringu. Ia mengaku sangat bahagia setelah menginjakkan kakinya kembali di Jawa. Amin mengaku merasa trauma terhadap kerusuhan yang terjadi di Wamena. Apalagi menurutnya, ia nyaris menjadi korban kerusuhan anarkis yang terjadi pada Senin (23/9) lalu.

“Saya diselamatkan dan disembunyikan oleh warga sekitar pabrik tempat saya bekerja. Trauma itu jelas. Namun tidak semua orang Papua jahat,” terangnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan